Bos BKPM ungkap eksekusi investasi mangkrak ala Hipmi

Kamis, 25 Maret 2021 | 08:44 WIB ET
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia

SURABAYA, kabarbisnis.com: Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini, realisasi investasi di provinsi Jawa Timur (Jatim) sepanjang tahun 2020 lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yaitu mencapai Rp78,4 triliun.

Hal itu diungkapkannya saat menjadi pembicara pada Musyawarah Daerah (Musda) XIV Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Badan Pengurus Daerah (BPD) Jawa Timur di Surabaya, Rabu (24/3/2021).

"Sekalipun terjadi pandemi Covid, tapi realisasi investasi Jawa Timur itu lebih tinggi ketimbang tidak pandemi. Ini kondisinya," tandasnya.

Pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Hipmi periode 2015-2019 tersebut menambahkan, realisasi investasi terbesar di provinsi Jawa Timur selama periode 2016-2020 disumbang oleh Kabupaten Gresik (Rp70,4 triliun), Kota Surabaya (Rp64,0 triliun), Kabupaten Pasuruan (Rp48 triliun), dan Kabupaten Sidoarjo (Rp30,4 triliun).

"Secara kebetulan, bupatinya ini kader Hipmi, baik bupati Gresik maupun bupati Sidoarjo. Walikotanya juga adalah anak muda. Saya punya keyakinan ke depan, Jawa Timur itu akan betul-betul ditopang oleh tiga daerah ini," ucap Bahlil.

Dalam kesempatan tersebut, Bahlil menyampaikan bahwa salah satu tugasnya sebagai Kepala BKPM adalah mengeksekusi investasi mangkrak. Salah satunya investasi joint venture antara Pertamina dan Rosneft asal Rusia senilai Rp211,9 triliun di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Investasinya sempat mangkrak selama empat tahun karena pembebasan lahan seluas 800 hektar yang tidak terselesaikan.

"Terpaksa saya datangi dengan cara Hipmi. Saya datangi Tuban, pakai sarung, minum kopi, tidak pakai protokol. Kita selesaikan. Makanya ada desa miliuner itu. Itu akibat dari bayar tanah. Bukan ganti rugi tapi ganti untung. Itu transparan dan kita awasi. Dan menyelesaikan urusan tanah di Indonesia, kampusnya di Hipmi," ungkap Bahlil yang disambut tepuk tangan peserta Musda.

Bahlil meyakini bahwa mendatangkan industri besar menjadi salah satu cara memajukan Jawa Timur. Dengan masuknya investasi besar seperti Pertamina-Rosneft akan menciptakan lapangan kerja dan memberikan multiplier effect kepada daerah di sekitarnya.

Dalam periode 5 tahun terakhir (2016-2020), total realisasi investasi di Provinsi Jawa Timur mencapai Rp328 triliun. Adapun negara asal investasi didominasi oleh Singapura (US$2,57 miliar), disusul Jepang (US$1,65 miliar), Korea Selatan (US$0,69 miliar), Belanda (US$0,56 miliar), dan Hongkong, RRT (US$0,448 miliar). kbc10

Bagikan artikel ini: