Iklim investasi RI terendah di Asean, ini strategi Kementerian ESDM

Selasa, 23 Februari 2021 | 13:36 WIB ET
Nanang Abdul Manaf
Nanang Abdul Manaf

SURABAYA, kabarbisnis.com: Di tengah terus meningkatnya konsumsi minyak dan gas bumi (migas), pasokan dari industri sektor ini dari dalam negeri terus menipis, dan ironisnya investasi baru juga disebut kurang menarik di mata investor. Hal ini ditandai dengan menurunnya investasi serta tidak tercapainya target investasi di sektor ini.

Meski demikian, pemerintah terus berupaya ekstra untuk pemenuhan energi Indonesia, dimana saat ini Indonesia berada di fase energy transition, yaitu peralihan dr fosil energy menuju green energy. Dan itu terjadi dalam waktu cepat, antara 5 hingga 10 tahun. 

Beberapa perusahaan energi besar dunia pun telah melakukan langkah transisi untuk masuk ke green energy. Di Indonesia, pemerintah mencanangkan energy transisi di tahun 2030 pemakaian energi fosil masih dominan dalam bauran energi yaitu sekitar 40 persen, dan di 2050 sekitar 36 persen. 

"Melihat hal itu, menunjukkan bahwa kebutuhan akan energi fosil masih dominan dan butuh upaya yang luar biasa untuk memenuhi kebutuhan tersebut," kata Nanang Abdul Manaf, Tenaga Ahli Komisi Pengawas SKKMigas pada Media Gathering PT Pertamina EP Asset 4 bersama Pemimpin Redaksi Media di Jatim, Senin (22/2/2021). 

Nanang yang juga Tenaga Ahli di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan bahwa eksplorasi itu penting, mengingat setiap barel produksi minyak dimulai dari satu new field wildcat well. "Tanpa eksplorasi jangan berharap ada cadangan migas baru,"  jelasnya. 

Nanang bilang, disadari atau tidak, Easy Oil Era sudah habis, dan kini industri hulu migas dihadapkan dengan sejumlah tantangan, dianbtaranya produksi migas yang terus menyusut, area eksplorasi yang berada di frontier area, hingga waktu komersialisasi penemuan eksplorasi yang terlalu lama. "Selain itu investor kurang tertarik untuk eksplorasi di Indonesia, sehingga perlu upaya breakthrough untuk mempermudah investasi," ujarnya.

Dikatakan Nanang, investasi migas untuk eksplorasi memang membutuhkan biaya sangat besar yakni bisa mencapai triliunan rupiah. Maka dari itu perlu fiscal terms yang aktraktif, regulasi dan politik yang stabil. 

"Saat ini Indonesia memiliki basin atau cekungan potensi migas sebanyak 128. Sebanyak 20 basin sudah berproduksi, 27 basin di bor dengan penemuan, kemudian 13 basin di bor tanpa penemuan dan sisanya 68 Basin belum di eksplorasi," ujar Nanang Abdul Manaf. 

Namun demikian, 70% cadangan migas berada di wilayah perairan. Tantangannya sangat besar salah satunya biaya yang dibutuhkan mencapai US$80 juta hingga US$100 juta, dan tingkat pengembalian atau internal rate of return (IRR) yang rendah serta periode eksplorasi pendek. 

Menurut dia, lead time atau waktu dari discovery ke produksi pertama di Indonesia antara 8 - 26 tahun tergantung dari jenis lapangannya. Rata-rata Lead Time Indonesia sekitar 10,5 tahun. 

"Tentunya kondisi tersebut yang mempengaruhi investor untuk melakukan eksplorasi di Indonesia," kata Nanang. 

Yang mengejutkan, lanjut dia, iklim investasi migas Indonesia menduduki peringkat terendah diantara negara di Asean. Berdasarkan survei Policy Perception Index 2016 menunjukkan bahwa peringkat investasi migas di Indonesia menduduki peringkat 79, kalah jauh dibanding negara Asean lain. Seperti Brunei Darussalam yang menduduki peringkat 31, Vietnam ke 38, Malaysia dengan 41, Thailand 42, Fillipina ke 52, Myanmar 67, bahkan Kamboja yang peringkat 72.

Kurang menariknya investasi di Tanah Air juga terlihat dari sepinya pminat lelang wilayah kerja (WK) migas dalam dua tahun terakhir.

Maka dari itu, Kementerian ESDM menyiapkan strategi untuk meningkatkan daya tarik investasi eksplorasi migas, antara lain dengan meningkatkan Prospectivitas Eksplorasi Migas, juga meningkatkan iklim investasi melalui pendekatan fiskal, memberikan kepastian regulasi, serta menjaga stabilitas politik dan keamanan.

"Dengan strategi tersebut diharapkan Indonesia bisa keluar dari situasi kritis untuk peningkatan investasi untuk memenuhi gap kebutuhan energy Indonesia ditengah fase transisi energy menuju era green energy," ujar Nanang. 

Sementara itu, sebagai salah satu perusahaan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang mengupayakan energi fosil, Pertamina EP Asset 4 tetap berupaya memenuhi kebutuhan energi nasional, salah satunya dengan tetap melakukan aktifitas eksplorasi guna menjaga ketersediaan energi hingga puluhan tahun ke depan. 

"Kami di Pertamina EP tetap optimis untuk ketersediaan energi Indonesia, dan kami komitmen untuk terus melakukan eksplorasi, salah satunya yang sedang disiapkan sumur Eksplorasi Kasuari Emas di wilayah Kabupaten Bojonegoro," ujar Deddy Syam, Asset 4 General Manager PT Pertamina EP.

Deddy juga menambahkan bahwa melalui kegiatan eksplorasi tersebut membuahkan hasil temuan cadangan yang besar sehingga dapat memperpanjang masa energi fosil di Indonesia. 

"Dengan aktifitas eksplorasi, kami berharap pertamina akan sustain dan terus beroperasi memenuhi kebutuhan energi di Indonesia," ujar Deddy. kbc7

Bagikan artikel ini: