Tanpa swasta, target bauran energi baru terbarukan 23 persen bakal sulit dicapai

Kamis, 28 Januari 2021 | 19:17 WIB ET

JAKARTA,, kabarbisnis.com: Target bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23% pada 2025 diprediksi akan sulit tercapai.Pasalnya, merujuk rendahnya realisasi yang telah dicapai hingga saat ini.

Ketua Komisi VII DPR Sugeng Suparwoto menuturkan Indonesia membutuhkan tambahan 14.087 MW EBT untuk mencapai target tersebut.Untuk itu ,Indonesia juga membutuhkan investasi senilai US$34 miliar atau Rp 480 triliun (kurs Rp14.119/US$) untuk proyek-proyek EBT. "Tingkat ketercapaianya berat, sehingga perlu dilakukan langkah luar biasa," kata Sugeng dalam MGN Summit 2021 Sustainable Energy, Kamis (28/1/2021).

Dengan target tersebut, Sugeng juga menghitung setiap tahun Indonesia perlu menarik investasi US$6,8 miliar atau Rp 96 triliun setiap tahunnya. Apalagi dalam situasi global yang diselimuti awan hitam pandemi maka bukanlah hal yang mudah menjaring investasi sebesar itu.

Kesempatan sama Head of the Department of Economics Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri mengamati selama 2015 hingga 2019 investasi di sektor EBT hanya mencapai Rp 10 triliun. Jumlah ini berbeda jauh dengan investasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang dilakukan PLN sekitar Rp 50 triliun.

"Kelihatan sekali jomplangnya antara satu dan yang lainnya. Tentunya ini sulit untuk mencapai target bauran energi kalau masih seperti itu," ujar Yose.

Untuk mencapai target bauran EBT 23%, membutuhkan kenaikan kapasitas EBT sebesar 12,5% per tahun. Akan tetapi, selama lima tahun belakangan ini, kenaikan kapasitas EBT hanya 6,5%.

"Kesenjangannya masih sangat besar sekali. Apakah memang mungkin kita mengubah arah dari yang tadinya kurang, menjadi jauh lebih cepat lagi?" tuturnya.

Menurutnya, investasi untuk pembangunan kapasitas EBT menjadi penting. Apabila melihat tren dunia, 60% lebih pengembangan EBT dilakukan pihak swasta.

Yose memandang Indonesia seharusnya mengikuti tren dunia tersebut. Dia menyarankan pemerintah menciptakan regulasi serta struktur industri, yang mendukung keterlibatan swasta dalam peningkatan EBT tadi.

Adapun Presiden Direktur PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) Hilmi Panigoro menilai tanpa langkah luar biasa, pengembangan EBT tidak akan bisa mencapai target yang diinginkan.Hilmi pun melihat tidak mungkin seluruh pengembangan kapasitas EBT dilakukan negara.Menurutnya kunci pengembangan EBT dalah bagaimana negara dapat menarik investasi masuk.

Adapun berdasarkan catatan International Renewable Energy Agency (IRENA) pada 2018, estimasi jumlah dana EBT internasional yang tersedia adalah US$271 miliar. "Regulasi masih bisa diperbaiki. Karena pengusaha ini makhluk yang sangat simpel, berikan kami pendapatan yang wajar, maka kami akan berkompetisi, berlomba-lomba berinvestasi," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: