Milenial berbasis masjid berpotensi geliatkan ekonomi UMKM

Jum'at, 30 April 2021 | 23:20 WIB ET
Menkop UKM Teten Masduki
Menkop UKM Teten Masduki

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Teten Masduki mendorong para pemuda meningkatkan kontribusi umat muslim dalam pemulihan ekonomi nasional. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui peran pemuda inspirasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) milenial berbasis masjid.

"Ini inisiatif yang bagus dari anak-anak di lingkungan masjid, untuk mengembangkan kegiatan ekonomi berbasis masjid. Mari terus kita perkuat peran para pemuda dalam meningkatkan kontribusi umat islam dalam pemulihan ekonomi nasional," tegas Teten dalam siaran resmi yang diterima, Jakarta, Jumat (30/4/2021).

Diakuinya pemuda merupakan penggerak ekonomi nasional yang besar. Indonesia didominasi oleh Generasi Z atau kelompok usia 9-24 tahun. Jumlah penduduk usia ini mencapai 75,49 juta jiwa atau setara dengan 27,94% populasi. Kelompok berikutnya adalah generasi milenial sebanyak 69,9 juta jiwa atau 25,87% populasi.

Apabila kegiatan ekonomi berbasis masjid dapat dikembangkan, maka akan menjadi jaringan pemasaran produk-produk UMKM. Apalagi, kata Teten, jamaah masjid yang begitu besar, berpeluang besar menjadi pasar untuk masyarakat yang memiliki kegiatan usaha di lingkungan masjid.

"Kalau ini menjadi jaringan pemasaran produk UMKM, maka akan besar sekali. Jamaah masjid besar dan juga banyak masyarakat punya kegiatan usaha yang dipasarkan di sini," jelasnya.

Selain pemasaran, sisi produksi UMKM juga bisa diupayakan dalam ekosistem ini, lewat kegiatan masjid yang dapat dikembangkan. Karena itu, Teten mengapresiasi Dewan Masjid Indonesia yang telah membentuk Indonesia Islamic Youth Economic Forum atau ISYEF, sebuah organisasi otonom untuk memberdayakan pemuda dan ekonomi masjid di Jakarta.

Dia menilai, potensi ekonomi muslim Indonesia sangatlah besar. Indonesia memiliki masjid terbanyak di dunia mencapai 800.000 Masjid, serta potensi zakat-infak sebesar Rp233 triliun/tahun dengan pertumbuhan pengumpulan mencapai 20-25%/tahun.

Data Puskas Baznas RI menunjukan, 55% muzakki sudah menunaikan zakat dan terbanyak menunaikannya di masjid sekitar 37%. Belum lagi, terdapat wakaf atas tanah mencapai luas 435.944 ha sekaligus wakaf uang senilai Rp 217 triliun/tahun. "Masjid dapat melakukan fungsi inkubasi bisnis dengan menumbuhkan mosquepreneur berbasis teknologi dan inovasi bahkan untuk meningkatkan layanan masjid itu sendiri," ujarnya.

MenkopUKM Teten juga menegaskan, pihaknya terus mendukung wirausahan muda dan ekonomi syariah. Misalnya, pembiayaan syariah dari LPDB-KUMKM 2020 telah tersalur sebanyak Rp854 miliar.

Sementara, sampai triwulan pertama 2021 telah pembiayaan yang sama juga telah tersalur sekitar Rp 306 miliar dari target Rp 800 miliar, yang bisa ditingkatkan sampai Rp 1 triliun. Hal tersebut karena permohonan dari Koperasi Syariah atau Baitul Maal wa Tamwil atau BMT masih tinggi. "Selain itu, (terdapat) pengembangan Koperasi Syariah yang merupakan mandat UU No.11/2020 tentang Cipta Kerja Pasal 44A serta pengembangan BMT," paparnya.

Berdasakan data Online Data Sistem Kemenkop-UKM, per 30 Juni 2020, jumlah BMT di Indonesia mencapai 4.115 unit. Torehan itu berhasil meningkat sebesar 51.34% dari 2017 yang hanya sebanyak 2.719 unit. Karenanya, ke depan pemerintah optimistis kegiatan ekonomi berbasis masjid akan menjadi kegiatan ekonomi unggul, bersama dengan program masyarakat ekonomi syariah.

"Pemerintah siapkan model bisnis, bagaimana kegiatan ekonomi berbasis masjid dengan Istiqlal. Namun, produk harus dikurasi akan menjadi kegiatan ekonomi unggul dengan masuk program MES," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: