Kepolisian sebut terdakwa tak akui kesalahan transfer BCA saat penyidikan

Sabtu, 6 Maret 2021 | 16:41 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Kasus salah transfer yang terjadi di PT Bank Central Asia Tbk atau BCA telah masuk ke meja hijau.

Ardi Pratama yang kini menjadi terdakwa di Pengadilan Negeri Surabaya tidak mengakui adanya kesalahan transfer uang senilai Rp51 juta di rekening BCA miliknya saat proses penyelidikan hingga penyidikan di kepolisian setempat.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya AKBP Oki Ahadian Purwono mengenang laporan perkara salah transfer BCA ini masuk pada sekitar Agustus 2020 lalu.

"Sebelum kami melakukan penyelidikan, terlebih dahulu dilakukan mediasi yang mempertemukan pelapor dengan terlapor," katanya di Surabaya, Jumat (5/3/2021).

Pelapor perkara ini adalah Nur Chusaima, karyawati BCA yang kini sudah purnabakti atau pensiun.

Pada 11 Maret 2020, saat bekerja di BCA Kantor Cabang Pembantu Citraland Surabaya, perempuan yang kini berusia 56 tahun itu melakukan kesalahan "input" data saat mentransfer uang senilai Rp51 juta, sehingga nyasar ke rekening milik Ardi Pratama.

Kesalahannya baru diketahui 10 hari kemudian dan pada saat itu, ketika pihak BCA menagih agar dikembalikan, Ardi telah menghabiskan seluruh uang yang masuk di rekeningnya.

Sementara Ardi berdalih uang senilai Rp51 juta yang masuk ke rekeningnya dan telah dihabiskan untuk keperluan pribadi adalah komisi dari pekerjaannya sebagai makelar penjualan mobil.

Menurut AKBP Oki, pemuda yang tinggal di Jalan Manukan Lor Surabaya itu tetap mempertahankan argumentasinya tersebut selama proses penyelidikan hingga penyidikan.

"Sebelumnya saat dilakukan proses mediasi dengan pelapor memang menjanjikan akan mengembalikan uang salah transfer senilai Rp51 juta itu, tapi tidak ada realisasinya," ujarnya.

Polisi kemudian menyimpulkan mediasi dengan beberapa kali pertemuan antara pelapor dan terlapor tidak menghasilkan titik temu, sehingga melanjutkan ke tingkat penyelidikan hingga penyidikan dan akhirnya menetapkan Ardi sebagai tersangka.

Ardi sendiri ditahan sejak 26 November 2020. Proses hukumnya kini telah dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Surabaya dan menjadikannya sebagai terdakwa.

Bapak tiga anak yang semuanya masih berusia di bawah lima tahun (balita) itu didakwa Pasal 85 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2011 tentang Transfer Dana dan Pasal 327 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penggelapan, dimana ancaman hukumannya lima tahun penjara atau denda paling banyak Rp5 miliar. kbc10

Bagikan artikel ini: