Tertekan impor, 1,8 juta ton garam lokal tak terserap

Rabu, 21 April 2021 | 11:16 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Rencana pemerintah melakukan impor garam sebanyak 3 juta ton diprediksi bakal membuat garam yang diproduksi petani lokal tidak terserap.Tak tanggung-tanggung, besarannya mencapai 1,8 juta ton garam lokal yang tak terserap tahun ini.

Deputi Bidang Kajian dan Advokasi Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Taufik Ariyanto mengatakan, pemerintah sudah menentukan kebutuhan garam di 2021 sebanyak 4,6 juta ton. Dari kebutuhan itu, pemerintah menetapkan alokasi impor mencapai 3 juta ton.

Sementara itu, estimasi produksinya sebesar 2,1 juta ton ditambah stok tahun 2020 ada 1,3 juta ton sehingga menjadi 3,4 juta ton. Pasar garam lokal sendiri ada 1,6 juta ton.

“Kami hitung kurang lebih nanti di akhir 2021 akan terdapat 1,8 juta ton garam yang tidak terserap, terutama garam lokal,” ujar Taufik saat konferensi pers secara virtual, Selasa (20/4/2021).

Dia menuturkan jumlah yang tidak terserap tersebut bisa berubah tergantung dengan cuaca yang ada. Jika musim panen atau di bulan April sampai September cuaca panas, maka produksinya bisa tinggi.

"Jumlah tidak terserap dengan asumsi produksi tetap 2,1 juta ton. Tapi kebalikan kalau selama periode April sampai September curah hujannya masih tinggi maka besar kemungkinan produksi garamnya tak mencapai 2 juta ton. Otomatis yang tidak terserap akan lebih kecil dari 1,8 juta ton,” ujarnya.

Dia menambahkan, rencana pemerintah mengimpor garam sebanyak 3 juta ton ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2020 yang tercatat sebanyak 2,7 juta ton. Padahal masih ada garam yang belum terserap di tahun lalu.

“Ada informasi yang kami peroleh masih tersedia stok garam rakyat itu kurang lebih 1 juta sekian ton yang masih tersebar di beberapa gudang atau beberapa tambak yang memang sampai saat ini diduga masih belum terserap,” jelasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: