Kontraksi 2,07 persen, ekonomi RI terburuk sejak 1998

Jum'at, 5 Februari 2021 | 17:44 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 mengalami kontraksi 2,07% secara year on year. Kepala BPS Suhariyanto menuturkan kontraksi ini dipengaruhi oleh pelemahan di berbagai sektor ekonomi akibat imbas pandemi Covid-19.

Suhariyanto mengatakan, hal ini merupakan kontraksi ekonomi pertama Indonesia sejak krisis moneter 1998. Bedanya, kata Suhariyanto, pada 1998, ekonomi RI kontraksi karena krisis ekonomi, sementara di 2020 lebih disebabkan faktor pandemi. "Untuk pertama kalinya Indonesia mengalami kontraksi sejak 1998. Pada 1998 karena krisis moneter dan 2020 mengalami pandemi," kata Suhariyanto dalam keterangan pers secara virtual di Jakarta, Jumat (5/2/2021).

Berdasarkan struktur PDB RI, di tahun 2020 hanya ada tujuh sektor yang mengalami pertumbuhan positif. Itu pun masih cenderung melambat dibanding tahun sebelumnya, terkecuali sektor telekomunikasi, keuangan dan asuransi, serta kesehatan dan kegiatan sosial.

"Untuk jasa kesehatan dan kegiatan sosial tumbuh 11,6 % lebih tinggi dibanding pertumbuhan di 2019. Ini karena ada kenaikan pendapatan rumah sakit dan laboratorium serta klinik yang berhubungan dengan Covid-19," kata Suhariyanto.

Pada tahun 2020, Pembentukan Modal Tetap Bruto mengalami kontraksi terdalam hingga 1,63%. Sementara konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi -1,43%, konsumsi LNPRT -0,05%, konsumsi pemerintah 0,15%, dan lainnya 0,89%. Dilihat dari sisi pengeluaran, sebagian besar masih minus.

Hanya konsumsi pemerintah yang mencatat pertumbuhan itupun hanya 1,94%. Sisanya masih mengalami kontraksi yakni pengeluaran konsumsi rumah tangga (-2,63%), pengeluaran konsumsi LPNRT (-4,29%), Pembentukan Modal Tetap Bruto/PMTB (-4,95%), ekspor (-7,70%), impor (-14,71%).

Meski mengalami kontraksi, kondisi Indonesia bisa dikatakan masih lebih baik dari sejumlah negara lain yang juga tumbang dihantam pandemi Covid-19. Beberapa negara, mengalami gelombang kedua wabah sehingga hal itu memukul perekonomian masyarakat. Amerika Serikat misalnya, mengalami kontraksi hingga 3,5 %.

Tak beda dengan Uni Eropa. Lembaga resmi negara setempat mengumumkan Uni Eropa mengalami kontraksi 6,4 persen. Sedangkan negara-negara di Asia seperti Hong Kong mengalami kontraksi dalam mencapai 6,1%. Singapura kontraksi 5,8 % dan Korea Selatan kontraksi 1,01%.

Tercatat hanya dua negara yang saat ini mengumumkan pertumbuhan positif, yakni China dan Vietnam. "Di kuartal IV, penyebaran Covid-19 masih tinggi dan sulit diturunkan. Ini terjadi tidak hanya di Indonesia tapi di hampir seluruh negara. Kondisi ini menyebabkan beberapa negara Eropa yang mengalami second wave menerapkan lockdown," tandas dia.

Adapun pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuaral IV/2020 (Q4) mengalami minus 2,19% secara tahunan atau year on year (yoy) atau minus 0,42 % secara kuartalan (qtq).Suhariyanto mengatakan pertumbuhan ekonomi RI pada Q4 ini memang lebih baik dari Q4 yang mencatat minus 3,49 %. Namun, kata dia perbaikan yang terjadi belum sesuai harapan karena laju pertumbuhan ekonomi RI masih berada di zona merah alias negatif."Ada perbaikan meski belum sesuai harapan,karena itu kita perlu melakukan evaluasi apa yang perlu diperkuat," ujar Suhariyanto.

Secara umum, struktur penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV/2020 tidak berubah. Suhariyanto memaparkan ada lima sektor yang memberikan kontribusi, yaitu manufaktur, perdagangan, pertanian, konstruksi dan pertanian.

Data BPS menyebutkan ada sepuluh sektor yang menyumbang kontraksi di kuartal IV, misalnya sektor transportasi dan pergudangan yang tumbuh minus 0,64%. Ada juga sektor industri pengolahan yang terkontraksi atau tumbuh minus 0,61%. "Ke depan, perlu dievaluasi lagi agar pemulihan ekonomi Indonesia bisa berjalan sesuai harapan," tandas Suhariyanto.

Dari sisi pengeluaran, sumber pertumbuhan ekonomi kuartal IV/2020 didorong oleh konsumsi pemerintah sebesar 0,18%. Sementara itu, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menjadi pemberat sepanjang kuartal IV/2020. Dengan catatan pertumbuhan kuartal IV/2020 ini sekaligus menjadi tanda bahwa ekonomi RI belum keluar dari resesi.

Indonesia dinyatakan resmi masuk jurang resesi setelah ekonominya mengalami dua kali kontraksi berturut-turut yakni pada kuartal II/2020 yang tumbuh minus 5,39%, dan kuartal III/2020 yang minus 3,49 %.kbc11

Bagikan artikel ini: