Senyum merekah buah beras merah BULOG

Kamis, 22 April 2021 | 17:41 WIB ET

SIDOARJO, kabarbisnis.com: Beras BULOG sungguh berarti sekali bagi ibu Mujiamah, perempuan tua itu tampak lemah, tubuhnya tak lagi bisa leluasa bergerak. Penyakit diabetes melitus yang dideritanya memaksa dia lebih banyak berdiam diri di rumah ketimbang berjalan ke luar rumah.

Kondisi seperti itulah yang menempatkan dia layak sebagai salah satu penerima Program Keluarga Harapan (PKH) asal Desa Lemahputro, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Saat pencairan program pemberian bantuan sosial bersyarat kepada keluarga miskin dari pemerintah pusat itu, karena kondisi tubuhnya yang sakit-sakitan, Mujiamah meminta beras merah. Ia sampaikan permintaan itu kepada pemilik Sri Rukiyati pemilik CV. Putra Sejati yang tak lain adalah mitra BULOG dalam kemitraan program Rumah Pangan Kita (RPK) khusus di Perumahan Auri Kelurahan Lemahputro, Sidoarjo, Jawa Timur. Ia berdalih, jika tidak mengonsumsi beras merah badannya akan terasa sakit semua.

Mujaimah mulai mengonsumsi beras merah setelah salah seorang temannya yang saudaranya juga penderita diabetes memberikan saran agar ia mengonsumsi beras merah. Ia memercayai saran temannya itu dan sejak saat itu, ia tidak lagi mengonsumsi beras putih, sebaliknya beralih mengonsumsi beras merah. Ia menyerap dan memahami betul detil informasi tentang keterkaitan penderita diabetes dengan konsumsi beras putih dan beras merah sebagaimana diceritakan temannya sampai ia bisa menjelaskannya kembali dengan rinci.

“Kata temanku, sebagai penderita diabetes, mengonsumsi beras sebagai sumber karbohidrat sangat berpengaruh pada kadar gula darah dalam tubuhnya. Karena karbohidrat yang terkandung di dalam beras akan terpecah menjadi glukosa (gula darah). Pasien diabetes memiliki masalah dalam proses pemecahan glukosa menjadi energi.. Entah karena tubuh tidak bisa memproduksi hormon insulin ataupun karena tubuh tak lagi peka terhadap keberadaan insulin sehingga proses tersebut menjadi tidak optimal,” cerita dia.

Itulah, sambung dia, yang menjadi penyebab kenapa para penderita diabetes direkomendasikan untuk menghindari beras putih dengan mencari alternatif lain, salah satunya adalah beras merah yang memiliki kadar kalori rendah dan tinggi serat serta bebas gluten. Beras merah juga dianggap makanan yang rendah glikemik, hanya sekitar 50. Sementara indeks glikemik beras putih mencapai 64. “Itu artinya, beras merah memang aman dikonsumsi penyandang diabetes. Saya sendiri kalau makan nasi putih, badan saya rasanya sakit semua. Syukurlah di RPK Bu Uki (panggilan akrab Sri Rukiyati red.) ini boleh meminta beras merah untuk pencairan PKH, sehingga saya sangat terbantu,” ungkap perempuan yang sebelumnya adalah Pembantu Rumah Tangga (PRT) ini dengan mata berbinar-binar.

Cerita dari Bu Uki, ternyata Mujiamah bukan sendirian, masih ada empat orang lagi penerima PKH yang juga meminta jatah beras merah saat pencairan PKH di RPK Putra Sejati. Karena itu, ia selalu menyediakan beras merah dari Perum BULOG untuk memenuhi kebutuhan mereka, satu bulan sekitar 20 kilogram.

“Sebenarnya peminat beras merah di sini tidak hanya penerima PHK saja, saya sekeluarga dan tetangga saya juga mengonsumsinya karena beras merah ini memang sehat. Dan saya memilih beras BULOG ini karena kualitasnya bagus, harganya juga lebih murah dari pasar, selisih harganya bisa sekitar Rp 2 ribu per kilogram. Kalau dulu harganya Rp 20 ribu, sekarang naik menjadi Rp 25 ribu per  kilogram. Tetap di luar harganya lebih tinggi Rp 2 ribu per kilogram,” terang Uki saat ditemui kabarbisnis.com di Sidoarjo,  Selasa (20/4/2021).

RPK Putra Sejati adalah salah satu RPK di Sidoarjo yang masih bertahan sampai saat ini sejak didirikan tahun 2018 yang membantu warga untuk memenuhi berbagai kebutuhan bahan pokok , seperti beras, gula, minyak, tepung terigu, telur serta beberapa komoditas lain yang bersifat penugasan BULOG untuk melakukan stabilisasi harga pasar dan pemenuhan kebutuhan bahan pokok masyarakat. Lewat RPK BULOG juga menjual berbagai jenis beras premium dan beras merah.

RPK sendiri mulai dijalankan BULOG sejak tahun 2016. Tujuan program ini adalah stabilisasi harga kebutuhan pokok di masyarakat sepanjang tahun sampai ke tingkat RT dan RW. Dengan adanya RPK, stabilisasi harga kebutuhan pokok tidak lagi hanya mengandalkan Operasi Pasar BULOG yang terbatas pada momen tertentu.

“Di Jatim, jumlah RPK saat mencapai sekitar 500 unit, tetapi tidak semuanya aktif. Untuk itu, kami berupaya untuk mendata ulang dengan mewajibkan mereka melakukan reaktivasi kembali,” kata Kepala Perum BULOG Divisi Regional Jatim, Khozin di Surabaya.

Selain melalui RPK, upaya BULOG untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok masyarakat adalah dengan melakukan penjualan melalui online. Bekerjasama dengan Shopee, BULOG telah meluncurkan ipangan.com di akhir bulan Maret 2020. Penjualan secara online ini merupakan wujud dukungan BULOG terhadap keputusan pemerintah untuk melarang masyarakat beraktivitas di luar rumah akibat merebaknya virus Corona atau Covid-19 di Indonesia.

Dukungan tersebut diwujudkan dengan kesiapsiagaan Perum BULOG untuk menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat, termasuk dengan melakukan pengiriman sampai rumah konsumen. Tidak hanya di DKI Jakarta, ipangan.com ini juga ada di Jawa Timur, Semarang, Bandung, Jogjakarta, Medan dan Sulawesi Selatan.

Di awal pandemi Covid-19, banyak yang melakukan pemesanan, termasuk untuk untuk bantuan sosial sehingga penjualan bisa mencapai Rp 3 miliar per hari. "Sampai sekarang penjualan online ini masih berjalan. Namun karena masyarakat sudah mulai beraktifitas di luar rumah, maka penjualan tidak banyak. Di wilayah Surabaya, penjualan tiap hari hanya sekitar Rp 2 juta," tambahnya.

Disisi lain, berfungsi sebagai stabilisator harga pangan, khususnya beras, BULOG dituntut selalu menjaga stok beras pada tingkat aman, terutama disaat kebutuhan masyarakat mengalami kenaikan, seperti saat puasa dan lebaran.

Sedang untuk bulan puasa dan lebaran tahun ini, Bulog memastikan stok pangan aman dan tidak ada gejolak. Hingga hari Jumat (16/4/2021) tercatat stok beras di gudang Bulog Jatim mencapai 253 ribu ton. Volume tersebut sangat aman hingga akhir tahun 2021. Terlebih saat ini BULOG tidak memiliki penugasan penyaluran beras untuk masyarakat pra sejahtera (Rastra), tetapi hanya bertugas menyalurkan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di saat terjadi bencana atau disaat melakukan Operasi Pasar (OP).

“Kami terus melakukan koordinasi dengan satgas pangan dan turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan ulang apakah ada lonjakan harga atau tidak. Tetapi sejauh ini semua bahan pokok terpantau stabil, bahkan beras sempat mengalami penurunan karena memasuki musim panen raya,” terang Khozin.

Meski demikian, BULOG tetap melakukan OP melalui cabang-cabang di daerah serta berkoordinasi dengan Dinas terkait untuk menjaga harga dan tidak ada kekosongan di pasar. OP dilakukan melalui RPK, ritel maupun ke pasar dan ke pedagang besar. Sejauh ini, ada beberapa daerah yang sudah melakukan OP, seperti Pamekasan, Kediri dan Jember. Surabaya yang biasa mengalami gejolak harga justru sampai saat ini belum menggelar OP. “Tahun ini adalah tahun paling aman. Ini terlihat dari volume OP kita sejak Januari hingga sekarang hanya mencapai 9.900 ton, padahal biasanya bisa sampai puluhan ribu ton,” tandasnya.

Upaya strategis BULOG lainnya dalam pemenuhan kebutuhan beras agar terjadi keseimbangan suplai dan permintaan adalah menggandeng Pemda di seluruh Jatim. Dalam kerjasama itu, BULOG menyuplai kebutuhan beras Aparatur Sipil Negara (ASN) dan saat ini baru melakukan kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo. Penandatanganan kerjasama dilakukan awal Januari 2021. Sementara dengan Pemda-Pemda lainnya, sudah dilakukan pertemuan dan pembahasan, tetapi mereka masih menunggu teknis kerjasamanya, seperti Bangkalan, Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan Jember.

“Semua masih menunggu. Harapan kami, BULOG bisa men-support beras pegawai negeri. Ini adalah beras premium dengan harga Rp 11 ribu per kilogram karena jatah natura (tunjangan bukan dalam bentuk uang red.) ASN sebesar Rp 11 ribu,”  terang Khozin.

Terpisah, Bupati Probolinggo P. Tantriana Sari, mengungkapkan bahwa penandatanganan kerjasama dengan BULOG tersebut merupakan ikhtiar bersama untuk meneruskan perjuangan dalam upaya menghormati dan menghargai hasil petani khususnya beras di wilayah Kabupaten Probolinggo.

“Saya berkeinginan bagaimana ketersediaan aksesibilitas dan kepastian harga menuju ketahanan pangan terlaksana dengan baik di Kabupaten Probolinggo. Beberapa pekan lalu kami sudah sepakat dengan Perum Bulog sebagai pihak penyedia beras. Hari ini kami ingin menambah kemanfaatan itu untuk ASN dan masyarakat Kabupaten Probolinggo," tutur dia. kbc6

Bagikan artikel ini: