Berjuang di tengah pandemi, ini yang dilakukan salah satu UMKM di Surabaya

Selasa, 4 Mei 2021 | 12:04 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Tak pernah lekang dari ingatan Andre Afridian, Direktur Utama PT Satu Kolaborasi Menyenangkan – Katering Nikmat Nyata, bagaimana semprotan disinfektan dari mobil Pemadam Kebakaran mengenai kopi dan jajanan yang tengah dinikmati pengunjung di halaman depan kafe miliknya yang berlokasi di jalan Kacapiring Surabaya. Praktis, pengunjung berhamburan menyelamatkan diri, meski sebagian ada yang mengira air yang mendarat di tubuh dan kopi mereka adalah air hujan.

“Awal pandemi kan selalu ada penyemprotan desinfektan. Apalagi kita berada di tengah kota, situasinya lebih mencekam dibanding pinggirran. Saat itu, sekitar pukul 19.00 WIB, saat pengunjung lagi rame,  tiba-tiba ada penyemprotan dari mobil Damkar. Sementara persepsi orang kan berbeda, yang digunakan menyemprot ini air dari mana. Akhirnya ya saya harus ganti,” kenang Andre, saat berbincang dengan kabarbisnis.com, Surabaya, Senin (3/5/2021).

Kejadian seperti itu tidak hanya terjadi sekali, tetapi berulang kali hingga kemudian ada kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang mengakibatkan aktivitas warga berhenti. Hingga kemudian ia bersama istrinya, Dewi Mustika bersepakat untuk menutup kafe tersebut dan tiga kafe lainnya.

“Karena kami tidak tega melihat karyawan menganggur, akhirnya kami mendirikan bisnis catering untuk industri, catering tipe B. Sebenarnya ide bisnis ini sudah lama, tetapi karena terkendala pendanaan akhirnya belum terlaksana hingga kemudian pandemi memaksa kami untuk bermetamorfosis, dari berbisnis kafe ke bisnis catering tipe B karena kami pandang bisnis ini memiliki prospek yang bagus di masa mendatang,” tambah lelaki asli Surabaya tersebut.

Untuk itu, seluruh lisensi yang dibutuhkan langsung mereka urus bersama dengan dimulainya pembangunan gedung agar nantinya saat beroperasi, bisa langsung menjemput pasar yang masih sangat terbuka lebar. Ada sekitar 8 jenis lisensi yang sudah dikantongi, diantaranya adalah ISO 9001-2015 tentang standar manajemen mutu, ISO 22000-2018 Higienis  tentang sistem manajemen keamanan pangan, Sertifikat Halal MUI, Sertifikat Laik Sanitasi Jasa Boga, Sertifikasi Penjamah Makanan dan Sertifikasi Ahli Gizi Makanan Kesehatan.

“Secara obyektif, bisnis ini memiliki kontinuitas tinggi, walau secara harga tidak bisa mematok setinggi kafe, tetapi secara volume banyak. Kami tawarkan ke kawan terdekat untuk berinvestasi, pol investasinya urun dana. Akhirnya di bulan Juni mulai dilaksanakan dan selesai pada September. Oktober kami lakukan uji coba dapur dan di bulan November kami mulai dapat order, walau masih terbatas kantor dan pribadi karena perizinan masih dalam proses. Setelah Dinkes memberikan izin baru kita tancap gas,” tambah Dewi yang menjabat sebagai Komisaris PT PT Satu Kolaborasi Menyenangkan – Katering Nikmat Nyata.

Karena telah berlisensi, seluruh proses produksi dipastikan aman dan menu juga memiliki kandungan gizi yang seimbang. “Secara keamanan, pasti terjaga. Karena mulai dari bahan datang hingga proses masak, selalu dalam pengawasan dan ada SOP nya. Untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan dan menjawab komplain konsumen, setiap menu selalu diambil sampelnya dan diletakkan dalam pendingin. Sampel ini nantinya yang bisa dibawa ke laboratorium untuk diet ketika ada kejadian yang tidak diinginkan,” terang perempuan lulusan ITS tersebut.

Tahap awal, order yang diterima setiap harinya hanya mencapai ratusan paket menu per hari. Dengan berjalannya waktu, order yang masuk saat ini sudah mencapai ribuan paket menu. Sejumlah industry yang sudah menjadi konsumennya diantaranya adalah perusahaan di Gresik dan Margomulyo dengan tiga shift pemesanan dalam setiap harinya. Selain itu juga dari Permakanan Lansia Pemkot Surabaya dan sejumlah perkantoran perbankan serta perkantoran pemerintah provinsi Jatim.

“Kami juga melayani titipan sedekah nasi bungkus untuk orang tidak mampu. Karena masa pandemi dan ada unsur sosialnya, maha harga kami patok sebesar Rp 5 ribu per bungkus dengan lauk seperti telur, tahu, temped an sayur. Awalnya hanya 300 bungkus, kemudian naik hingga kemarin mencapai 8 ribu bungkus per hari dari sekitar 25 donatur,” kata Dewi.

Baik Dewi maupun Andre berpendapat bahwa pandemi bukan alasan untuk UMKM berhenti dan putus asa. Pandemi justru harus menjadi lecutan agar UMKM bisa bertahan dan berkembang, dengan segala upaya yang dilakukan.

“Salah satu langkah yang dilakukan UMKM di saat terjepit sepanjang masa pandemi, adalah hibernasi, tidur sejenak untuk mengatur nafas dan strategi karena pasar belum merespon. Nafas UMKM ini kan tidak panjang layaknya industri lain. Nafas kita hanya dalam hitungan bulan, untuk itu kita perlu mengatur nafas dan strategi,” kata Andre.

Ia berharap, pemerintah tidak hanya memberikan stimulus pendanaan saja sepanjang masa pandemi, namun juga pendampingan dan pelatihan, utamanya tentang teknologi digital. Karena teknologi digital di masa pandemic menjadi sebuah keniscayaan  bagi UMKM untuk bisa tetap hidup dan berkembang. “Mau tidak mau, UMKM harus memulai pola penjualan model baru dengan cara masuk pada teknologi digital,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Umum kadin Jatim Adik Di Putranto mengungkapkan abhwa sertifikasi bagi elaku usaha memang sangat dibutuhkan. Ada dua jenis sertifikasi yang ditekankan, yaitu sertifikasi produk dan sertifikasi Sumber Daya Manusia (SDM) nya. Dua sertifikasi ini menjadi pintu masuk UMKM untuk bisa melakukan ekspor. Namun hingga saat ini, jumlah UMKM yang sudah tersertifikasi sangat kecil. Baik sertifikasi produk maupun sertifikasi SDM, jumlahnya masih kurang dari 10 persen.

“Untuk kompetensi, terkait dengan wirausaha, yang dibutuhkan saat melakukan ekspor mulai dari pemilik hingga karyawan harus memiliki kompetensi. Sehingga mereka menjadi paham syarat yang keluarkan oleh negara yang menjadi tujuan ekspor,” ujarnya.

Untuk itu, Kadin Jatim tengah berkonsentrasi meningkatkan kualitas atau kompetensi SDM UMKM, industri dan tenaga kerja serta mahasiswa melalui pelaksanaan sertifikasi profesi. “Kita sekarang sedang persiapan untuk melatih dan mensertifikasi 20 orang untuk skema sertifikasi bidang pemeriksa produk UKM. Ini terkait dengan program kurasi yang diinisiasi oleh Kadin Kota Kediri. Harapannya nanti, setiap kota akan memiliki 20 tenaga ahli kurasi di setiap kabupaten kota,” terang Direktur LSP Pelaku Usaha Prestasi Diar Kusuma Putra yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Jaringan Usaha Antar Provinsi Kadin Jatim.

Selain pelatihan langsung kepada UMKM, melalui Kadin Institute, Kadin Jatim juga akan melakukan pelatihan mahasiswa yang akan menjadi pendamping UMKM dalam program Kampus Merdeka Belajar. Dalam hal ini, Kadin telah bekerjasama banyak Perguruan Tinggi di wilayah Jatim, diantaranya dengan Unesa Surabaya, Polinema Malang, dan lain sebagainya.  

“Kedepan, nanti arahnya sertifikasi personal, orangnya yang harus disertifikasi. Sertifikasi personal yang diakui internasional saat ini adalah BNSP. Dan kami  berharap, ada sekitar seribu wirausaha yang bisa tersertifikasi di tahun ini. Karena nantinya, untuk transaksi internasional, pasti ada beberapa negara yang akan menanyakan,” pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: