Angkat "Taqlid Digital", mahasiswa S2 UINSA kritisi munculnya ketokohan agama di dunia maya

Sabtu, 13 Februari 2021 | 17:55 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Rasa senang dan puas tampak di wajah Moh. Fail mahasiswa pascasarjana Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya, setelah berhasil mempertahankan karya ilmiahnya berjudul, "Taqlid Digital" dalam sidang melalui daring di UIN Sunan Ampel Surabaya.

Ketua sidang, Dr. Ghozi, Lc, M.Fil.I dengan anggota penguji, Dr. Aniek Nurhayati, M.Si, Dr. Mukhlisin Saad, M.Ag, Dr. Suhermanto Ja'far, M.Hum. Menurut Fail, taqlid digital merupakan fenomena masyarakat menganut pemahaman Islam melalui digital. "Data primer saya mengambil dari youtube dan twitter. Kontennya tentang begitu banyaknya masyarakat menganut informasi dari digital," kata Fail di Surabaya, Sabtu (13/2/2021).

Data sekundernya lanjut Fail, klarifikasi beberapa literasi diantaranya, buku tafsir al-Qur'an di medsos dan saring sebelum sharing oleh Nadirsyah Hosen, Islam Digital oleh Agus Mustofa, Islam Digital Ekspresi Islam di Internet oleh Moch Fakhruroji, buku Islamic Studies oleh Amin Abdullah dan beberapa buku lain. 

"Saya baca fenomena masyarakat digital dengan teori komunikasi Harold Lasswell, teknologi komunikasi Martin Heidegger dan beberapa pemikir lain. Intinya, taqlid digital merupakan integrasi antara agama dengan sains dan teknologi," kata wartawan asli Gresik tersebut. 

Fail menjalani profesi dan karir akademik begitu unik. Tahun 1990 lulus S1 Fakultas Ushuluddin jurusan Filsafat di Universitas Islam Nengeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Setelah lulus bergabung di Jawa Pos Group selama 25 tahun menjadi wartawan.  

Tahun 2015 bergabung di   STIAMAK perguruan tinggi milik Pelindo III. Pejabat Pelindo III dengan wartawan asli Gresik ini tidak asing lagi. Karena posting liputan bisnis di lingkungan Pelindo III Group sejak 1990. Dipercaya sebagai kepala humas dan marketing. Tahun ketiga diminta mengisi jam kuliah bidang agama Islam. Karena ada ketentuan administrasi akhirnya harus kuliah S2. "Atas dorongan dan dukungan teman-teman di STIAMAK, saya masuk S2 di UIN Sunan Ampel," kata Fail.

Meski usia sudah 55 tahun dia tetap semangat mengikuti kuliah sebagaimana mahasiswa umumnya. Fail sempat guncang ketika masuk program tesis, karena bersamaan masa pandemi Covid 19. Kegiatan kampus tutup secara offline.

 

Semua kegiatan dilaksanakan secara daring. Wartawan dengan jam terbang rata-rata 150km per hari ini tidak menyerah dan konsultasi tesis terus berjalan. "Seminggu terakhir saya lembur dari pagi sampai malam di kampus dan tuntas," katanya. Judul tesisnya sangat milenial, "Taqlid Digital Pada Era Post Truth Dan Implikasinya Dalam Bertauhid".  

Fail mencoba mengawinkan antara agama dengan sains dan teknologi. Beberapa tokoh filsafat dan pemikir Islam dilibatkan dalam membaca fenomena tersebut. Relasi dan integrasi agama dengan sains dan teknologi Tantawi Jauhari, Amin Abdullah, Hassan Hanafi dan beberapa pemikir lainnya. Intinya, semua peristiwa teknologi informasi saya telaah dari banyak pandangan," kata Fail. 

Menurut Fail, taqlid digital tidak bisa dihindari. Masyarakat awam menjadikan smartphone sebagai guru ngaji. Tokoh-tokoh panutan muncul di dunia maya seperti, ustad Abdul Somad, ustad Adi Hidayat atau buya Yahya. "Masing-masing memiliki pengikut diatas 2 juta follower. Juga ulama lain menjadi digandrungi melalui youtube atau twitter," pungkas Fail.kbc6

Bagikan artikel ini: