Erick khawatir mobil listrik bakal ganggu bisnis SPBU Pertamina

Kamis, 21 Januari 2021 | 10:38 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri BUMN Erick Thohir menilai pembangunan industri mobil listrik dan baterai listrik bakal mengganggu bisnis bahan bakar minyak (BBM) PT Pertamina (Persero). Begitu juga dengan sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang tersebar di seluruh Indonesia.

"EV battery akan berdampak dengan bisnis Pertamina," ucap Erick saat rapat bersama Komisi VI DPR di Gedung DPR/MPR, Rabu (20/1/2021).

Namun demikian, dia menilai dampaknya tidak terasa dalam waktu singkat. Erick mengestimasikan dampak pembangunan industri mobil dan baterai listrik mungkin baru terasa sekitar 20 tahun lagi ketika penggunaannya sudah masif.

Sementara untuk jangka pendek, dia menilai Pertamina dan jaringan SPBU-nya mungkin masih bisa memetik keuntungan. Asal, fungsi SPBU dialihkan menjadi stasiun pengisian bahan bakar berbasis listrik, misalnya untuk mengisi daya baterai listrik.

"20 tahun yang akan datang, ketika semua memakai mobil listrik yang harganya lebih murah, itu tentu orang banyak charging di rumah, tidak lagi di pom bensin. Nah, 80 persen itu akan melakukan itu, pom bensin mau tidak mau akan terdampak," jelasnya.

Namun di sisi lain, menurutnya, hal ini memang mau tidak mau harus dilakukan. Sebab, kehadiran mobil dan baterai listrik membuat Indonesia akan maju secara teknologi dan tentunya ramah lingkungan karena lebih rendah emisi.

Sebelumnya, Menteri ESDM Arifin Tasrif menargetkan pemakaian mobil listrik di dalam negeri mencapai 125 ribu unit pada 2021. Sementara pengguna motor listrik ditargetkan 1,34 juta unit.

Hal tersebut tercantum dalam Roadmap Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) serta Proyeksi Kendaraan Listrik hingga 2030. kbc10

Bagikan artikel ini: