Tergencet pandemi Covid-19, ekonomi Jatim 2020 terkontraksi 2,39 persen

Jum'at, 5 Februari 2021 | 17:24 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pandemi Covid-19 telah berdampak cukup dalam terhadap kinerja ekonomi Jawa Timur sepanjang 2020. Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim merilis, pertumbuhan ekonomi Jatim tahun 2020 terhadap tahun 2019 terkontraksi sebesar 2,39 persen. 

Kepala BPS Jatim, Dadang Hardiwan mengungkapkan, masih terkontraksinya ekonomi Jatim karena tiga sektor ekonomi yang menjadi kontributor utama Jatim, yaitu sektor industri pengolahan, perdagangan dan pertanian masih belum bisa bergerak cepat. Sektor pertanian yang pada triwulan sebelumnya masih mampu tumbuh baik juga mengalami kontraksi di triwulan IV akibat siklus tanam.

"Dari sisi produksi, sebagian besar lapangan usaha mengalami kontraksi. Beberapa lapangan usaha yang masih tumbuh tinggi adalah Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 9,83 persen, diikuti Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 8,70 persen, serta Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang sebesar 5,03 persen. Peningkatan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur secara c-to-c cukup signifikan terjadi pada Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 9,83 persen," ujar Dadang  saat conferensi pers yang digelar secara virtual, Surabaya, Jumat (5/2/2021).

Kondisi ini terutama didorong adanya pemberlakuan WFH (Work From Home) dan SFH (School From Home) sehingga meningkatkan trafik data provider seluler serta meningkatnya penggunaan aplikasi rapat virtual seperti Zoom Meeting, seminar daring/webinar juga turut mendukung kinerja ekonomi Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi.

Struktur perekonomian Jawa Timur menurut lapangan usaha Tahun 2020 didominasi oleh tiga lapangan usaha utama yaitu Lapangan Usaha Industri Pengolahan dengan kontribusi sebesar 30,69 persen, perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 17,92 persen, serta pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 11,90 persen.

"Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhannya, Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi memiliki sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 0,58 persen, diikuti Jasa Pendidikan sebesar 0,11 persen, serta Pertanian, Kehutanan dan Perikanan sebesar 0,09 persen.

Adapun perekonomian Jatim  berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku tahun 2020 mencapai Rp 2.299,46 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 1.610,42 triliun.

Ia juga menegaskan, sebagian besar komponen PDRB menurut pengeluaran mengalami kontraksi. Komponen yang masih tumbuh adalah komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) 0,23 persen dan Ekspor Luar Negeri 10,06 persen. 

"Pertumbuhan komponen LNPRT sepanjang tahun ini dipicu oleh kampanye dan pelaksanaan pemilihan umum serentak yang terjadi pada tanggal 9 Desember 2020 dan kegiatan keagamaan. Sedangkan ekspor luar negeri dipengaruhi ekspor unggulan Jawa Timur antara lain perhiasan/permata, kayu, barang dari kayu, tembaga dan perabot rumahtangga," ujar Dadang 

Komponen yang mengalami kontraksi terdalam yaitu Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang mencapai -4,31 persen, disusul Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 3,18 persen; Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga 0,83 persen; dan Impor Luar Negeri sebagai komponen pengurang terkontraksi sebesar 9,22 persen.

Terkontraksinya komponen PMTB dipengaruhi oleh realisasi semen dan belanja modal turun. Disamping itu karena pandemi covid-19, diberlakukannya PSBB menjadikan ruang gerak masyarakat terbatas. 

Struktur PDRB Jawa Timur menurut pengeluaran atas dasar harga berlaku tahun 2020 tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Aktivitas permintaan akhir masih didominasi oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga yang mencapai lebih dari separuh PDRB Jawa Timur (60,82 persen), komponen lain yang memiliki peranan besar terhadap PDRB Jawa Timur berturut-turut adalah PMTB (28,17 persen), Ekspor Luar Negeri (13,78 persen), Pengeluaran. kbc6

Bagikan artikel ini: