Tindaklanjuti aturan PPnBM nol persen, Mendag siap lobi pabrikan otomotif di Tokyo

Senin, 22 Februari 2021 | 11:11 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menindaklanjuti pemberlakuan insentif Pajak Penjualan Barang atas Barang Mewah atau PPnBM sebesar nol persen, pemerintah bakal melakukan pendekatan ke sejumlah pabrikan otomotif di Jepang.

Lobi pemerintah dengan industri kendaraan bermotor dilakukan untuk pemberian insentif tak berhenti, melainkan dilanjutkan dengan upaya lebih jauh dalam mendongkrak produksi dan menjual mobil di dalam negeri.

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengaku bakal terbang ke Tokyo, Jepang, dalam waktu dekat. Ia berencana melakukan sejumlah lobi dengan petinggi industri otomotif di sana.

"Saya akan samperin pabriknya satu-satu," kata Lutfi seperti dikutip, baru-baru ini.

Sebagai mantan Duta Besar RI di Jepang, Lutif masih berteman dekat dengan beberapa koleganya di sana. Salah satunya, kata Lutfi, kepala Mitsubishi Motor di Jepang yang merupakan bekas Kepala Mitsubishi Motor di Jakarta. Lalu ada juga kepala Daihatsu di Osaka, Jepang yang masih jadi kolega Lutfi.

Sebelumnya pada 11 Februari 2021, pemerintah telah memberikan insentif PPnBM untuk menggenjot industri otomotif di Tanah Air. Potongan pajak diberikan untuk mobil 1.500 cc ke bawah dalam tiga skema yaitu 100 persen (Maret-Mei 2021), 50 persen (Juni-Agustus 2021), dan 25 persen (September-November 2021).

Pemerintah, kata Lutfi, pada dasarnya ingin kebijakan ini cepat diumumkan karena pabrikan Jepang sudah menyiapkan rencana tahunan mereka pada April 2021. Lutfi khawatir, ketika pabrikan otomotif ini akan menyetop produksi dan menutup pabriknya saat melihat stok mobil di Indonesia masih tinggi.

Jika hal itu terjadi, Lutfi khawatir, kegiatan produksi mobil-mobil seperti Pajero, Expander, hingga Fortuner, akan dipindahkan dari Indonesia ke Thailand. "Ini bakal jadi masalah baru. Sudah jatuh ketiban tangga," kata dia.

Sehingga, lahirlah kebijakan PPnBM nol persen untuk menggenjot penjualan mobil. Sementara nanti di Tokyo, Lutfi akan mengajukan permintaan kepada para koleganya tersebut. "Saya kepingin kalau boleh minta alokasi untuk bisa mengekspor mobil-mobil mereka itu 120 ribu ke Australia," kata Lutfi.

Sebagai gambaran, nilai ekspor otomotif dari Indonesia mencapai US$6,6 miliar. Dari hitungannya, jika lobi tersebut dipenuhi oleh pabrikan Jepang, maka ada tambahan nilai ekspor sekitar US$4 miliar. "Jadi mudah-mudahan US$10 miliar tahun ini datang dari industri otomotif," kata dia. kbc10

Bagikan artikel ini: