Bos BI sumringah suku bunga kredit bank sudah single digit

Rabu, 21 April 2021 | 10:35 WIB ET
Gubernur BI Perry Warjiyo
Gubernur BI Perry Warjiyo

JAKARTA, kabarbisnis.com: Bank Indonesia (BI) mengklaim rata-rata tingkat suku bunga dasar kredit (SBDK) perbankan di dalam negeri sekitar 9,05 persen pada Februari 2021. Ini artinya rerata SBDK tercatat turun 171 basis poin (bps) dari 10,76 persen pada periode yang sama tahun lalu.

"Alhamdulillah suku bunga dasar kredit bank sudah single digit, meski kami tetap mengharapkan bisa turun lebih lanjut lagi," imbuh Gubernur BI Perry Warjiyo saat konferensi pers virtual, Selasa (20/4/2021).

Namun demikian, selisih antara rerata SBDK bank dengan bunga acuan BI masih cukup jauh, yakni 5,5 persen karena BI rate berada di kisaran 3,5 persen. Sementara, rata-rata bunga deposito bank nasional sebesar 3,88 persen, sehingga selisih dengan bunga BI cuma 0,38 persen.

Berdasarkan kelompok bank, jajaran bank BUMN menjadi yang paling banyak menurunkan bunga kredit, yakni mencapai 210 bps dari 11,36 persen menjadi 8,7 persen. Diikuti, bank swasta asing 113 bps dari 10,39 prsen menjadi 9,42 persen.

Sementara penurunan bunga kredit bank swasta nasional 97 bps dari 10,37 persen menjadi 9,49 persen. Sedangkan, Bank Pembangunan Daerah (BPD) baru 88 bps dari 7,57 persen menjadi 6,44 persen.

"Penurunan yang dalam pada SBDK di kelompok bank BUMN. Beberapa bank swasta dan BPD sudah turunkan, tapi belum optimal, makanya saya ajak bank swasta dan BPD untuk menurunkan bunga kreditnya," tuturnya.

Berdasarkan segmen kredit, penurunan bunga kredit tertinggi ada di kredit mikro sebesar 346 bps dari 16,18 persen menjadi 12,72 persen. BI menilai hal ini didorong oleh kebijakan penurunan bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari pemerintah.

"Ini tidak terlepas dari kebijakan pemerintah dalam mendorong pembiayaan pada skala usaha mikro melalui pemberian subsidi bunga kredit di tengah pelemahan ekonomi akibat pandemi," terang dia.

Kemudian, penurunan tertinggi disusul oleh segmen kredit pemilikan rumah (KPR) sebesar 194 bps dari 10,13 persen menjadi 8,19 persen dan kredit konsumsi non-KPR sebanyak 193 bps dari 11,18 persen menjadi 9,25 persen.

Sementara bunga kredit korporasi turun 139 bps dari 9,65 persen menjadi 8,26 persen dan bunga kredit ritel berkurang 136 bps dari 10,2 persen menjadi 8,84 persen.

Berdasarkan komponen pembentuk SBDK, bank sentral nasional mencatat penurunan bunga kredit bank utamanya terjadi berkat penurunan komponen harga pokok dana untuk kredit (HPDK). Jumlahnya turun 120 bps dari 4,61 persen menjadi 3,41 persen.

"Penurunan komponen HPDK terjadi pada seluruh kelompok bank. Terutama disebabkan oleh penurunan biaya dana sebesar 100 bps menjadi 2,82 persen, hal ini sejalan dengan kondisi likuiditas perbankan yang sangat memadai," jelasnya.

Tercatat bahwa penurunan HPDK paling tinggi terjadi di bank swasta asing, BUMN, dan swasta nasional, yaitu masing-masing 161 bps, 146 bps, dan 103 bps. Sementara penurunan HPDK di BPD masih terbatas sekitar 87 bps.

"Rigiditas pada kelompok BPD tersebut dipengaruhi oleh tingginya biaya dana akibat ketergantungan pada deposan besar. Hal ini tercermin antara lain dari pangsa special rate BPD yang paling tinggi dibandingkan kelompok bank lainnya," ungkapnya.

Selanjutnya penurunan dari komponen biaya overhead (OHC) sekitar 31 bps dari 3,38 persen menjadi 3,07 persen. Penurunan utamanya ditopang penurunan biaya tenaga kerja dan dukungan digitalisasi perbankan.

Penurunan OHC di bank BUMN 46 bps dan swasta nasional 38 bps, sementara bank swasta asing dan BPD justru naik, masing-masing 114 bps dan 2 bps.

Yang paling minim turunnya adalah komponen margin keuntungan, yaitu sekitar 21 bps saja dari 2,77 persen menjadi 2,56 persen. Artinya, bank-bank masih berupaya mempertahankan keuntungannya, sehingga penurunannya paling minim.

Tercatat, penurunan margin keuntungan di BUMN mencapai 88 bps dan bank swasta asing 34 bps. Sebaliknya, bank swasta nasional justru naik margin keuntungannya sebanyak 48 bps dan BPD 2 bps.

Lebih lanjut, Perry mengatakan data perkembangan SBDK ini sengaja dibuka ke publik untuk mendorong bank lebih cepat menurunkan bunga kreditnya. Sebab, kini bisa dipantau langsung oleh publik.

"Kami lakukan kebijakan transparansi SBDK untuk mendorong, mempercepat penurunan suku bunga bank dan transparansi ini ajakan dari pemerintah dan OJK, serta disambut oleh bank," tuturnya.

Di sisi lain, saat bunga kredit bank mulai turun, pertumbuhan kredit rupanya tetap tidak membaik. Bahkan, kontraksinya semakin dalam, yaitu dari minus 2,15 persen pada Februari menjadi minus 4,13 persen pada Maret 2021.

Begitu juga dengan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) secara gross yang naik dari kisaran 3,17 persen menjadi 3,21 persen. NPL net naik dari 1,03 persen menjadi 1,04 persen pada periode yang sama. kbc10

Bagikan artikel ini: