Hindari jebakan kelas menengah, Mendag Lutfi beberkan kisi-kisinya

Sabtu, 6 Maret 2021 | 00:41 WIB ET
Mendag Muhammad Lutfi
Mendag Muhammad Lutfi

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengatakan, Indonesia memiliki batas waktu atau deadline 17 sampai 18 tahun lagi untuk menjadi negara maju. Jika tidak mampu direalisasikan,  Indonesia bakal masuk perangkap pendapatan kelas menengah atau middle income trap.

"Orang Indonesia akan jadi bangsa tua pada 2038 atau sampai terlama 2040. Jadi kalau kita tidak bisa graduate dalam 17-18 tahun ke depan maka Indonesia kaan stuck di kelas menengah atau yang disebut jebakan kelas menengah," kata Lutfi dalam Rapat Kerja Nasional XVII HIPMI 2021 di Jakarta, Jumat (5/3/2021).

Untuk menghindarinya, Lutfi membeberkan ada dua hal besar yang harus dilakukan Indonesia . "Apa yang mesti kita kerjakan? Jadi kita mesti mengerjakan beberapa hal di mana untuk mengembangkan GDP (Produk Domestik Bruto) ini ada beberapa pilarnya. Pertama adalah investasi," ujar Lutfi.

Terkait hal ini, Lutfi mengacu pada Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang merupakan salah satu komponen penyusun Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan merepresentasikan besaran investasi. Pada 2018 kontribusi PMTB ke struktur PDB Indonesia sebanyak 34%.

Sayangnya kontribusi PMTB terhadap PDB RI di 2020 melorot menjadi 31%. Padahal untuk membuat ekonomi Indonesia tumbuh tinggi, maka investasi harus berkontribusi sekitar 39% sampai 40% dengan trajectory growth (lintasan pertumbuhan) sebesar 7,3% per tahun.

"Artinya apa? Artinya kita tidak bisa membedakan antara investasi lokal atau internasional. Lokal sama internasional saja tidak bisa dibedakan, apalagi investasi yang datang dari satu negara ke negara yang lain," tuturnya.

Karena itu pemerintah gencar mengundang investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Salah satu langkahnya adalah dengan membuat Undang-Undang Cipta Kerja. "Ini penting, bahwa untuk Indonesia maju medannya akan terbuka, investasinya. Oleh sebab itu kita mesti bersaing, bukan antarprovinsi satu pengusaha, tapi kita mesti bersaing sebagai kelas dunia. Ini yang mesti kita kerjakan," tegasnya.

Kunci kedua adalah manufaktur, dalam hal ini berasal dari perdagangan hingga akhirnya menjadi barang primadona nonmigas untuk ekspor. Adapun kontribusi manufaktur terhadap PDB pada tahun lalu sekitar 22%.

Namun untuk menjadi negara maju, kontribusi sektor manufaktur RI harus naik menjadi 32% dengan trajectory growth 7,8% per tahun. Sementara untuk ekspor dan impor Indonesia yang pada tahun lalu hanya sekitar 33%-34%, harus didorong menjadi 54%.

"Sekarang ekonomi kita ini ditopang oleh konsumsi, ditopang oleh pembelanjaan, gaya hidup. Hampir 59% datangnya dari konsumsi. Sebab itu agar ekspor impor kita tinggi, kita mesti membuka pasar untuk kita bisa menjual lebih. Enggak bisa hanya mau jual saja tetapi enggak mau membeli, karena kita masuk dalam global value chain. Jadi kita mesti bersaing, bukan antara kita, tapi juga dengan pelaku-pelaku ekonomi internasional," pungkas Lutfi.kbc11

Bagikan artikel ini: