Pandemi dan banjir produk impor buat IKM tekstil tambah limbung

Sabtu, 3 April 2021 | 18:12 WIB ET

JAKARTA, Industri Kecil dan Menegah (IKM) tekstil mengalami penurunan penjualan disebabkan pandemi covid-19 dan banjir produk impor di pasaran.Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia menyebutkan produk impor tekstil tidak hanya terjadi di pasar swalayan, namun juga masuk ke marketplace.

Analis Kebijakan Industri dan Perdagangan APSyFI Farhan Aqil Syauqi menuturkan praktik ini sangat masif dilakukan, khususnya untuk produk pakaian jadi. Produk impor tersebut terindikasi masuk ke Tanah Air melalui Pusat Logistik Berikat atau PLB e-commerce. "PLB ini tidak hanya tekstil saja, macam-macam produknya. Lebih ke produk konsumsi kebutuhan rumah tangga," ungkap Aqil di Jakarta, Minggu (3/4/2021).

Dia melanjutkan IKM dalam negeri mampu memproduksi garmen dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pasalnya, jumlah IKM yang menjadi produsen pakaian jadi juga banyak.

Pernyataan ini dikuatkan dengan data Indotextiles yang menyebutkan, sepanjang 2020 produksi garmen IKM mencapai sekitar 641.000 ton. "Di Jawa Barat itu banyak sekali produksinya, misalnya sentra rajut binong di Bandung. Mereka produksi terus-menerus dengan pekerja yang juga banyak. Miris ketika produknya tidak dapat bersaing dengan impor. Harganya jauh sekali tetapi kualitas lebih baik dibandingkan produk impor," kata Aqil.

Impor pakaian jadi disinyalir telah mengganggu industri turunan. Pihaknya mendapat laporan IKM tekstil di Surakarta yang menggunakan limbah garmen sebagai bahan baku tidak dapat memenuhi permintaan, karena bahan baku yang minim. "Di Surakarta, IKM ini tidak dapat bahan baku sesuai permintaan, padahal bahan bakunya limbah. Kalau limbahnya minim, artinya produksi IKM hilirnya kan minim," terangnya.

Dia menegaskan, IKM tekstil di dalam negeri akan mati seiring berjalan waktu, apabila pemerintah tidak dapat memproteksi pasar dalam negeri. APSyFI menyayangkan kondisi yang terjadi saat ini, pasalnya IKM tekstil potensial menumbuhkan perekonomian Indonesia di tengah pandemi.

APSyFI optimistis perekonomian nasional bisa mengalami pergerakan positif, jika IKM terkait bisa terus bertumbuh. Begitu juga penyerapan bahan baku ke industri hilir tekstil baik, sehingga IKM tekstil bisa naik kelas. "(Sebaliknya), kalau impor pakaian jadi ini terus-menerus diberlakukan, IKM bisa mati dan pengangguran dengan skala besar bisa terjadi," terangnya.

Direktur Eksekutif Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia atau IKATSI Riza Muhidin menuturkan pemberlakuan safeguard pakaian bisa dijalankan untuk menghalau impor saat ini. Hal juga ini sesuai dengan rekomendasi Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia atau KPPI Kementerian Perdagangan.

"Pemerintah perlu melakukan pemberlakuan safeguard pakaian jadi sesuai rekomendasi KPPI. Rekomendasi ini sudah benar, tinggal diberlakukan saja," tegas Riza.

Riza mengatakan, safeguard ini dapat menumbuhkan optimisme IKM tekstil. Sementara upaya yang sama juga akan membuat rantai produksi IKM dan UMKM terkait di dalam negeri akan semakin kuat.

"Bahan baku IKM ini tersedia semua di dalam negeri. Tinggal support dari pemerintah saja untuk memproteksi pasar lokal," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: