SBI optimis kinerja tahun ini bertumbuh

Selasa, 30 Maret 2021 | 21:09 WIB ET
Jajaran Direksi dan Komisaris SBI, (dari kiri) Lilik Unggul Raharjo (Direktur Manufaktur), Prijo Sambodo (Komisaris Independen,) Agung Wiharto (Direktur Human Capital, Legal & Corporate Affairs), Aulia Mulki Oemar (Presiden Direktur), Fajar Judisiawan (Presiden Komisaris), Adi Munandir (Komisaris).
Jajaran Direksi dan Komisaris SBI, (dari kiri) Lilik Unggul Raharjo (Direktur Manufaktur), Prijo Sambodo (Komisaris Independen,) Agung Wiharto (Direktur Human Capital, Legal & Corporate Affairs), Aulia Mulki Oemar (Presiden Direktur), Fajar Judisiawan (Presiden Komisaris), Adi Munandir (Komisaris).

SURABAYA, kabarbisnis.com: PT Solusi Bangun Indonesia Tbk atau SBI optimis di tengah pandemi Covid-19 yang masih melanda, perseroan mampu membukukan kinerja positif di tahun 2021 ini.

Presiden Direktur PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, Aulia Mulki Oemar mengatakan, kinerja perseroan diharapkan bisa meningkat di tahun ini, seiring program vaksinasi Covid-19, namun dengan mempertimbangkan tantangan bisnis berupa peningkatan kasus positif Covid-19, pembatasan sosial berskala besar, dan perang harga.

"Kami optimistis kinerja akan baik dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan kami paling tidak sama dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia (4,5%-5,5%)," ujarnya pada paparan publik perseroan secara virtual, Selasa (30/3/2021).

Beberapa hal yang mendorong optimisme tersebut diantaranya rencana kemitraan strategis perseroan melalui induk usaha yakni PT Semen Indonesia Tbk dengan Taiheiyo Cement Corporation (TCC). Kemitraan ini meliputi berbagai bidang usaha seperti produksi semen dan produk turunannya, sumber daya alam termasuk batu kapur, lingkungan hidup, bahan bangunan, perdagangan semen, serta penelitian dan pengembangan.

"Inovasi-inovasi yang kami lakukan sepanjang 2020 untuk menyokong operasional, terbukti efektif mempertahankan kinerja positif di tengah pelemahan pasar semen nasional. Karena itu, kami akan terus fokus menggarap potensi-potensi lain seperti digitalisasi untuk proses bisnis dan operasional yang efisien, serta melanjutkan rencana kemitraan strategis dengan TCC untuk pengembangan produk dan membuka peluang perluasan pasar melalui pengembangan produk-produk inovatif yang ramah lingkungan," ungkap Aulia.

Dia juga menyebut, perseroan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) Rp 500 miliar untuk tahun 2021. Di mana, dananya berasal dari kas internal. Adapun, penggunaan capex, sebagian besar untuk biaya pemeliharaan dan penguatan infrastruktur logistik perseroan.

Perusahaan juga sudah memulai Kembali kerjasama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk beberapa proyek perbaikan jalan dan jalur Transjakarta menggunakan produk SpeedCrete serta proyek revitalisasi jalur pedestrian dengan produk beton ThruCrete.

Selain itu, perseroan juga terus bermitra dengan para pelanggan melalui inovasi produk beton ApexCrete untuk konstruksi lantai bangunan industri dengan produktifitas serta kualitas hasil yang sangat tinggi. Beberapa proyek besar yang telah menggunakan ApexCrete antara lain pembangunan lantai pabrik PT Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI), seluas 7 hektar di Cikarang, Jawa Barat serta IKEA di Bandung, Jawa Barat.

Pandemi Covid-19 yang mengganggu sejumlah sektor industri juga mempengaruhi kinerja perseroan sepanjang tahun 2020. Penurunan volume penjualan semen dan terak SBI dari 11,9 juta ton pada tahun 2019, menjadi 10,5 juta ton pada tahun 2020 atau sebesar 11,6%. Kenaikan hanya didapat dari penjualan ekspor yang melonjak dari 502 ribu ton pada tahun 2019, menjadi 1,5 juta ton pada tahun 2020 atau sebesar 198,1%.

Penurunan volume juga terjadi di sektor bisnis beton jadi dari 1,5 juta m3 pada tahun 2019 menjadi 874 ribu m3 pada tahun 2020 atau sebesar 41,8%,  serta sektor bisnis agregat yang turun dari 2,3 juta ton menjadi 614 ribu ton pada tahun 2020 atau sebesar 73,2%.

Penurunan volume ini berdampak pada penurunan pendapatan dari Rp11,1 triliun pada tahun 2019, menjadi Rp10,1 triliun pada tahun 2020 atau sebesar 8,6%.

Program-program efisiensi yang dijalankan oleh perseroan sepanjang tahun 2020, mampu membantu menurunkan beban pokok pendapatan sebesar 12,8%. Sehingga perseroan mampu meningkatkan Laba Sebelum Bunga & Pajak Penghasilan dan akhirnya mencetak Laba Bersih dari Rp499 miliar pada tahun 2019, menjadi Rp651 miliar pada tahun 2020 atau sebesar 30,4%.

Lebih lanjut, dalam RUPST perseroan, jelas Aulia, menyetujui pembagian dividen dari laba bersih 2020. Dividen akan dibagikan sebesar 30% dari laba perseroan, yakni Rp 195,2 miliar atau Rp 25,49 per lembar saham. Sedangkan 70% sisanya atau sekitar Rp 455,6 miliar akan digunakan untuk mendanai kegiatan operasional perseroan. kbc7

Bagikan artikel ini: