Potensi konversi lahan sawah capai 90.000 Ha per tahun

Senin, 22 Februari 2021 | 20:25 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kebutuhan pemukiman dan bisnis menyebabkan areal lahan pertanian kian tergerus. Eksistensinya semakin terancam. Kementerian Agraria dan Tata Ruang dan Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) menyebutkan potensi konversi lahan sawah mencapai 90.000 hektare (ha) setiap tahunnya.

Direktur Pengendalian Hak Tanah, Alih Fungsi Lahan, Kepulauan dan Wilayah Terluar Kementerian ATR/BPN Asnawati mengungkapkan alih fungsi lahan sawah menjadi non sawah untuk kawasan pemukiman dan industri per tahun mencapai 150.000 ha.Sementara kemampuan cetak sawah baru hanya mencapai sebanyak 60.000 ha per tahun.

"Cetak sawah baru, jika kami bandingkan dengan alih fungsi lahan sawah ke non-sawah yang terjadi, jauh dari kata seimbang. Dengan sendirinya di sini akan ada potensi kehilangan lahan sawah 90.000 ha per tahunnya," ujar Asnawati dalam diskusi virtual, Senin (22/2/2021).

Asnawati menerangkan, pertambahan jumlah penduduk menyebabkan kebutuhan lahan untuk kawasan pemukiman terus meningkat. Padahal di sisi lain, sawah menjadi kunci untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.

"Hal ini menimbulkan kerentanan lahan sawah nasional. Maka perlunya pengendalian alih fungsi lahan sawah sebagai kegiatan yang mendapatkan perhatian serius dari pemerintah," ujarnya.

Selain pertambahan penduduk, banyaknya sawah yang beralih fungsi untuk pemukiman sendiri tak lepas dari beberapa faktor. Pertama ketersediaan air yang cukup melimpah. Kedua akses jalan menuju lokasi yang sudah adan. Ketiga adanya petani yang bisa dialihdayakan menjadi tenaga kerja.

"Mengapa sawah paling banyak alih fungsi? Perlu kami sampaikan bahwa ketertarikan investor membidik lahan sawah sebagai kawasan pembangunan karena tiga hal mendasar ini," tutur Asnawati.

Kasubdit Pengendalian Alih Fungsi Lahan Kementerian ATR Vevin Syoviawati Ardiwijaya menuturkan alih fungsi lahan sawah diprediksi akan semakin besar setelah implementasi Undang-undang Cipta Kerja.Pasalnya, masuknya modal asing untuk pembangunan infrastruktur yang membutuhkan banyaknya lahan akan semakin besar. Namun dia belum bisa memperkirakan berapa hektare potensi pertambahan alih fungsi lahan akibat omnibus law.

"Sebelum UU Cipta Kerja ini terbit sudah ada indikasi penurunan lahan sawah 150.000 hektare per tahunnya dengan UU ini tentu saja alih fungsi lahan semakin besar lagi karena banyak sekali PSN dan kepentingan umum yang dibangun di sawah," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: