Lembaga keuangan ini siap bantu ekspor UMKM tak punya modal

Rabu, 21 April 2021 | 11:30 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Bisa menembus pasar ekspor menjadi impian pelaku usaha, termasuk sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM). Namun tak jarang pelaku UMKM dihadapkan banyak kendala ketika produknya sudah berorientasi ekspor, salah satunya terkait permodalan.

Menyadari hal ini, sejumlah lembaga keuangan berupaya untuk membantu UMKM dalam menyediakan fasilitas pembiayaan ekspor. Salah satunya Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank.

Head Of Advisory Services Division LPEI Gerald Grisanto menuturkan, saat ini pembiayaan LPEI kepada UMKM untuk ekspor mencapai Rp 14,1 triliun yang tersebar di 27 provinsi. Namun porsi pembiayaan UMKM di LPEI itu masih kecil yakni 16%, sisanya korporasi besar.

"Tapi ada arahan dari pemegang saham dalam hal ini Menteri Keuangan, bahwa di 2021-2025 portofolio pembiayaan UMKM akan tumbuh sampai 35%," katanya dalam acara Konferensi 500K Eksportir Baru secara virtual, Selasa (20/4/2021).

Untuk pembiayaan ekspor untuk UMKM sendiri LPEI memiliki 3 penugasan khusus ekspor (PKE) yang menjadi produk pembiayaan yang bisa dimanfaatkan UMKM yang ingin ekspor.

Pertama ada PKE UMKM yang merupakan pemberian modal kerja dan investasi. Suku bunganya 6% yang sudah mencakup biaya-biaya lainnya. Pinjamannya dalam program ini berkisar Rp 500 juta sampai Rp 15 miliar. Program ini memiliki jangka waktu sampai 31 Desember 2025.

"Itu sudah termasuk asuransi piutang dagang. Jadi piutang dagangnya sudah tercover melalui 6% itu," jelas Gerald.

Kedua PKE Trade Finance yang diberikan khusus untuk pelaku usaha yang terdampak pandemi COVID-19. Suku bunganya dibedakan berdasarkan mata uang pinjaman. Untuk rupiah 6%, sedangkan dolar AS 2,5%. Namun pinjaman produk ini dibatasi berdasarkan komoditasnya yakni produk karet, kopi speciality, furniture, produk alas kaki, makanan olahan, tekstil dan produk tektil.

Ketiga, PKE Kawasan yang memberikan suku bunga berdasarkan suku bunga SBN -2% atau saat ini 4,5%-6%. Sedangkan suku bunga dalam bentuk dolar AS 1,5%-3%. Tapi ada syaratnya, ekspornya harus ke kawasan Afrika, Asia Selatan dan Timur tengah.

BNI juga menyediakan pembiayaan untuk UMKM yang ingin melakukan ekspor. Suku bunga yang ditawarkan 6%-8,75%. Namun biaya transaksi trade finance diskon up to 50%. Untuk persyaratan agunan minimal 30%, sisanya 70% ditutup penjaminan kredit.

Pemimpin Divisi Internasional BNI, Legendaria menjelaskan, BNI mendukung UMKM untuk ekspor dengan memanfaatkan jaringan cabang internasionalnya yang saat ini ada di 6 negara.

"Ini akan memudahkan pemasaran produk dengan mengikutsertakan UMKM misalnya dalam trade expo. Bahkan cabang-cabang kami di luar negeri jadi galeri UMKM. BNI di Hong Kong, Singapura, Seoul itu menyediakan area khusus display produk-produk UMKM yang berorientasi ekspor," ucapnya.

Tidak hanya itu, BNI juga bisa memanfaatkan database nasabahnya di luar negeri untuk dijodohkan kepada nasabah UMKM di dalam negeri yang ingin melakukan ekspor. kbc10

Bagikan artikel ini: