Permintaan BBM diprediksi kian menyusut, ini strategi Pertamina

Rabu, 3 Februari 2021 | 11:10 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Pertamina (Persero) tengah melakukan transisi menuju energi baru terbarukan (EBT), seiring dengan prediksi bakal menurunnya konsumsi bahan bakar minyak (BBM) pada masa mendatang.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, permintaan dan konsumsi minyak dunia diperkirakan akan turun dari 110 juta barel per hari pada saat ini menjadi sekitar 65 - 73 juta barel per hari pada 2040.

Oleh karenanya, Pertamina akan mengantisipasi hal itu dengan menjalankan inisiatif strategis untuk pengembangan green energy sekaligus mendukung target pemerintah dalam pengembangan energi baru terbarukan.

“Kami melihat bagaimana international oil company lain juga merespons ini. Intinya agenda untuk menurunkan gas rumah kaca, carbon emission, ini menjadi agenda dari seluruh oil company di seluruh dunia," ujar Nicke dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (2/2/2021).

Agenda strategi yang pertama ialah mengembangkan energi listrik dengan monetisasi aset panas bumi melalui Independent Power Producer (IPP) untuk mengembangkan 1,3 GW proyek panas bumi serta IPP berbasis surya di area dengan iradiasi matahari tinggi dan menjalin kemitraan strategis untuk pembuatan sel surya.

Namun, dalam jangka pendek Pertamina akan fokus dalam penerapan Solar PV di lingkungan Pertamina Group melalui sinergi antara subholding dan captive market di BUMN.

Kedua, lanjut Nicke adalah optimalisasi penggunaan energi ramah lingkungan untuk mobilitas di sektor transportasi dengan mendukung pemerintah melaksanakan mandatori Biodiesel 30 persen (B30), Green Refinery, dan Co Processing CPO.

Pertamina juga disebut tengah menyiapkan produksi baterai melalui kemitraan dengan penyedia teknologi baterai dan BUMN serta menyediakan infrastruktur pengisian daya untuk mobil listrik.

“Inisiatif kita melakukan transisi dari fossil fuel ke bio energy ini dapat menurunkan gas rumah kaca. Dari hasil studi, ini bisa menurunkan gas karbon monoksida maupun emisi dari gas hidrokarbon antara 20 hingga 50 persen emisi,” kata Nicke.

Lalu, agenda ketiga, mengupayakan bahan bakar dengan optimalisasi sumber energi lain yang tersedia di dalam negeri, salah satunya dengan melakukan gasifikasi batubara kadar rendah menjadi Dimethyl Ether (DME) untuk subtitusi elpiji dalam rangka mengurangi impor dan menghasilkan energi yang lebih bersih.

Dalam masa transisi, Pertamina mengembangkan sejumlah proyek gas sebagai energi transisi antara fuel dan new renewable energy.

Untuk gas, Nicke menyebutkan, pihaknya mengembangkan gas untuk transportasi, household yang target yang ditetapkan pemerintah membangun 30 juta jaringan gas (city gas) di tahun 2050.

Oleh karena itu, tambah Nicke, syarat penting untuk meningkatkan pemanfaatan gas, yakni mengembangkan teknologi-teknologi hilirisasi gas.

Diperkirakan kebutuhan gas akan mencapai 10,5 BSCFD pada tahun 2050, yang porsinya adalah 92 persen dari konsumsi gas nasional.

“Pemanfaatan gas mempunyai posisi yang penting saat ini, karena gas merupakan sumber energi transisi yang menjadi jembatan antara conventional energy dan renewable energy,” ucapnya. kbc10

Bagikan artikel ini: