Antara nasi cepat basi dengan pemupukan urea berlebihan

Rabu, 12 Mei 2021 | 16:47 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Penerapan pemupukan berimbang harus menjadi tema besar untuk edukasi petani.Bukan hanya terkait efiensi pupuk bersubsidi. Pasalnya, konsumen juga kerap dirugikan akibat penggunaan pupuk urea (kimia) yang melewati dosis.

"Pernah kan kita makan nasi rasanya benyek. Atau ketika kita memasak nasi di pagi hari, tapi di sore harinya tetnyata sudah berair atau malah basi. Cepat berubahnya struktur beras ini karena petani menggunakan pupuk urea melebihi dosis. Ini indikasinya. Akibatnya tanaman padi banyak menyimpan unsur nitrogen (N). Pemupukan pupuk urea yang berlebihan bukan hanya membuat biaya usaha yang dipikul petani lebih tinggi. Konsumen juga dirugikan," ujar Kepala Balai Penelitan Tanah Balitbangtan) Ladiyani Retno Widowati menjawab kabarbisnis.com usai webinar Forwatan bertema "Peningkatan Produksi Pertanian dengan Pemupukan Berimbang" di Jakarta, Rabu (12/5/2021).

Menurut Ladiyani, sedianya penggunaan pupuk berkontribusi 30-40% terhahap hasil produksi. Penggunaan pupuk urea memang akan mempercepat pertumbuhan tanaman.Sementara dari sisi tampilan daun warnanya lebih hijau.

Namun, penggunaan pupuk urea berlebihan beresiko tinggi terkena organisme penggangu tanaman (OPT). Pasalnya, tanaman mengandung lebih banyak mengandung unsur protein yang memicu kedatangan hama.

Bukan hanya itu, mutu beras yang dihasilkan menjadi turun, prosentase butir patah semakin banyak. Tingginya unsur N pada beras, menyebabkan usia penyimpanan lebih pendek sehingga rentan rusak karena dihinggapi kutu.

Karena itu, sambung Ladiyani Balitbangtan merekomendasikan pengunaan pupuk berimbang. Target produktivitas pertanian penting diacu. Namun, mutu dari hasil pertanian juga harus menjadi perhatian.

Edukasi pemupukan pupuk berimbang harus terus digencarkan. Karena bukan hanya petani yang dirugikan, masyarakat selaku konsumen beras juga mengalami hal serupa. Menurutnya, para penyuluh dan Pemerintah Daerah beperan besar atas pengawalan dan keberhasilan program.

Apalagi dari sisi keuangan negara kian berat menanggung subsidi pupuk. Tiap tahunnya paling tidak harus menyediakan budget di Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) antara Rp 27 triliun-30 triliun. Adapun di tahun ini jumlah subsidi jauh berkurang menjadi Rp 25,2 triliun dengan total volume 8,9 juta ton.

Ladiyani pun mengungkapkan, petani di Jawa Timur kerap menggunakan pupuk urea berlebihan. Misalnya, untuk meraih produksi 6 ton gabah kering panen dalam 1 ha, maka cukup dibutuhkan pupuk bersubsidi tidak tidak lebih sebanyak 250 kg. Namun dalam praktiknya, petani menggunakan dosis pupuk urea hingga 400 kg.

Menurutnya, sejatinya praktik bertani seperti ini segera diubah. Penggunaan pupuk urea yang berlebihan dapat merusak kesuburan tanah. Urea akan mengakibatkan tanah menjadi masam yang mengakibatkan penyerapan unsur hara tertentu menjadi terhambat.

Setidaknya hal itu terkonfirmasi dari data Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) 2018 yang menyebutkan, setidaknya 70% dari 8 juta hektare (ha) lahan sawah di Indonesia statusnya kurang sehat. Artinya, sekitar 5 juta ha sawah memiliki kandungan bahan organik yang rendah.

Karena itu, dengan penerapan pola pemupukan berimbang secara bertahap akan mengembalikan fungsi hara pada tanah. Dari sejumlah ujicoba, petani yang sudah mengadopsinya terdapat potensi kenaikan produktivitas 1-2 ton /ha. "Concern kita adalah usaha tani yang berkelanjutan," terangnya.

Indonesia sangat kaya keragaman tanah, dari ujung Sabang sampai Merauke. Setiap tanah memiliki tingkat kesuburan berbeda. Karena itu, kebutuhan pupuk setiap tipe tanah berbeda-beda.

Kepala Subdirektorat (Kasubdit) Pupuk Bersubsidi Kementan Yanti Ermawati mengatakan, pihaknya terus mengampanyekan konsep pemupukan berimbang yang mengacu pada kebutuhan hara tanah dan jenis tanamannya. Dosis unsur Nitrogen (N), Phospor (P), dan Kalium (K) atau.15 : 10 :12 diberikan sesuai kondisi tanah dan jenis tanamannya.

"Pemupukan berimbang dengan konsep tepat mutu, tepat jumlah, dan tepat jenis mampu meningkatkan produktivitas pertanian. Daya saing produk pertanian pun meningkatkan karena tercipta efisiensi biaya produksi," terangnya seraya hal itu merujuk amanah UU No 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani.kbc11

Bagikan artikel ini: