Waspadalah! Begini bedakan alat tes swab baru dan bekas

Minggu, 2 Mei 2021 | 11:08 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Berita penyalahgunaan alat tes usap (swab) dengan cara mencuci ulang untuk digunakan kembali di Bandara Kualanamu, Sumatra Utara, membuat banyak orang geram. Lantas, bagaimana cara mengidentifikasi penggunaan alat tes swab yang memang masih baru dan penggunaan yang baik dan benar?

Ahli patologi klinik laboratorium Primaya Hospital Karawang yang juga lulusan Universitas Diponegoro Semarang, dr. Hadian Widyatmojo, Sp.PK, mengimbau agar sebelum melakukan swab, baik antigen maupun PCR, masyarakat perlu memastikan alat yang digunakan masih berada di dalam kemasan dan tersegel.

Masyarakat dapat meminta petugas untuk memperlihatkan alat tes PCR atau swab masih baru di dalam kemasan dan dibuka di depan pasien. Petugas juga akan menanyakan ulang nama pasien sebelum melakukan pemeriksaan untuk menghindari kesalahan identitas.

"Anda bisa mencurigai jika tidak melihat alat swab tersebut dibuka dari tempatnya di depan Anda," ujar Hadian seperti dikutip, Sabtu (1/5/2021).

Spesialis patologi klinik Primaya Hospital Bekasi Barat, dr. Dwi Fajaryani, Sp.PK, menambahkan sebelum dilakukan pemeriksaan, petugas perlu menunjukkan kepada pasien alat masih dalam kemasan sebelum dipakai.

"Petugas akan membuka bungkus plastik sesaat sebelum tindakan swab untuk menjaga agar alat tersebut tetap steril dan mencegah kontaminan," ujar Dwi.

Dia juga mengatakan, tidak diperkenankan masyarakat umum untuk membeli alat tes PCR atau swab sendiri karena penggunaan harus dilakukan dan dalam pengawasan tenaga medis ahli.

Sementara itu, spesialis patologi klinik Primaya Hospital Makassar, dr. Selvi Josten Sp.PK, mengatakan seluruh alat swab tidak dapat digunakan kembali. Alat tersebut sekali pakai dan dibuang setelah digunakan.

"Penggunaan reusable alat swab sangat berisiko tinggi pada kesehatan dan penyebaran infeksi COVID-19 kepada pasien lain. Pastikan alat swab tersebut masih baru dan perhatikan perlekatan kemasan harus dalam keadaan sempurna seperti dari pabrik (bukan memakai lem atau selotip)," ujar Selvi.

Selain ditunjukkan dengan alat swab yang tersegel di dalam kemasan, Selvi mengatakan, masyarakat juga dapat memperhatikan indikasi-indikasi lain untuk mendeteksi apakah alat tersebut baru atau lama seperti permukaan swab stik berwarna putih bersih, masih mulus atau tidak kelihatan bergerigi, serta tidak beraroma.

Selama pengambilan betul dan aman serta menggunakan alat yang direkomendasi dan memiliki izin edar, maka hasil pemeriksaan swab tersebut bisa dipertanggungjawabkan. Masyarakat bisa menanyakan izin edar tersebut pada fasilitas kesehatan terkait merek atau tanggal kadaluarsa alat yang digunakan. Umumnya sebuah alat swab bisa bertahan bertahun-tahun dari masa produksi.

"Alat swab harus mempunyai Nomor Izin Edar (NIE) dari Kementerian Kesehatan. Pasien dapat meminta petugas untuk diperlihatkan sertifikat NIE dari vendor alat," ujar Selvi.

Lebih lanjut, selama pemeriksaan swab antigen atau PCR dilakukan oleh petugas yang telah terlatih, maka hasil pemeriksaan dapat dipertanggungjawabkan karena para petugas telah memiliki sertifikat pelatihan. Akurasi hasil dapat diperoleh dari laboratorium yang terstandarisasi serta didukung oleh tenaga terampil dan terlatih. Di samping itu, terdapat dokter spesialis patologi klinik sebagai penanggung jawab hasil pemeriksaan swab, baik antigen maupun PCR.

"Penggunaan alat swab harus dilakukan oleh tenaga terlatih dari laboratorium yang terstandar. Terdapat teknik dan perlakuan khusus mulai saat persiapan, pemeriksaan, hingga pengelolaan limbah infeksius," ujar Selvi.

Adapun penggunaan alat swab yang tepat dengan cara memasukkan ke rongga hidung sampai batas nasofaring, ke rongga mulut sampai batas orofaring, lalu diusap bolak balik dengan stik swab.

"Penggunaan alat swab yang tidak tepat dapat menimbulkan komplikasi berbahaya, termasuk perdarahan hidung," paparnya. kbc10

Bagikan artikel ini: