Disuntik stimulus PPnBM, penjualan dan produksi mobil ngegas

Senin, 26 April 2021 | 13:52 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemberlakuan stimulus berupa Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM-DTP) atau PPnBM gratis untuk pembelian mobil baru rupanya mampu menjadi booster bagi pasar otomotif dalam negeri.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan, efek nyata kebijakan diskon PPnBM terhadap penjualan dan produksi mobil.

Dia menyebut, insentif ini berhasil memberikan lonjakan konsumsi atau pembelian kendaraan bermotor mobil baru pada bulan Maret 2021.

Tak tanggung-tanggung, lonjakan orang beli mobil baru mencapai 72,6 persen jika dibandingkan Februari 2021. Adapun secara year-on-year, peningkatan pembelian mobil baru tercatat naik 10,5 persen dari tahun lalu.

“Kita berharap ini akan mendukung terhadap kontribusi pertumbuhan ekonomi,” kata Sri Mulyani.

Tren pertumbuhan konsumsi tersebut sekaligus pertanda baik bagi kepercayaan masyarakat terhadap pulihnya perekonomian. Sri Mulyani optimistis kepercayaan itu memberikan sentimen baik yang akan terus merangsang naiknya tingkat konsumsi ke depan.

“Kita berharap dengan adanya confidence dan kemudian munculnya sentimen, termasuk pembelian mobil ini, akan terus mendorong konsumsi, terutama kelompok rumah tangga kelas menengah atas, yang selama ini memang masih tertahan akibat kondisi Covid,” ucapnya.

Adanya efek dari insentif PPnBM tersebut juga sekaligus mendorong penjualan mobil 4x2 pada Maret 2021 yang sebagian besar adalah objek dari fasilitas PPnBM yang ditanggung pemerintah.

Selain itu, sisi produksi juga menunjukkan adanya permintaan yang melonjak. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan respons yang sangat baik.

“Tumbuhnya 121,2 persen dibandingkan bulan Februari. Jadi, insentif sangat mendorong konsumsi. Artinya stimulus yang diberikan oleh pemerintah melalui fiskal bisa direspons dengan positif dan signifikan, baik dari sisi konsumsi maupun dari sisi produksi ” ujar Sri Mulyani.

Sejalan dengan itu, penjualan mobil pada Maret 2021 telah mendekati rata-rata penjualan pada tahun 2019, sebelum pandemi melanda Indonesia. Kondisi ini diperkirakan akan terus meningkat pada bulan-bulan berikutnya.

“Ini berarti menunjukkan kita mulai menuju kepada situasi normalisasi. Kita berharap ini akan terus bertahan,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah menerapkan insentif PPnBM 0 persen untuk mobil baru dimulai Maret 2021 (PPnBM mobil).

Diskon PPnBM 0 persen ini menggunakan skema ditanggung pemerintah (DTP), dengan besaran diskon sebesar 100 persen di bulan pertama.

Artinya, pada tiga bulan pertama kebijakan ini berlaku, maka pada setiap pembelian mobil baru di bawah 1.500 cc akan digratiskan PPnBM-nya. Untuk tiga bulan berikutnya, besaran diskon yang diberikan sebesar 70 persen, dan tiga bulan terakhir sebesar 50 persen.

Industri otomotif memang merupakan salah satu sektor manufaktur yang terkena dampak pandemi Covid-19 paling besar. Di sisi lain, sektor otomoif jadi salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja.

Karena itu pemerintah memutuskan memberikan insentif fiskal berupa penurunan tarif PPnBM mobil. Pemerintah mengharapkan pemberian insentif berupa PPnBM 0 persen ini diharapkan mampu meningkatkan kembali pembelian dan produksi kendaraan bermotor.

Hal ini diharapkan mampu merangsang daya beli masyarakat sehingga produksi manufaktur otomotif bisa bisa mencapai 81.752 unit secara bertahap atau senilai Rp 1,4 triliun sebagai pemasukan negara.

Kriteria mobil yang dikenai pajak 0 persen dari pemerintah yakni mobil dengan kubikasi mesin kurang dari 1.500 cc dan berpenggerak dua roda alias 4x2, termasuk sedan, yang kandungan lokalnya mencapai 70 persen.

Jenis-jenis mobil yang bisa mendapatkan pembebasan PPnBM 0 persen antara lain jenis kendaraan multi pupose vehicle (MPV) kelas low seperti Daihatsu Xenia, Mitsubishi Xpander, Suzuki Ertiga, Wuling Confero, Toyota Avanza, dan Nissan Livina.

Jenis kendaraan lainnya adalah low cost green car atau LCGC seperti Toyota Agya, Honda Brio Satya, Toyota Calya, Daihatsu Sigra, dan Daihatsu Ayla. Lalu jenis mobil sedan jenis tertentu (PPnBM mobil sedan).

Untuk diketahui, ketika pembelian mobil baru dilakukan, maka akan ada empat jenis pajak mobil baru yang diberlakukan. Pajak tersebut yakni Pajak Pertambahan Nilai/PPN (10 persen), PPnBM (10-125 persen), dan pajak daerah seperti Pajak Kendaraan Bermotor atau PKB (sekitar 2 persen) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor atau BBN KB (10-12,5 persen).

Angkat PMI manufaktur RI

Sementara itu Menteri Perindustrian Agus Gumiwang mengatakan, Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Maret 2021 berada di level tertinggi sejak 10 tahun terakhir yaitu berada di 53,2 poin. Angka tersebut telah meningkat sebesar 2,3 poin dari Februari 2021 yang berada di posisi 50,9 poin.

Agus berpendapat, angka PMI bisa berada di posisi tertinggi karena adanya kebijakan atau stimulus dari Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

"Menurut kami kebijakan PPnBM ini yang memberikan kontribusi yang besar sekali bagi naiknya PMI kita pada bulan Maret dan 53,2 ini sejarah karena PMI kita ini tertinggi," ujarnya.

Menurut dia, relaksasi PPnBM bukan hanya mendorong penjualan saja, namun juga mendorong local purchase. Hal ini pun, kata Agus, bisa memberikan dampak positif bagi komponen pendukung industri otomotif.

"Ini juga memberikan sinyal kepada pelaku industri otomotif karena ini bisa dijadikan preseden di mana kita mendorong industri itu tumbuh lebih cepat karena industri otomotif itu pendukung sangat besar," jelas dia.

Oleh sebab itu, Agus juga mendorong agar para produsen otomotif di Indonesia bisa meningkatkan local purchase atau kandungan lokal, sebab tidak menutup kemungkinan ada kebijakan yang sama di masa akan datang.

"Kita enggak tahu beberapa tahu ke depan, setelah kebijakan ini berakhir kita bisa merumuskan kebijakan yang sama," ucap dia. kbc10

Bagikan artikel ini: