SoftBank dan Alibaba kuasai kepemilikan saham di GoTo

Senin, 24 Mei 2021 | 12:07 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Grup GoTo, perusahaan baru yang dibentuk hasil dari penggabungan atau merger startup raksasa Gojek dan Tokopedia dimiliki oleh SoftBank asal Jepang dan Alibaba asal China. Kedua perusahaan menjadi pemilik saham terbesar.

Perusahaan raksasa telekomunikasi dan investasi SoftBank memiliki 15,3 persen saham GoTo, sementara e-commerce raksasa Alibaba sebesar 12,6 persen. Keduanya juga merupakan investor di Tokopedia.

Seperti dilansir dari Nikkei Asia, Minggu (23/6/2021), hal tersebut diketahui dari sebuah dokumen pengajuan GoTo kepada pihak otoritas yang di dapat oleh perusahaan media asal Jepang tersebut.

Berdasarkan dokumen itu, hanya SoftBank dan Alibaba investor yang memiliki porsi saham dua digit di GoTo. Sementara porsi saham investor lainnya hanya satu digit, termasuk investor global seperti Google dan Temasek Singapura, yang juga punya saham di Gojek dan Tokopedia.

Adapun setelah merger, sebesar 58 persen saham GoTo dimiliki Gojek, sementara sisanya 42 persen dimiliki Tokopedia.

Rencanannya GoTo akan melakukan penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO) di bursa saham Indonesia dan Amerika Serikat. Menurut sumber Nikkei Asia kemungkinan GoTo akan melantai di bursa saham Indonesia terlebih dulu.

Perusahaan pun dikabarkan mengincar valuasi mendekati 40 miliar dollar AS atau setara Rp 572 triliun (kurs Rp14.300 per dolar AS), nilai yang telah dicapai pesaingnya, Grab.

"Perusahaan akan bekerja sangat keras untuk integrasi pasca-merger dan kemudian mempersiapkan dual listing ini (di AS dan Indonesia). Saya sangat berharap ini akan terjadi di 2021, tetapi saat ini mereka punya banyak pekerjaan," ujar sumber Nikkei Asia.

Analis The Economist Intelligence Swarup Gupta menilai, penggabungan Gojek dan Tokopedia bertujuan untuk memperbesar pasar mereka di Indonesia. Sekaligus untuk mampu bersaing dengan rivalnya yakni Sea Group dan Grab.

"Saya percaya bahwa merger mungkin datang terlambat, karena ini bisa lebih merupakan kasus melindungi wilayah dalam negeri (Indonesia) dari pesaing yang jauh lebih besar (Sea dan Grab), yang dapat menghambat upaya untuk tumbuh di (Asia Tenggara). Oleh karena itu, merger lebih terlihat sebagai langkah defensif pada saat ini," jelas Gupta. kbc10

Bagikan artikel ini: