2020, kinerja PT Terminal Teluk Lamong positif

Selasa, 19 Januari 2021 | 11:30 WIB ET

SURABAYA - Kendati dihimpit masa pandemi, kinerja PT Terminal Teluk Lamong (TTL) selama 2020 secara umum mengalami peningkatan. Catatan positif itu terlihat dari angka trafik kapal yang sandar, angkutan peti kemas, curah kering mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya. Untuk itu, tahun ini TTL tetap optimis bisa menggenjot kinerjanya. 

Direktur Utama Terminal Teluk Lamong, Faruq Hidayat, menjelaskan kinerja PT Terminal Teluk Lamong dapat dinilai sangat luar biasa dengan mampu bertahan dan membukukan laba diatas target perusahaan meski ditengah pandemi Covid-19. 

Faruq Hidayat telah mengambil beberapa kebijakan untuk mendongkrak bisnis kepelabuhanan ditengah kondisi pandemi Covid-19. “Pada sisi harga dan pembayaran, kami memberikan perpanjangan waktu pembayaran tagihan pelayanan jasa kapal dan menunda proses penyesuaian harga bongkar curah kering," jelasnya

Kebijakan terkait perpanjangan waktu penumpukan petikemas import juga diberlakukan. Pada petikemas empty waktu penumpukan didalam pelabuhan diperpanjang dari 3 hari menjadi 7 hari sedangkan untuk petikemas bermuatan waktu diperpanjang dari 3 hari menjadi 5 hari. 

“Melalui kinerja positif pada tahun 2020, kami berharap TTL dapat terus meningkatkan kinerja ditahun-tahun selanjutnya. Strategi pemasaran, leadership, operasi prima dan peningkatan pelayanan kepada pelanggan, menjadi  kunci utama pencapaian Terminal Teluk Lamong. Terminal Teluk Lamong memastikan akan terus menjaga layanan operasional selama 24 jam dalam 7 hari (24/7) sebagai wujud komitmen kami untuk menjaga kelancaran logistik Indonesia,” terang Faruq Hidayat. 

Sementara itu Direktur Operasi dan Teknik TTL, Warsilan mengatakan, berdasarkan catatan trafik kapal, baik kapal petikemas maupun curah kering mengalami peningkatan. Di antaranya untuk trafik kapal (kapal yang sandar di TTL) hingga Desember 2020 tercatat sebanyak 1.178 unit  dengan total berat 17.222.455 Gross Ton (GT). “Jumlah tersebut naik 7 persen dibanding periode yang sama tahun 2019 sebanyak 1.105 unit dengan total berat 16.786.524 GT,” terang Warsilan. 

Trafik kapal peti kemas juga mengalami kenaikan sebesar 7 % dari 1.029 unit (13.540.737 GT) menjadi 1.101 unit (13.941.759 GT) pada tahun 2020. Jumlah tersebut didominasi oleh kapal domestik yang meningkat 19% dibanding tahun lalu. Tahun 2019 kedatangan kapal domestik mencapai  753 unit (6.020.436 GT) naik menjadi 840 unit (7.176.668 GT) pada 2020. 

Kenaikan serupa juga tercatat di trafik kapal curah kering sebesar 1% dibanding tahun 2019. Pada tahun 2019 tercatat ada 76 unit (3.245.787 GT)  naik menjadi 77 unit kapal (3.280.696) GT di tahun 2020. 

Peningkatan jumlah kapal yang sandar menunjukkan kinerja TTL yang tetap prima di tengah pandemi. “Terminal Teluk Lamong sebagai pelabuhan otomasi dan ramah lingkungan sangat siap dalam menghadapi kondisi pandemi yang berat bagi dunia usaha karena kinerja kami menunjukkan angka positif,” imbuh Direktur Operasi & Teknik TTL. 

Disebutkan, kenaikan jumlah kapal yang sandar menunjukkan stabilitas perekonomian nasional. Sebab, arus kapal di Terminal Teluk Lamong didominasi oleh kapal domestik. Infrastruktur dan teknologi merupakan salah satu komponen penting dalam memajukan industri maritim sehingga Terminal Teluk Lamong sangat mumpuni untuk melayani kapal domestik dan internasional. 

Direktur Operasi dan Teknik TTL, Warsilan menambahkan, untuk jumlah muatan diakui terjadi penurunan pada muatan kapal petikemas dan curah kering pada tahun 2020. Arus petikemas tahun 2020 turun 5% menjadi 678.208 TEUs dari tahun sebelumnya. 

Penurunan terjadi akibat jumlah petikemas internasional yang turun 13% menjadi 296.896 TEUs dari 372.936 TEUs pada tahun 2019. Jumlah muatan petikemas domestik tahun 2020 tercatat naik 2 % menjadi 381.312 TEUs dibandingkan dengan 2019 yang hanya 372.936 TEUs. Senada dengan jumlah muatan petikemas, arus curah kering hingga Desember 2020 turun 3% menjadi 2.787.182 Ton dibandingkan dengan tahun 2019. 

Warsilan mengungkapkan bahwa pandemi mempengaruhi proses produksi barang di beberapa kota dan negara. Sehingga proses pergerakan barang di pelabuhan juga mengalami perubahan pola yang berdampak pada kinerja pelabuhan. 

Pada arus barang internasional terjadi penurunan yang cukup tinggi karena mayoritas kapal dan barang yang masuk ke Terminal Teluk Lamong berasal dari Asia Timur salah satunya Cina. Sebagai negara dengan penyebaran pandemi pertama di dunia, pasokan barang dari dan ke negara tersebut sempat terhenti sehingga mempengaruhi jumlah barang yang masuk dan keluar dari Indonesia.

Bagikan artikel ini: