Edukasi petani, jadi kata kunci Asian Agri jalankan peremajaan sawit

Kamis, 29 April 2021 | 13:09 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Asian Agri tengah fokus menjalankan progam replanting (peremajaan) tanaman kepala sawit dengan prinsip pengelolaan perkebunan berkelanjutan . Ini mendesak dilakukan mengingat penamanan dilakukan sejak akhir tahun 1980 -awal 1990 an sehingga telah melewati fase puncak produksi.

Director Sustainability & Stakeholder Relations Asian Agri Bernard Riedo menuturkan total luas kebun inti sawit perusahaan mencapai 100.000 hektare (ha). Menurut Bernard upaya replanting mutlak dilakukan guna melanjutkan kesinambungan bisnis perusahaan.

Setidaknya selama lima tahun terakhir perusahaan melakukan peremajaan secara bertahap di perkebunan sawit baik di Jambi, Riau dan Sumatera Utara.Bernard menekankan perusahaan berkomitmen penerapan replanting dilakukan guna meningkatkan produktivitas dan kualitas Tandan Buah Segar (TBS) tanpa membuka lahan baru.

Ini mutlak dibutuhkan perusahaan untuk menjaga ekosistem lingkungan hidup. "Kebun inti idealnya harus melakukan peremajaan sawit (replanting) sekitar 5.000 ha per tahun," ujar Bernad dalam acara Ngabuburit Virtual di Jakarta, baru-baru ini.

Karena itu Bernard pun mengakui kunci kesuksesan kegiatan replanting juga harus melibatkan partisipasi petani baik plasma maupun mandiri.Menurutnya luas areal sawit petani sudah mencapai 52 % dari total luas perkebunan.

Atas hal tersebut, perusahaan berkepentingan terus memberikan edukasi kepada petani untuk selektif memilh benih sawit bersertifikat. Menurutnya, kemajuan teknologi informasi saat ini memudahkan petani membeli bibit sawit di internet , namun dari legalitas dan kualitas masih dipertanyakan.

Karena itu, pihaknya memberikan solusi bibit unggul Topaz kepada petani dengan potensi rerata diatas produktivitas TBS. Selektifitas memilih bibit TBS akan memberikan dampak yang signifikan pada tingkat pengembalian investasi selama masa hidup pohon sawit selama 25 tahun ke depan.

Bukan hanya penyediaan benih berkualitas, sambung Bernard pihaknya juga terus memberikan dukungan pendampingan dan pelatihan kepada petani, persiapan lahan. Edukasi berlanjut pada kegiatan penanaman bibit sampai kegiatan perawatan dengan praktik agronomi terbaik.

Tidak terkecuali juga kepada petani yang melakukan penanaman pohon sela (pangan) ,sebelum tananam sawit dipanen diusia empat tahun. "Dengan begitu petani masih memperoleh pendapatan," kata dia.

Dari catatannya, kegiatan peremajaan kebun plasma terbilang cukup berhasil dilakukan. Misalnya KUD Bina Usaha, telah melaukan tumbang perdana di Desa Cinta Damai, Tanjung Jabung Barat, Jambi. "Ini sebagai tanda dimulainya replantinf seluas 402 ha," terangnya.

Sementara KUD Manunggal Jaya,Desa Adipurna, Merlung , luas kegiatan peremajaan sebesar 226 hektare (ha). Kemudian, KUD Mulus Rahayu, sudah melakukan replanting tahap kedua seluas 310 ha pada akhir 2020.Produktivitas TBS berhasil melampaui target panen sebesar 25,72 ton per ha, dari sebelumnya berkisar 10-15 ton per ha.

Apabila mengacu data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, biaya replanting sekitar Rp 62 juta per ha. Namun menurut Bernard biaya tersebut akan mampu ditekan apabila luas kegiatan areal replanting pada suatu daerah dapat dimaksimalkan.

Adapun sumber pembiayaan replanting, perusahaan bekerjasama dengan pihak perbankan dan modal sendiri. "Pembiayaan bank baik internasional maupun nasional paling sekitar 70% hingga 80%, namun modal sendiri juga harus ada," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: