Harta bos Signal tembus Rp35 triliun berkat WhatsApp

Kamis, 14 Januari 2021 | 12:22 WIB ET
Brian Acton
Brian Acton

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pada waktu WhatsApp dibeli Facebook di tahun 2014 senilai sekitar US$19 miliar, kedua pendirinya ketiban untung besar sebagai pemegang saham. Salah satunya Brian Acton, Executive Chairman Signal Foundation, yang saat ini menurut Forbes kekayaannya di kisaran US$2,5 miliar atau sekitar Rp 35,2 triliun.

Ya, harta itu dia dapat berkat inovasi membuat WhatsApp bersama rekannya, Brian Acton. Awalnya bergabung dengan Facebook, Acton resign pada tahun 2017 yang diikuti oleh Koum sekitar setahun kemudian.

Mengenai alasannya keluar, Acton mengaku kecewa karena perusahaan semacam Facebook menurutnya mengorbankan privasi user demi mendulang untung. Tapi dia mengakui dulu membiarkan WhatsApp dibeli Facebook agar pegawai WhatsApp lebih makmur.

"Aku punya 50 pegawai dan aku harus memikirkan mereka dan uang yang akan didapatkan dari penjualan itu. Aku harus berpikir tentang para investor dan saham minoritasku. Aku tak punya kuasa penuh untuk mengatakan tidak jika aku mau begitu," papar Acton.

Facebook tentu menargetkan WhatsApp untung besar, salah satu yang ditentang Acton. Dulu, WhatsApp punya model monetisasi di mana user membayar US$1 untuk memakai layanan tiap tahun, tapi bagi Facebook sepertinya uang yang dihasilkan belum cukup.

"Itu bukan cara menghasilkan uang yang luar biasa. Jika kalian punya 1 miliar user, pendapatannya US$1 miliar per tahun. Itu bukanlah yang diinginkan oleh Google dan Facebook. Mereka ingin bermiliar-miliar dolar," tandasnya.

"Motif untuk profit kapitalis atau menjawab Wall Street, itulah yang mendorong invasi data pribadi dan banyak muncul hal negatif yang tidak kita senangi," tambah Acton.

Jadilah dia keluar dan bergabung ke Signal. Tak sekadar gabung, Acton mengucuri dana US$50 juta pada Signal agar layanan messaging ini cepat melesat. Dia didapuk menjadi Executive Chairman di Signal Foundation.

Sekadar catatan, WhatsApp menggunakan protokol open source milik Signal untuk melakukan enkripsi end to end sehingga pesan hanya dapat dibaca oleh pengirim dan penerimanya.

Bergabungnya Acton besar dampaknya bagi Signal, baik dengan dana, pengalaman dan keahliannya. Moxie Marlinspike selaku pendiri Signal pun meyakini sudah saatnya Signal menjadi semakin mainstream, kian banyak digunakan orang.

Fitur-fiturnya pun makin lengkap, di samping reputasi sebagai salah satu layanan messaging yang dianggap paling aman. Beragam fitur anyal misalnya dukungan buat iPad, video yang bisa terhapus sendiri setelah dilihat, sampai sticker custom yang dapat di-download.

Fitur semacam itu mungkin tak menarik bagi fans berat Signal selama ini. Tapi Acton memandangnya perlu untuk menarik orang-orang dari kalangan umum yang ingin Signal punya banyak fungsi seperti WhatsApp atau Facebook Messenger tanpa mengabaikan soal keamanan.

"Jadi, Signal bukan cuma untuk peneliti sekuriti paranoid, tapi juga untuk massa. Sesuatu untuk setiap orang di dunia," sebut Acton beberapa waktu silam.

Acton tak menyembunyikan ambisi agar Signal dapat meraksasa. Pengalamannya membesarkan WhatsApp jelas membantu mencapai keinginan tersebut.

"Aku ingin Signal bisa mencapai miliaran pengguna. Saya tahu apa yang dibutuhkan untuk melakukannya, saya sudah pernah mencapainya. Saya ingin itu terjadi dalam lima tahun ke depan atau kurang," cetus Acton.

Dia juga pernah menyebut WhatsApp telah berubah lantaran ditinggal kedua pendirinya. "Kupikir identitas WhatsaApp memang sudah hilang dan itu dikarenakan para pendirinya sudah pergi," sebut Acton. kbc10

Bagikan artikel ini: