Industri sawit jadi primadona ekonomi, buah dari Bungaranomics

Selasa, 20 April 2021 | 13:26 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Industri sawit nasional terbukti mampu sebagai lokomotif perekonomian nasional, meski secara makro ekonomi terdampak pandemi Covid 19. Sepanjang tahun 2020, nilai ekspor minyak sawit mencapai US$22,97 milar, lebih tinggi dari tahun 2019  yang sebesar US$20,22 miliar.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) pertumbutuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian yang ditopang sub sektor perkebunan terus mengalami kenaikan. Dari triwulan I/2020 sebesar 0,01% menjadi 2,59% di triwulan IV/2020. Sementara PDB nasional tahun 2020 justru mengalami kontraksi 2,07%.

Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Dr Tungkot Sipayung menegaskan  posisi industri sawit nasioal memainkan posisi strategis bukan hanya terhadap neraca pembayaran fiskal juga desentralisasi ekonomi di daerah. Ini sebagai buah pendekatan sistem usaha agrobisnis yang berhasil dijhalankan.

Tungkot pun menyebutnya dengan istilah  ‘Bungaranomics’ atau landasan kebijakan pembangunan pertanian yang diusung Menteri Pertanian Bungaran Saragih di era pemerintahan Gus Dur dan Megawati Sukarno Putri. “Pendekatan usaha agobisnis menekankan usaha hulu dan hilir serta jasa pendukung (sarana dan prasarana red), ditopang riset yang baik dan kebijakan negara yang saling mendukung,” ujar Tungkot dalam Bedah Buku: “Suara Agribisnis: Suara Kumpulan Pemikiran Bungaran Saragih di Jakarta, Senin (19/4/2021).

Sistem usaha agrobisnis yang diusung akhir 1980-an, menurut Tungkot tetap relevan dijalankan hingga di zaman mendatang. Tungkot mencontohkan digitalisasi , smart farming , urban farmin, disrupsi pedagang antara menekankan pentingya penerapan usaha sistem agrobisnis yang menekankan sistem usaha hulu dengan hilir pertanian dan jasa penunjang dalam satu titik lokasi.

Adapun  tuntutan integrasi vertikal semakin menguat yang pada gilirannya akan menguntungkan konsumen karena harga produk pangan yang diterima lebih murah . Dengan pendekatan usaha sistem agrobisnis akan jauh lebih mudah membangun pertanian lebih besar outputnya. Bukan sampai disitu, dari sektor pertanian justru berkontribusi besar terhadap makro perekonomian.

Sementara, praktisi industri sawit Derom Bangun menuturkan sejumlah gagasan Bungaran Saragih yang terangkum dalam tiga buku lebih dari 700 halaman ini mengupas pelbagai hal sektor pertanian khususnya khususnya sub sektor perkebunan kelapa sawit.  Menurut Derom pemikiran Bungaran terkait sejumlah isu faktual pertanian dibahas dengan bahasa  sederhana dan lugas. Tiap topik  hanya berisi dua-tiga halaman maka tidak perlu minat membaca menjadi surut.

Pembaca bebas memilih topik yang menarik sesuai kebutuhannya. Ulasan Bungaran dengan topik pertama Benarkah Pertanian Indonesia Terbelakang?  Pertanyaan dari pengurus Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) itu dengan membandingkan pertanian Indonesia dengan petani di Malaysia dan Thailand serta Australia.

Andaikan pertanian Indonesia maju, mengapa banyak petani Indonesia masih miskin? Sebagai pemantik seperti itulah, bab ini  Bungaran mengulas bagaiamana pertanian dapat berperan sebagai lokomotif perekonomian , bahkan hingga sektor lainnya. Menurutnya hal itu tidak mustahil dilakukan apabila pembehanan sektor pertanian dilakukan dengan koordinasi antar lintas sektoral.  

Buku ini juga banyak mengulas topik mengenai sawit. Dalam Bab I -3,diungkapkan pemikiran Bungaran yang ditulis pada tanggal 14- 27 Desember 2005 bahwa Sawit Indonesia Siap Menjadi Nomor Satu Dunia. Menurut dirinya yang pada saat itu menjadi Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia sangat memahami perkembangan faktual yang terjadi. “Menarik juga diungkapkan Pak Bungaran sangat relevan pada saat itu,” ujarnya.

Sejumlah isu sawit lainnya juga dibahas Bungaran seperti Biofuel, Apakah Sawit Indonesia Merusak Hutan Indonesia dan Menyesengsarakan Orang Utan? Tema lain adalah Masa Depan Kelapa Sawit Indonesia Ada di Tangan Petani serta Sertifikasi Kelapa Sawit.

“Saya juga mencoba mengikuti Beliau (Bungaran) ketika mencoba traktor menggunakan biodisel (BBM solar dioplos dengan minyak sawit red) di perkarangan Pusat Penelitian Kelapa Sawit , Medan. Dari hal itu membuktikan secara teknis biofuel dapat digunakan. Namun pak Bungaran mengingatkan pentingnya dukungan kebijakan pemerintah,” ulasnya.

Bekerja sama dengan masyarakat setempat, Bungaran yang sejak tahun 1991 mendirikan Yayasan Penyelamatan Orang Utan Borneo (Yayasan BOS) –organisasi no n profit yang didedikasikan untuk konservasi orang utan. Menurut Derom apa yang dilakukan Bungaran tidak hanya dituangkan dalam tulisan , namun juga melakukan kampanye ke sejumlah negara bahwa tidak sepenuhnya benar industri sawit telah menyesengsarakan Orang Utan.

Dalam tulisan Bungaran lain,menurut Derom terdapat point penting yang menekankan pentingya petani memperoleh seritifkat ISPO dan RSPO. Mengapa demikian? Dengan RSPO, petani memperoleh sertifikat produk sawitnya. Sementara sertifikasi ISPO hanya diberikan kepada kebun dan pabriknya.

Bayu Krisnamurthi, mantan Wakil Menteri Pertanian yang juga tampil sebagai pembahas menilai tidak banyak Guru Besar Perguruan Tinggi yang pemikirannya di mimbar akademik diberi kesempatan dan kehormatan untuk menerapkan pemikirannya  dengan memimpin langsung dalam pemerintahan  sebagai Menteri.Mungkin hanya Prof Widjojo Nitisastro, Prof B.J. Habibie dan Prof Emil Salim. Jadilah Pengembangan Sistem  dan Usaha Agribisnis resmi menjadi Strategi Pembangunan Pertanian dan coba dijalankan sepenuhnya  Kementerian Pertanian RI.

Bayu mengakui sejumlah permasalahan yang berulang dan tampak tidak juga selesai, seperti persoalan beras, atau sawit, atau gula, atau ayam pedaging.Ketiga buku ini  memberikan indikasi yang jelas alasannya. Pertama, karena cara pandang dan cara tindak sesuai paradigma sistem dan usaha agribisnis  itu belum sepenuhnya dipahami dan dilakukan.

Pendekatan parsial masih sering sangat menonjol. Logika bisnis masih sering diabaikan.Kedua, ternyata pembangunan sistem dan usaha agribisnis membutuhkan waktu dan proses. Untuk  itu perlu konsistensi dalam jangka waktu yang cukup. Ibaratnya, membangun agribisnis cabe misalnya, tidak bisa hanya seperti “sekali menggigit cabe yang langsung terasa pedasnya”.

Ketiga, pengetahuan dan pemahaman sistem dan usaha agribisnis itu sendiri belum berkembang secepat  perkembangan situasi dan kondisi riilnya. Masih banyak pertanyaan belum terjawab tuntas. Bagaimana kaitan agribisnis dengan ‘global supply chain’, bagaimana agribisnis menghadapi situasi perang dagang  dan pudarnya multilateralisme, bagaimana agribisnis menjawab Sustainable Development Goals, dan  sebagainya.

Bahkan hal yang seharusnya ‘cukup jelas dan langsung (straight forward)’ ternyata juga masih terus membutuhkan penyempurnaan. Seperti bagaimana sebenarnya kurikulum pendidikan agribisnis yang benar-benar sesuai tuntutan saat ini, atau bagaimana merumuskan kompetensi dasar ‘bidang keahlian’ seorang ‘professional agribisnis’.

Tampil juga sebagai pembahas Musdhalifah Machmud MT (Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis, Kemenko Bidang Perekonomian). Soemitro Samadikun (Ketua APTRI); Bhima Yudhistira Adinegara M.Sc (Peneliti INDEF); Ninuk Mardiana Pambudy (wartawan Kompas); Untung Jaya (Wartawan Majalah Agrina).kbc11

Bagikan artikel ini: