Masih tersengat Covid-19, ekonomi Jatim triwulan I minus 0,44 persen

Kamis, 6 Mei 2021 | 11:57 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pandemi Covid-19 kiranya telah memberikan dampak yang cukup besar pada kinerja perekonomian Jawa Timur. Bahkan di  triwulan I-2021, pertumbuhan ekonomi Jatim  terkontraksi sebesar 0,44 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik Jatim, Dadang Hardiwan mengatakan, dari sisi produksi, beberapa lapangan usaha mengalami pertumbuhan minus atau mengalami kontraksi. Kontraksi terdalam terjadi pada lapangan usaha transportasi dan pergudangan sebesar 13,30 persen, diikuti jasa lainnya sebesar 8,97 persen dan jasa perusahaan sebesar 8,06 persen.

“Pertumbuhan ekonomi secara y-on-y yang masih positif terjadi pada Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi tumbuh sebesar 8,47 persen, diikuti Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang tumbuh sebesar 6,00 persen, dan Jasa Pendidikan tumbuh sebesar 4,89 persen,” ujar Dadang saat memaparkan kinerja ekonomi Jatim secara virtual, Surabaya, Rabu (5/5/2021).

Pertumbuhan lapangan usaha informasi dan komunikasi ini didorong oleh meningkatnya trafik data penggunaan internet sejak pemberlakuan Work From Home (WFH) dan School From Home (SFH) serta pembayaran digital semakin populer sebagai dampak pandemi Covid-19. 

Adapun struktur perekonomian Jatim menurut lapangan usaha riwulan I-2021 didominasi oleh tiga lapangan usaha utama yaitu lapanganu usaha industry pengolahan dengan kontribusi sebesar 30,94 persen, perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 18,68 persen, dan pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 10,84 persen.

Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhannya, lapangan usaha informasi dan komunikasi memiliki sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 0,52 persen, diikuti pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 0,43 persen, serta perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 0,24 persen.

 Apabila dilihat dari segi pengeluaran, maka sebagian besar komponen Produk Domestik Regional Bruto mengalami kontraksi, komponen yang mengalami akselerasi adalah Pengeluaran Konsumsi Pemerintah sebesar 0,53 persen. Komponen pengeluaran konsumsi pemerintah dipengaruhi oleh pembiayaan kegiatan yang wajib dan mendesak seperti kegiatan vaksinasi, dimana capaian vaksinasi di Jawa Timur termasuk dalam urutan tertinggi di Indonesia.

"Komponen yang mengalami kontraksi terdalam adalah ekspor luar negeri sebesar 9,94 persen, disusul PMTB 2,68 persen, kemudian pengeluaran konsumsi rumah tangga 1,92 persen, dan komponen LNPRT 0,14 persen. Turunnya ekspor luar negeri dipicu oleh turunnya ekspor komoditi non migas terutama pada golongan perhiasan/permata. Walaupun ekspor migas tumbuh cukup tinggi namun belum bisa mendongkrak total ekspor triwulan I 2021 jika dibandingkan triwulan yang sama pada tahun 2020," ujarnya.

Adapun komponen PMTB dipengaruhi oleh realisasi belanja modal dan volume pengadaan barang yang mengalami kontraksi. Konsumsi pengeluaran rumah tangga juga turut menurun, pemicu utamanya adalah turunnya sektor transportasi seiring dengan masih diberlakukannya PPKM di beberapa daerah.

"Dampak pandemi juga masih dirasakan oleh pelaku usaha dimana pertumbuhan beberapa lapangan usaha mengalami kontraksi. Pengeluran Konsumsi LNPRT juga mengalami kontraksi, hal ini dipengaruhi oleh pemerintah yang masih fokus terhadap upaya menekan penyebaran Covid-19 dengan melakukan dukungan pada pemberian bansos dan beberapa bantuan lainnya," tambah Dadang.

Sementara itu, impor luar negeri tumbuh positif dipicu dari baik oleh impor migas maupun non migas. Pertumbuhan komoditas impor non migas terutama dipicu oleh kenaikan komoditas pupuk, ampas/sisa industri makanan, gula dan kembang gula.

Impor jasa luar negeri mengalami kontraksi yang dipicu adanya larangan untuk pergi ke luar negeri karena adanya wabah pandemi. Jumlah penumpang yang pergi ke luar negeri mengalami penurunan drastis selama pandemi. Namun dengan kondisi impor barang yang lebih dominan menjadikan impor luar negeri tumbuh positif. "Struktur PDRB Jawa Timur menurut pengeluaran atas dasar harga berlaku triwulan I-2021 tidak menunjukkan perubahan yang berarti," ungkapnya.

Sehingga jika dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Timur triwulan I-2021 (y-on-y), sumber kontraksi terdalam berasal dari komponen ekspor luar negeri sebesar 1,48, diikuti komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga sebesar 1,15 persen, dan komponen PMTB sebesar 0,72 persen.kbc6

Bagikan artikel ini: