Kadin Jatim bahas kerjasama pariwisata dan perdagangan permata dengab Sri Lanka

Rabu, 17 Maret 2021 | 19:25 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com:: Berjalannya program vaksinasi di Indonesia memberikan angin segar bagi para pengusaha, termasuk di Jawa Timur. Mereka mulai tancap gas dengan melakukan berbagai pertemuan dengan sejumlah pihak, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Salah satu pertemuan yang dilakukan oleh Kadin Jatim adalah dengan Duta Besar Sri Lanka untuk Indonesia dan ASEAN, H.E. Yasoja Gunasekera yang digelar secara virtual pada hari Selasa (16/3/2021) yang dihadiri oleh Ketua Umum Kadin Jatim, Adik Dwi Putranto, Wakil Ketua Umum WKU) Kadin Jatim Perdagangan Internasional Tomy Kayhatu, WKU Kadin Jatim Bidang Jaringan Antar Pulau Diar Putra Kusuma, WKU Kadin Jatim Bidang Logistik Hengky Pratoko dan sejumlah WKU Kadin Jatim lainnya. Dalam kesempatan tersebut, kedua belah pihak membahas tentang kerjasama ekonomi dalam berbagai sektor, salah satunya adalah sektor pariwisata dan perdagangan.

Adik mengatakan, Jatim memiliki potensi yang sangat besar dalam banyak sektor. Pariwisata misalnya, Jatim memiliki banyak destinasi wisata alam maupun budaya yang sangat menarik, diantaranya Banyuwangi dengan Gunung Ijen dan sejumlah pantainya yang sangat indah, Gunung Bromo dengan pemandangan alam dan lautan pasirnya, Sumenep yang memiliki pulau dengan oksigen terbersih kedua di dunia dan Trowulan Mojokerto yang sarat dengan budaya Budha dan situs ataupun peninggalan jaman Majapahit.

"Walaupun masih pandemi, kami sudah menyiapkan paket perjalanan untuk wisatawan mancanegara 18 hari keliling Jatim. Kami sedang menyiapkan beberapa tempat yang layak dikunjungi, mulai dari Banyuwangi, Bromo, Madura hingga Mojokerto, bekerjasama dengan expert dari Belanda. Expert ini juga memiliki agen wisata di Belanda, kami juga telah lama menjalin kerjasama dengan PUM Netherland dalam berbagai kegiatan, mulai dari pendampingan sektor agribisnis hingga peningkatan kinerja UMKM," terang Adik panjang lebar.

Harapannya, ketika sektor pariwisata bangkit, akan berdampak positif pada banyak sektor turunannya, mulai dari perhotelan, UMKM hingga sektor agro dan lainnya sehingga ekonomi bisa kembali berjalan. Terlebih Jatim adalah salah satu provinsi yang menjadi penyumbang ekonomi terbesar kedua nasional. "Kami optimis, pada triwulan II/2021 nanti ekonomi Jatim sudah bisa kembali berlari," tegas Adik.

Menanggapi hal tersebut, H.E. Yasoja Gunasekera merasa kagum dan percaya jika Jatim akan mampu kembali bangkit dan berlari lebih cepat. Dia juga menyatakan ketertarikannya pada sektor pariwisata Jatim, termasuk dengan paket perjalanan 18 hari keliling Jatim yang sudah dijelaskan Adik. Menurutnya, Jatim dengan Sri Lanka memiliki banyak kesamaan dari sisi budaya Budha. Di Sri Lanka, sebagian besar penduduknya menganut agama Budha. Di sana juga banyak terdapat destinasi budaya Budha seperti Kandy.

"Ini bisa dijadikan peluang kerjasama tourism travel kedua negara. Masyarakat Jatim juga banyak yang menganut Budha dan Sri Lanka juga sehingga orang Sri Lanka juga bisa belajar budaya Budha di Jatim. Dan Pariwisata ini bisa dijadikan langkah pertama untuk membangun hubungan di sektor bisnis lain," kata Yasoja Gunasekera.

Dia juga tertarik kerjasama sektor perdagangan, khususnya perdagangan permata. Selama ini, ujar Yasoja, banyak pebisnis Sri Lanka yang berkunjung ke Surabaya menjual permata yang digunakan sebagai bahan pembuatan perhiasan. Hanya saja, hubungan tersebut terbatas business to business perseorangan dan tidak ada landasan kerjasama jangka panjang. Terlebih Jatim juga memiliki potensi besar dalam sektor perhiasan sementara Sri Lanka memiliki potensi permata yang sangat besar.

Mendengar keinginan tersebut, Adik mempersilahkan dan sangat senang dengan tawaran tersebut. Kolaborasi ini nantinya akan bisa meningkatkan kinerja perdagangan perhiasan dan permata Jatim yang sejauh ini telah menjadi salah satu komoditas ekspor utama Jatim dengan kontribusi cukup besar. Data Badan Pusat Statistik Jatim menunjukkan, ekspor komoditas perhiasan dan permata sepanjang Januari hingga Februari 2021 mencapai US$ 196,503 juta dengan kontribusi sebesar 7,43 persen.

"Pertemuan ini akan ditindaklanjuti dengan pertemuan berikutnya dan pembahasan akan lebih difokuskan pada per sektor dengan mempertemukan pengusaha yang sejenis yang bersangkutan, mulai dari sektor pariwisata hingga perhiasan," pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: