Bappenas: Ekspor turun 6%

Rabu, 11 Maret 2009 | 19:53 WIB ET

JAKARTA: Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memprediksi pertumbuhan ekspor pada tahun ini akan minus 6%.

Direktur Perencanaan Makro Bappenas Bambang Prijambodo mengemukakan, penurunan growth ekspor terjadi karena terjadi penurunan harga maupun volume ekspor.

”Semuanya, termasuk ekspor migas atau ekspor barang dan jasa,” kata Bambang di Jakarta, hari ini, seperti dilaporkan Antara, Rabu (11/3).

Menurut Bambang, untuk sektor nonmigas, potensi penerimaan ekspor akan turun sekitar 20% atau US$21,6 miliar. Pada 2008, penerimaan ekspor dari sektor nonmigas mencapai US$108 miliar.

Turunnya performa ekspor nasional, jelas dia, disebabkan oleh memburuknya perekonomian global. Sehingga, negara-negara yang selama ini menjadi tujuan ekspor nasional harus mengurangi konsumsinya. Penurunan demand tersebut juga berlaku di negara-negara Asia.

"Thailand sudah di dalam prospek pertumbuhan negatif 1%, di Singapura pemerintahnya menyatakan pertumbuhan negatif, jadi negara-negara Macan Asia memperkirakan pertumbuhan negatif. [Padahal] mereka adalah pasar ekspor kita yang cukup potensial," kata Bambang.

Kondisi tersebut bermuara juga pada sektor pariwisata, karena masyarakat di luar negeri mengurangi konsumsinya dengan motif berjaga-jaga, selain karena turunnya pendapatan mereka sebagai akibat krisis global.

Bambang menambahkan, anjloknya performa ekspor tersebut tidak bisa otomatis dikompensasi dengan stimulus fiskal di dalam negeri.

"Anjloknya ekspor tidak hanya masalah nominal. Ada pengaruh dari dropnya ekspor yang tidak bisa dikompensasi," katanya.

Bambang mencontohkan, pekerjaan atau tenaga yang sifatnya formal dan produktif, yang dulu merupakan bidang spesifik di industri ekspor yang tidak diperpanjang lagi karena kontrak ekspornya habis.

Mereka tidak bisa serta merta digantikan langsung oleh pemerintah melalui stimulus, kecuali mereka yang ketrampilannya sesuai dengan program stimulus.

"Mereka yang menganggur karena turunnya ekpor tidak bisa langsung masuk ke dalam sektor produktif lainnya, itu memerlukan waktu," jelasnya. (kb9/kb7)

Bagikan artikel ini: