Banyak pesawat di RI bermasalah, perawatan kurang maksimal?

Senin, 15 Maret 2021 | 10:30 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Sejumlah pesawat milik maskapai nasional mengalami berbagai kendala baik sebelum terbang hingga saat terbang, di awal tahun 2021 ini. Kondisi ini mengharuskan maskapai return to base atau kembali ke bandara awal untuk dilakukan pengecekan.

Pada 17 Februari 2021, maskapai Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 642 dari Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar tujuan Bandara Djalaluddin, Gorontalo mengalami masalah mesin saat mengudara, sehingga pesawat tersebut terpaksa harus kembali mendarat ke Makassar.

Kemudian, pesawat Batik Air dengan nomor penerbangan ID-6803 rute Jambi-Jakarta mendadak harus mengalami Return To Base (RTB) pada Sabtu 6 Maret 2021. Pilot memutuskan untuk kembali ke bandar udara keberangkatan dikarenakan ada salah satu indikator menyala di ruang kokpit (yang memberitahukan atau menunjukkan) kemungkinan ada kendala teknis (technical reason).

Kejadian terbaru, pesawat Citilink dengan kode penerbangan QG776 terpaksa kembali ke Bandar Udara (Bandara) Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) sesaat setelah lepas landas dari bandara berkode CGK tersebut, Jumat (12/3). Kembalinya pesawat Citilink QG776 ke Bandara Soekarno-Hatta akibat adanya gangguan pada tekanan udara di kabin pesawat.

Pengamat penerbangan Gatot Raharjo menuturkan, dalam hal perawatan pesawat, baik pihak maskapai ataupun Kementerian Perhubungan sejatinya sudah memiliki SOP yang berstandar internasional. Hanya saja, dia sedikit mencemaskan tak maksimalnya perawatan imbas dari pandemi Covid-19. Tak maksimalnya ini karena kondisi keuangan maskapai yang tengah terpuruk hingga faktor SDM.

"Apa semua (perawatan pesawat) sudah dilaksanakan dengan baik dan benar? Soalnya hampir semua maskapai dan regulator SDM nya tidak 100 persen seperti sebelum pandemi," katanya seperti dikutip, Sabtu (13/3/2021).

Soal SDM, kata Gatot, pola kerja Work from Office (WFO) menjadikan inspektur yang melakukan pengecekan serta perawatan pesawat harus kerja bergantian sesuai jadwal.

"Soalnya inspektur juga manusia, ada yang takut juga kerja di lapangan. Mereka tidak tiap hari masuk, ada jadwalnya. Jadi tidak 100 persen kayak sebelum pandemi. Sementara di maskapai, SDM juga dikurangi. Bahkan ada pilot yang sampai 7 bulan tidak terbang, padahal dia harus check kesehatan tiap 6 bulan," tambahnya.

Saat ini, industri penerbangan menjadi salah satu faktor penting dalam pemulihan sektor pariwisata nasional. Sedangkan sektor pariwisata sendiri, diharapkan menjadi motor pemulihan ekonomi nasional. Untuk itu, Gatot berharap, meski pandemi belum usai, perawatan pesawat bisa dilakukan lebih maksimal. kbc10

Bagikan artikel ini: