Cegah harga gabah turun, Ombudsman RI imbau bantuan sarana paska panen ditingkatkan

Kamis, 8 April 2021 | 17:41 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ombudsman Republik Indonesia (RI) menghimbau agar Kementerian Pertanian (Kementan) meningkatkan bantuan program sarana paska panen terintegrasi guna mengolah hasil gabah kering panen (GKP). Dengan bantuan sarana ini diharapkan mampu meminimalisir resiko penurunan harga gabah.

Anggota Ombudsman Yeka Hendra Fatika menuturkan penurunan mutu gabah di musim penghujan pada panen raya merupakan situasi yang terus berulang sepanjang tahun.Yeka menyesalkan belum ada upaya yang terintegrasi untuk memecahkan persoalaan penurunan mutu gabah pada saat panen raya. Padahal menurut data yang dilansir Kementerian Pertanian (Kementan) sepanjang 2017-2020, telah mengguyur budget senilai Rp 661,7 miliar untuk pengadaan mesin pengering.

"Perlu dievaluasi apakah besaran dukungan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) untuk pengadaan mesin pengering ini telah memenuhi unsur pelayanan publik dalam arti petani sasaran mendapat layanan .Jika program ini memberikan layanan yang baik untuk petani , maka program bantuan ini perlu ditingkatkan di masa yang akan datang," ujar Yeka menjawab pertanyaan solusi yang ditawarkan atas turunnya harga gabah di bulan Maret 2021 seperti dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) ,Jakarta, Kamis (8/4/2021).

Yeka memberi apresiasi positif pembentukan Sentra Pelayanan Pertanian Padi Terpadu (SP3T) yang terintegrasi dalam program Komando Strategi Penggilingan (Kostraling) yang dilakukan Kementan. Adapun fasilitas yang terbangun dapat membantu penanganan paska panen hasil pertanian dengan sistem pengelolaan yang tersruktur.

Yeka menilai, program bantuan alsintan paska panen ini yang telah digencarkan masih perlu diuji efektiftasnya dan prudent dalam sisi pertanggungjawabannya di mata publik. Pasalnya masih banyak petani menjual berbentuk gabah kering panen (GKP). Bahkan tidak dikit yang dijual secara tebatasan ketika gabah masih ada dilahan. Alhasil harga tebus yang diterima petani pun tidak besar.

Yeka mengakui, Ombudsman melakukan kunjungan ke sejumlah daerah sentra beras di Jawa Barat yakni Kabupaten Bekasi, Krawang, Subang, Indramayu dan Cirebon pada 2-4 April 2021 lalu. Temuan dilapangan di Kabupaten Bekasi misalnya, harga GKP ditebus petani sebesar Rp 4.067 per kg. Kadar airnya mencapai 23,7% lebih tinggi sedikit dari laporan yang diumumkan BPS sebesar 23,7%.

Sementara temuan harga gabah petani di Kabupaten Cirebon jauh lebih rendah yakni Rp 3.567 per kg dengan kadar air rerata 29,87%. Adapun produktivitas hasil panen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu mengalami peningkatan rerata 2,89%.

Ombudsman pun menilai penurunan harga gabah juga didorong semakin berkurangnya buruh tani khususnya tenaga kerja pemanenan. Hal ini berdampak pada banyaknya kasus pemanenan dilakukan pada saat keadaan tanaman belum cukup umur untuk dipanen.

Berdasarkan temuan lapangan ini, Yeka menambahkan total susut paska panen GKP di lima kabupaten sentra beras di Jawa Barat mencapai 27,16% akibat tingginya kadar air dan kadar hampa pada gabah. Dalam kondisi seperti ini, kualitas gabah dipastikan menurun, butir hampa semakin banyak, hingga mencapai 18%.

Adapun petani hanya memperoleh harga tebus gabah sebesar Rp 3.888 per kg, namun ketika dikonversi setara GKG dihargai Rp 5.338 per kg. "Nilai ini sudah melebihi HPP yang ditetapkan Kemendag. Apalagi jika ditambahkan ongkos angkut maka harga GKG dan harga berasnya pun akan meningkat, meski tidak dalam rentang besar," terangnya.

Artinya, menurut Yeka fenomena yang terjadi lebih tepat menggambarkan bukan karena harga gabah yang turun. Namun mutu gabah yang turun. Karenanya, Yeka menegaskan tidak ada fakta penurunan harga GKP ditingkat petani sebagai respon psikis dari rencana pemerintah mengimpor beras sebesar 1 juta ton.

Sebagai Informasi, BPS baru-baru ini merilis harga gabah baik di panen raya tahun 2021 ini baik gabah kering panen (GKP), gabah kering giling (GKG) serempak mengalami penurunan. Untuk GKP di tingkat petani pada Maret 2021 Rp 4.385 per kg atau turun 7,85%, dan di tingkat penggilingan Rp 4.481 per kg atau turun 7,86% dibandingkan harga gabah kualitas yang sama pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, rata-rata harga GKG di tingkat petani Rp 5.214 per kg atau turun 1,99% dan di tingkat penggilingan Rp 5.331 per kg atau turun 1,85%. Harga gabah luar kualitas di tingkat petani Rp 4.043 per kg atau turun 6,84% dan di tingkat penggilingan Rp 4.138 per kg atau turun 6,95%.

Seperti diuraikan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto kepada wartawan,Kamis (1/4/2021) pekan lalu, menuturkan penurunan harga gabah di bulan Maret tidak terlepas dari fenomena panen raya. Alhasil besarnya pasokan GKP sehingga menekan harga baik gabah maupun beras.

Dibandingkan Maret 2020, rata-rata harga gabah pada Maret 2021 di tingkat petani untuk kualitas GKP, GKG, dan gabah luar kualitas masing-masing turun sebesar 11,17%; 9,57%; dan 11,86%. Di tingkat penggilingan, rata-rata harga gabah pada Maret 2021 dibandingkan dengan Maret 2020 untuk kualitas GKP, GKG, dan gabah luar kualitas masing-masing turun sebesar 10,92%; 9,46%; dan 11,44%.kbc11

Bagikan artikel ini: