Industri otomotif jadi katalis pemulihan ekonomi nasional

Jum'at, 19 Februari 2021 | 20:58 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Insentif relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang akan dilakukan secara bertahap mulai Maret 2021, dan regulasi relaksasi kredit mobil Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diyakini akan mampu mengangkat minat beli masyarakat.

Bukan hanya itu,kebijakan diproyeksi akan mendongkrak utilisasi dan kinerja industri otomotif. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita bahkan optimistis mengandalkan industri otomotif sebagai katalis positif pertumbuhan ekonomi.

"Sektor ini telah menyumbangkan nilai investasi sebesar Rp 99,16 triliun, dengan total kapasitas produksi mencapai 2,35 juta unit/tahun dan menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 38.390 orang," ujar Agus di Jakarta, Jumat (19/2/2021).

Saat ini, terdapat 22 perusahaan industri kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang mencari peruntungan di Tanah Air. Ke depan, jumlahnya diprediksi akan terus bertmbah.

Sejauh ini, total nilai investasi yang telah digelontorkan sebesar Rp 10,05 triliun, dengan kapasitas produksi mencapai 9,53 juta unit per tahun dan menyerap tenaga kerja hingga 32.000 orang. "Bahkan, dari sektor otomotif ini memberikan dampak luas kepada lebih dari 1,5 juta orang yang bekerja di sepanjang rantai nilai industri tersebut," terangnya.

Menurutnya, industri otomotif berperan penting dan strategis sehingga dimasukkan dalam roadmap Making Indonesia 4.0 yang mendapat prioritas pengembangan dalam implementasi industri 4.0. Asal tahu saja, produk kendaraan bermotor produksi dalam negeri telah mampu menembus pasar ekspor ke lebih dari 80 negara di dunia.

Pada 2020, ekspor kendaraan bentuk utuh atau Completely Bulit Up (CBU) sebanyak 232.170 unit yang senilai Rp 41,73 triliun.

Sedangkan, pengapalan untuk kendaraan rakitan atau Completely Knock Down (CKD) sebanyak 53.030 set atau senilai Rp 1,23 triliun. Sementara untuk komponen tercatat sebanyak 61,2 juta pieces atau senilai Rp 17,52 triliun.

"Seiring program Making Indonesia 4.0, sektor industri kendaraan bermotor nasional ditargetkan akan menjadi pemain global," ujar Menperin.

Dia meyakini Indonesia akan menjadi ekspor hub kendaraan bermotor. Baik untuk kendaraan berbasis bahan bakar minyak atau internal combustion engine (ICE) maupun kendaraan listrik atau electrical vehicle (EV).

Salah satu strateginya, lanjut Agus dilakukan dengan membangun ekosistem untuk industri EV. Dimulai dengan penguasaan kemampuan manufaktur sepeda motor listrik, lalu kemampuan manufaktur baterai dan mobil listrik yang sesuai dengan tren global.

Pemerintah sendiri, tegas Agus telah meluncurkan berbagai kebijakan atau stimulus untuk sektor ini guna mendongkrak kembali produktivitas, penjualan dan daya saing industri otomotif nasional yang terdampak pandemi korona. Misalnya, insentif penurunan pajak penjualan barang mewah atau PPnBM untuk kendaraan bermotor pada segmen kendaraan di bawah 1500 CC, yaitu untuk kategori sedan dan 4x2.

"Langkah ini dilakukan karena pemerintah ingin meningkatkan kembali pertumbuhan industri otomotif. Sehingga tetap menjadi sektor berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional," ujarnya.

Pemberian insentif PPnBM tersebut akan dilakukan secara bertahap selama sembilan bulan, dengan masing-masing tahapan akan berlangsung selama tiga bulan.Insentif PPnBM sebesar 100% dari tarif akan diberikan pada tahap pertama, lalu diikuti PPnBM sebesar 50% dari tarif yang akan diberikan pada tahap kedua, dan insentif PPnBM 25% dari tarif akan diberikan pada tahap ketiga.

"Besaran insentif ini akan dilakukan evaluasi setiap tiga bulan. Kebijakan ini diyakini akan mendorong permintaan industri otomotif," pungkasnya.

Di kesempatan terpisah, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto berharap insentif fiskal dan moneter dapat meningkafkan utilisasi industri otomotif. Menurutnya, utilisasi industri otomotif pada tahun lalu menurun imbas Covid-19.

Kinerja ekspor juga turun drastis, namun kian membaik di kuartal akhir yang tumbuh lebih dari 180 % jika dibandingkan dengan kuartal kedua 2020. Menko Airlangga menambahkan, pemerintah juga berupaya untuk mempercepat Pelabuhan Patimban, Kabupaten Subang, Jawa Barat, demi mendorong dan menompang industri otomotif, yang diharapkan biaya logistik bisa lebih bersaing dan ekspor meningkat.

Pemerintah juga mengeluarkan peta jalan (roadmap) otomotif yang didorong berbasis sustainability dan ramah lingkungan, salah satunya adalah kendaraan listrik (EV). Ada juga insentif fiskal untuk kendaraan ramah lingkungan berbasis listrik (BEV) dengan PPnBM sebesar 0%.

"Alokasi anggaran PEN targetkan Rp 688,3 triliun, pemerintah berusaha mendukung pemulihan ekonomi dengan penanganan lebih baik di sisi kesehatan, dan diperkirakan pertumbuhan ekonomi bisa dijaga di 4,5-5,5%," kata Menko .kbc11

Bagikan artikel ini: