Importir enggan diwajibkan bermitra dengan petani tanam kedelai

Rabu, 20 Januari 2021 | 22:26 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) meminta agar pemerintah tidak memberikan beban kepada para importir kedelai untuk membina para petani lokal dalam membudidayakan kedelai. Pasalnya, para importir tidak memiliki kapasitas dalam mengelola budidaya pertanian.

"Kita tahu importir ini tidak punya ahli-ahli pertanian, tiba-tiba diwajibkan untuk membina petani. Di mana logikanya?" kata Ketua Akindo, Yusan dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi IV DPR, Rabu (20/1/2021).

Yusan mengatakan para importir adalah pedagang sehingga hanya memiliki keahlian dalam menjual produk. Upaya lebih yang bisa dilakukan yakni mencari alternatif agar proses bisnis dapat lebih efisien sehingga harga jual kedelai dapat lebih rendah.

"Kita ahli menjual, mencari efisiensi. Kalau dibebani bina petani itu suatu hal tersendiri bagi para pedagang. Kita bingung juga kenapa harus kita yang bertanggung jawab," kata Yusan menambahkan.

Lebih lanjut, dia menegaskan kedelai memiliki permintaan dari para pengrajin tahu dan tempe maupun konsumen di Indonesia.Karena itu, ada para importir kedelai yang memfasilitasi permintaan tersebut.

Yusan pun mengingatkan jika nantinya importir diwajibkan bermitra dengan petani, tentunya akan ada biaya produksi yang dibebankan baik kepada petani maupun konsumen.

"Kalau komoditas ini dibebankan (ke importir) cost untuk pembinaan petani, pembibitan, pupuk, kemana pedagang bebankan ini? tentu ke produsen dan konsumen," ujarnya.

Kementerian Pertanian telah memfasilitasi operasi pasar kedelai dengan harga lebih rendah dan meminta adanya kerja sama antara importir dengan petani kedelai. Itu ditujukan untuk mendorong produksi dalam negeri sehingga bisa menjadi substitusi impor.

Dirjen Tanaman Pangan Suwandi menambahkan, yang terpenting juga adalah bekerja sama dengan Badan Litbang pertanian untuk meningkatkan produktivitas. Adapun rata-rata produktivitas kedelai saat ini 1,5 ton per hektare dan harus ditingkatkan menjadi 2 ton per hektare melalui riset benih unggul dan teknologi budi daya. kbc10

Bagikan artikel ini: