Empat pilar MPR harus jadi bingkai rumusan Peta Jalan Pendidikan

Kamis, 18 Maret 2021 | 03:15 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pendidikan adalah pondasi bagi masa depan bangsa. Untuk itu, persoalan pendidikan harus mencerminkan jiwa bangsa Indonesia, yang agamis, dinamis dan majemuk. Demikian diungkapkan  oleh Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti saat acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di depan para santri Pondok Roudhatul Jannah, Surabaya, Rabu (17/3/2021).

LaNyalla mengatakan, rancangan Peta Jalan Pendidikan yang dibuat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebenarnya bagus. Tetapi yang harus diperhatikan adalah jangan sampai draf tersebut justru menyalahi konstitusi.

“Dalam pasal 31 UUD 1945 ditegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur oleh Undang-Undang. Untuk itu, jangan kemudian frasa agama ditiadakan dalam rumusan Peta Jalan Pendidikan. Ini justru akan menyalahi konstutusi,” tegasnya.

Terlebih Indonesia merupakan Negara yang khas dengan angka pluralitas yang cukup tinggi. Pluralitas di Indonesia meliputi pluralitas suku, etnis, budaya dan agama. Namun, masyarakat Indonesia memiliki komitmen bersama Bhinneka Tunggal Ika yang dirumuskan dalam dasar negara, Pancasila.

Dan yang perlu diingat juga, walaupun Indonesia bukan negara agama, tetapi agama telah menjadi kesepakatan bernegara yang termaktub dalam Pancasila sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

“Empat Pilar MPR RI yang meliputi Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika inilah yang harus dijadikan landasan dalam menentukan kebijakan di semua sektor, termasuk pendidikan,” ungkapnya.

Hal ini menjadi lebih penting mengingat fenomena yang terjadi akhir-akhir ini dimana ada banyak golongan yang kurang memahami berbagai pluralisme yang melekat pada bangsa Indonesia sehingga mengancam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Kalau kemudian agama dipisahkan dari pendidikan, maka ini akan menjadi semakin tidak terkontrol. Generasi bangsa akan terkotak-kotak, padahal pendidikan itu menyeluruh, termasuk pendidikan yang ada di Pondok Pesantren ini,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Roudhotul Jannah, ustadz Fauzi memberikan apresiasi dan mengucapkan terimakasih atas kunjungan dan wawasan yang diberikan bapak LaNyalla Mahmud Mattalitti tentang sistem pendidikan di Indonesia. 

"Terimakasih atas wawasan yang telah disampaikan kepada kami, karena pembangunan akhlaq adalah bagian dari tiang agama dalam membangun keutuhan NKRI," pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: