Indef sebut penurunan suku bunga belum manjur dorong laju kredit

Senin, 8 Februari 2021 | 14:41 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2020 mengalami minus 2,07 persen akibat pandemi Covid-19 yang turut mempengaruhi kegiatan ekonomi masyarakat. Namun, catatan ini membaik dari kontraksi kuartal per kuartal yang terjadi di tahun 2020.

Kepala Center of Macroeconomics and Finance pada Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengatakan, dalam upaya memperbaiki pertumbuhan ekonomi Indonesia, pemerintah merealokasi anggaran dan memaksimalkan stimulus Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang turut menjadi senjata pemerintah untuk meningkatkan konsumsi dan kredit. Namun, kebijakan tersebut sejauh ini masih belum optimal.

"Padahal dari sisi kebijakan fiskal dah dicoba diturunkan. Jadi 3,75 persen (suku bunga acuan). Kalau normal harusnya pembentukan kapital langsung terbentuk cepat, tapi di tengah pandemi nggak berikan kontribusi signifikan," ujar Rizal dalam Konferensi Pers Indef bertajuk "Covid-19 meningkat, ekonomi melambat", Minggu (7/2/2021).

Rizal memperkirakan, masih terdapat kebijakan yang tidak distimulasi dengan optimal sehingga pengusaha dan konsumen tidak merespon penurunan suku bunga acuan. Karena tidak ada respon, maka permintaan tidak kunjung naik, terlebih suku bunga kredit terus diturunkan hingga menyentuh angka hampir 11 persen dan justru dinilai memperdalam kontraksi pertumbuhan ekonomi 2020.

"PMTB (Pembentukan Modal Tetap Bruto) dengan dorongan BI rate ditekan mestinya pembentukan modalnya justru lebih tinggi. Anehnya di 2020 dengan ditekan BI Rate pembentukan modal tidak terjadi secara besarannya tidak sesuai diharapkan," ucap Rizal.

Dia menyebut, daya beli yang saat ini masih lemah ditambah kasus Covid-19 yang bertambah dan sulit dikendalikan membuat efektivitas penurunan suku bunga ini tidak bekerja dengan maksimal.

"Suku bunga kredit konsumsi juga diturunkan ditambah juga insentif untuk dorong supply demand driven, dengan berbagai insentif bansos untuk dorong demand driven malah negatif juga. Ini tentu permasalahannya ada di daya beli. Ditambah dengan Covid-19 yang semakin berkecamuk," kata dia. kbc10

Bagikan artikel ini: