Pengenaan biaya di ATM Link dinilai sebuah kemunduran J

Senin, 24 Mei 2021 | 12:57 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Himpunan bank milik negara (Himbara) memutuskan untuk memberlakukan biaya transaksi cek saldo dan tarik tunai pada ATM Link mulai 1 Juni 2021. Adapun tarif yang diberlakukan pada transaksi cek saldo menjadi Rp 2.500 dan tarik tunai menjadi Rp 5.000.

Menurut ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Ebi Junaidi, hal itu merupakan langkah mundur menurut saya, karena pada awalnya keberadaan Link untuk ciptakan efisiensi sehingga meningkatkan kepuasan konsumen. Bila dulu, keempat bank Himbara yakni BRI, BNI, BTN, dan Mandiri menyediakan mesin ATM di tempat yang sama, maka akan dikenakan biaya investasi yang sama mulai dari mesin hingga penyewaan tempat.

"Bila mereka hanya menggunakan satu ATM berlogo Link, hanya satu ATM saja, maka keempat nasabah dari Bank Himbara bisa menggunakan ATM tersebut. Berarti biaya investasinya seperempat dari awalnya, sehingga pengenaan biaya ke nasabah juga lebih murah," jelas Ebi seperti dikutip, Minggu (23/5/2021).

Menurut dia, kolaborasi yang dilakukan oleh Himbara dalam membangun jaringan ATM berlogo Link memberikan efisiensi dan membentuk kekuatan pasar (market power) lewat jaringan ATM Link. Ebi menilai selama ini, Bank Himbara tidak mengenakan biaya.

"Masalahnya mereka apakah akan menggunakan market power tadi untuk mengenakan biaya atau tidak? Padahal kan untuk menggunakan ATM dikenakan biaya, buka akun bank dikenakan biaya, sekarang cek saldo juga dikenakan biaya. Sementara jumlah ATM semakin berkurang, ini menjadi tidak baik untuk dilakukan," tambahnya.

Lebih jauh dia menyatakan, bila alasannya agar masyarakat lebih banyak melakukan transaksi digital, Ebi menilai tidak semua masyarakat Indonesia memiliki kemampuan bertransaksi secara digital. Mulai dari keterbatasan ponsel pintar hingga akses internet di seluruh Indonesia.

"Orang yang menggunakan layanan ATM adalah masyarakat yang tidak tech savvy, mereka yang memiliki penghasilan lebih rendah sehingga harus ke ATM secara rutin," tuturnya.

Ebi berkaca pada sistem perbankan yang ada di Inggris. Ia menyebut, di negara itu nasabah bisa menggunakan ATM milik bank apa saja untuk melakukan transaksi tanpa dikenakan biaya. Namun transaksi akan dikenakan bila penyedia layanan dimiliki oleh industri keuangan non bank.

Dia melihat jika alasan Bank Himbara mengenakan biaya pada cek saldo dan tarik tunai dengan alasan untuk kesehatan bisnis sehingga bisa berkelanjutan. Ebi menilai langkah ini malah menghalangi inklusivitas di tengah masyarakat.

Ebi mencontohkan, fintech Flip yang membebaskan transaksi antar bank lewat platform telah mencatatkan transaksi hingga triliunan. Dia menilai hal ini menunjukkan banyak masyarakat keberatan untuk biaya transfer antar bank Rp 6.500.

"Mereka mau bersusah-susah untuk membuka akun di Flip dan transaksi tidak langsung lewat Flip. Ada biaya waktu, mereka mau dibandingkan bayar Rp 6.500. Sehingga mereka tidak mampu dan tidak mau membayar transaksi itu," tambahnya. kbc10

Bagikan artikel ini: