Saham farmasi terdongkrak kehadiran vaksin, ini yang harus dilakukan investor

Jum'at, 15 Januari 2021 | 15:38 WIB ET
CEO Astronacci International, Gema Goeyardi,
CEO Astronacci International, Gema Goeyardi,

SURABAYA, kabarbisnis.com: Mulai dilakukannya vaksinasi Covid-19 secara nasional rupanya membuat saham-saham yang bergerak di bidang farmasi terus bergerak. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), belakangan ini harga sejumlah saham emiten farmasi terus bergerak naik.

PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) misalnya, melesat 9,55% ke posisi Rp 2.180/saham. Ada lagi saham dari anak usaha PT Biofarma (Persero), yakni PT Indofarma (Persero) Tbk (INAF) dan PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) yang juga ikut-ikutan naik. Saham INAF melesat 8,4% ke Rp 6.775/saham walaupun pada penutupan 14 Januari turun di angka Rp 6.050/saham. Nilai transaksi saham INAF mencapai  Rp245,15 miliar. Adapun investor asing mencatat net sell Rp4,46 miliar.

Angka ini sejatinya cukup tinggi, karena pada akhir 2020, INAF masih nangkring di angka Rp 4030/saham. Tidak ketinggalan Kimia Farma (KAEF) sempat melonjak ke angka ke Rp 6.975/saham pada 12 Januari 2021, sebelum akhirnya turun ke angka Rp 6050/saham dua hari kemudian. Berdasarkan data,  KAEF juga mengalami menglami kenaikan yang cukup tinggi. Pasalnya pada akhir 2020 saham ini harganya masih Rp 4250. 

Kenaikan fantastis juga dialami oleh PT Itama Ranoraya (IRRA) yang telah menguat dari level  Rp 1.700 menjadi Rp 3.700 sepanjang bulan ini. Akibat kenaikan yang cukup tinggi, yaitu lebih dari 100 persen, membuat (IRRA) terkena suspensi akibat adanya indikasi unusual market activity (UMA).  Sentimen ini bertambah negatif, dengan adanya revisi laporan keuangan  oleh managemen IRRA yang  diam-diam melakukan perubahan laporan keuangan secara signifikan periode Juni dan September 2020.

Mengutip laporan keuangan yang diterbitkan IRRA di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Rabu (13/1/2021), IRRA terpantau melakukan revisi sebanyak 1 kali untuk laporan keuangan paruh pertama 2020. Pada laporan keuangan yang dipublikasikan 30 Juli 2020, aset perusahaan selama semester pertama 2020 mencapai Rp 270,52 miliar, dan berubah menjadi Rp 270,29 miliar pada revisi yang diterbitkan 11 Desember 2020. Kabarnya terdapat dua emiten farmasi yang dinilai dapat menyusul terkena penghentian sementara perdagangan akibat terlalu tingginya aktivitas pasar. 

Saatnya take profit 

Menanggapi fenomena booming saham farmasi, CEO Astronacci International, Gema Goeyardi, MM, CFI, CFII, MEII, IGI, CAT, CWAM, CFTe, MFTA, CSA menuturkan, secara valuasi fundamental rata-rata saham farmasi atau consumer farmasi sudah overvalued (lebih tinggi dari harga aslinya). Dengan demikian, waktunya bagi para trader untuk mengambil peluang profit taking dalam jangka pendek.

Hal ini terlihat dimana pada 13 Januari 2021 new moon phase mulai aksi jual. Gema menyebut, saat melihat chart tergambar semua apa yang akan terjadi di market. Mungkin harapannya dengan adanya Presiden Jokowi divaksin, saham farmasi ikut naik.

"Asumsi yang kita pikir belum tentu dengan kenyataan market. Nah pada kenyataanya seperti yang dilakukan oleh para influencer, salah satu cirinya semakin harga naik, maka influencer saham ini akan mendorong public untuk beli, sehingga harga naik, padahal dia sendiri keluar. Ini tentu melakukan penipuan kepada publik,” kata Gema dalam keterangan tertulis, Jumat (15/1/2021).

Berbicara tentang emiten farmasi, Gema yang menggunakan metoda Financial Astrology dan Fibonacci ditambah dengan data secara fundamental menyebut secara valuasi fundamental memang rata-rata sudah overvalue karena mendapat sentimen vaksinasi dan euforia investor menyambut hal tersebut.

Banyak yang menyebut Euforia vaksinasi Covid-19 membuat membuat sentimen investor terhadap saham-saham farmasi hanya akan berlangsung sementara. Apalagi ditambah influencer saham dari public figure yang tanpa dibekali keilmuan dan data yang akurat kerap menjadi penyebab keresahan masyarakat. Karena hal itu sejatinya adalah hanya sebuah pump and down atau yang kerap disebut pom-pom saham (memanipulasi harga saham tanpa ilmu dan analisa secara empiris untuk disebarkan kepada publik)

“Hal itu tentu menyesatkan, karena mereka berbicara saham tanpa data, tanpa analisa yang tepat. Itu sudah merupakan penggiringan opini tanpa data dan OJK akan bertindak,” ungkapnya mengenai fenomena ini.

Dia berharap agar pihak terkait dalam hal ini OJK maupun Bursa Efek Indonesia sebagai lembaga resmi pemerintah dapat menertibkan fenomena influencer saham dari public figure

Sehingga dia menyarankan agar para investor yang sudah mendapatkan profit dari saham-saham farmasi untuk melakukan take profit hingga 1 minggu ke depan. Pasalnya bila tidak dilakukan dikhawatirkan akan kehilangan momen untuk mendapatkan keuntungan yang sudah ditunggu sejak tahun lalu dari saham bidang farmasi.

Hal ini berdasarkan analisis Astronacci International, mengungkapkan Saham KAEF berpeluang untuk melemah ke area support Rp5,400. Meski begitu, saham KAEF masih bergerak di dalam trend Bullish walaupun dalam waktu yang masih lama.  Mengingat untuk sementara saham KAEF dalam kondisi jenuh beli (overbought) dikonfirmasi dengan indikator stochastic yang telah bersilangan ke arah bawah di area overbought.

Begitu juga saham INAF berpeluang untuk melemah ke area support Rp5,000. Serupa dengan KAEF, saham INAF pn masih bergerak di dalam trend bullish. Untuk sementara saham INAF dalam kondisi jenuh beli (overbought) dikonfirmasi dengan indikator stochastic yang telah bersilangan ke arah bawah di area overbought.

Bagaimana dengan BUMN Farmasi? Saham KLBF baru saja breakout dari masa sideways yang panjang mengikuti saham-saham farmasi lainnya. Untuk sementara saham KLBF berpeluang melemah ke area support Rp1,435 yang merupakan reaksi dari penguatan di hari sebelumnya. Momentum untuk saham KLBF masih cenderung netral karena indikator Stochastic berada di antara area overbought dan oversold.

Sementara untuk saham IRRA, memiliki pergerakan positif terhadap saham KAEF dan INAF yang ini saat ini menyentuh harga rekor tertinggi. Dengan kenaikan yang sangat signifikan, saham IRRA untuk sementara dalam kondisi jenuh beli (overbought) sehingga mengalami koreksi dalam 2 hari terakhir dengan support harga Rp 3180. Meski demikian, saham IRRA ini bergerak di dalam trend Bullish dengan target di harga Rp 4700.

"Dengan demikian, peluang kenaikan harga saham farmasi masih terbatas. Sehingga bila terjadi penurunan karena para investor telah melakukan aksi profit taking pada jangka pendek dalam beberapa waktu. Karena mereka memang booming saham dari farmasi akibt efek vaksin Covid-19 sudah melewati puncaknya saat ini,” pungkas Gema Goeyardi. kbc10

Bagikan artikel ini: