Potensi pasar dunia US$22 miliar, RI siap gencarkan ekspor tanaman hias

Sabtu, 8 Mei 2021 | 12:24 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah siap memperkuat ekspor tanaman hias (florikultura), mengingat potensi pasar global mencapai US$22,32 miliar. Potensi pasar tanaman hias di dunia ini bahkan melampaui pasar kopi dan teh.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menuturkan Indonesia memiliki potensi pasar ekspor tanaman hias karena keanekaragaman hayati. Tetapi saat ini, Indonesia baru memenuhi pasar tanaman hias global sebesar 0,1%.

Selain yang tidak kalah menarik juga potensi ekspor benih sayuran ke mancanegara. Menurut Airlangga, hampir semua sayur-sayuran di Indonesia memiliki potensi pasar di luar negeri, terutama di Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Thailand.

Beberapa komoditas yang cukup banyak peminatnya, antara lain kangkung, tomat, buncis, labu, dan kacang panjang. "Ke depan untuk peningkatan ekspor benih bisa ditingkatkan kerja sama beberapa perusahaan benih untuk membuka pasar ekspor dan promosi bersama ke luar negeri dengan fasilitas pemerintah," imbuh Airlangga dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (8/5/2021).

Airlangga menuturkan, bisnis tanaman hias dan benih sayuran tersebut diharapkan bisa menumbuhkan lapangan pekerjaan baru. Namun begitu, keduanya membutuhkan peningkatan inovasi teknologi, pengembangan lahan produksi, standardisasi, dan sertifikasi produk.

Secara umum, sektor pertanian berkontribusi 2,15 % pada ekspor Indonesia di Maret 2021. Ekspor pertanian secara kumulatif pada Januari-Maret 2021 sebesar US$1,05 miliar, naik 14,29% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Khusus untuk nilai ekspor florikultura, tercatat meningkat dalam tiga tahun terakhir. Pada 2018 nilai ekspornya sebesar US$ 12,07 juta. Lalu, naik 12,1% jadi US$ 13,53 juta di 2019. Kemudian, pada 2020 nilai ekspornya naik cukup signifikan menjadi US$19,98 juta.

Guna mendorong ekspor, pemerintah memberikan dukungan melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Eximbank. Bentuk dukungan itu berupa pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) berorientasi ekspor dengan maksimal omzet Rp 50 miliar.kbc11

Bagikan artikel ini: