Kemendag beri sinyal harga tahu dan tempe bakal kembali terkerek

Senin, 1 Februari 2021 | 20:39 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Perdagangan (Kemendag) memberikan sinyal harga tahu dan tempe di dalam negeri akan kembali terkerek. Itu merupakan efek dari kenaikan harga kedelai dunia yang terjadi sejak pertengahan tahun lalu dan masih berlangsung hingga saat ini.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Syailendra mengatakan berdasarkan data Chicago Board of Trade, harga kedelai dunia pada Desember 2020 masih US$13,12 per bushels untuk kontrak penyediaan Januari 2021.Namun sekarang harga kedelai telah naik lagi sebesar 4,42% menjadi US$13,7 per bushels.

Kenaikan itu membuat harga kedelai impor di tingkat perajin tahu dan tempe yang secara umum masih berada di kisaran Rp 9.100 sampai dengan Rp 9.200 per kg berpotensi naik jadi Rp 9.500 per kg.Kalau perkiraan itu benar terjadi, dia menyebut harga tahu yang sebelumnya Rp 600 per potong akan naik menjadi Rp 650 per potong.

Sementara itu untuk tempe, harganya bisa naik dari Rp 15.000 menjadi Rp 16.000 per kilogram. "Penyesuaian harga tahu dan tempe merupakan hal yang tak bisa dihindari sebab mayoritas kebutuhan kedelai masih dipenuhi dari impor dan dipengaruhi pergerakan harga kedelai dunia yang berdampak pada harga bahan baku kedelai untuk tahu dan tempe di Indonesia," kata Syailendra di Jakarta, Senin (1/2/2021).

Dia menambahkan, agar kenaikan itu bisa dikendalikan, Kementerian Perdagangan akan terus memantau dan mengevaluasi pergerakan harga kedelai dunia baik ketika terjadi penurunan ataupun kenaikan harga.

Itu dilakukan demi memastikan harga kedelai di tingkat perajin tahu dan tempe masih dalam tingkatan yang wajar. Selain itu, pihaknya juga mengimbau para importir untuk terus memasok kedelai secara teratur dan berkelanjutan kepada perajin tahun dan tempe.

"Diharapkan produksi tahu dan tempe tetap terus berjalan dan masyarakat masih tetap mendapatkan tahu dan tempe dengan harga terjangkau," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: