Ekstra waspada, tingkat penularan virus Covid-19 mutasi India 3 kali lipat

Kamis, 27 Mei 2021 | 20:26 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono mengungkapkan virus SARS-CoV-2 varian mutasi B.1.617 dari India terbukti memiliki tingkat penularan sekitar tiga kali lipat dari virus penyebab covid-19 yang ada. Hal ini dapat dilihat dari kasus yang terjadi di Cilacap.

Dante menguraikan, beberapa waktu lalu sebuah kapal milik Filipina berlabuh di Cilacap, Jawa Tengah. Kapal itu sempat berlabuh di India sebelum tiba di Indonesia. Dari 20 anak buah kapal (ABK) yang diperiksa, ternyata 14 di antaranya positif Covid-19. "Kami lakukan pemeriksaan screening genomic. Ternyata ada 14 kasus mutasi," ucap Dante saat Rapat Kerja dengan Komisi IX DPR secara virtual di Jakarta, Kamis (27/5/2021).

Selanjutnya dilakukan pemeriksaan pada tenaga kesehatan yang memeriksa seluruh ABK dari kapal itu. Ternyata, 31 tenaga kesehatan positif Covid-19, padahal mereka menggunakan alat pelindung diri (APD) saat memeriksa ABK kapal Filipina itu.

Tracing dilakukan pada keluarga semua tenaga kesehatan tersebut. Kemudian didapati 12 orang yang tertular covid-19. Tracing pun dilanjutkan merunut 12 kasus ini, sehingga ditemukan enam kasus positif. Dengan demikian jumlah kasusnya menjadi 49 orang.

"Kalau dari 14 kasus menjadi 49 kasus, artinya laju penularannya kira-kira 3,35 kali lipat. Dibandingkan dengan target kita seharusnya kurang dari 0,9 atau paling tinggi satu, kalau kita ingin mendefinisikan kasus itu tidak menular secara berat," terangnya.

Dante menuturkan, varian B.1.617 adalah mutasi yang dikategorikan oleh WHO sebagai variants of concern. Kemenkes mencatat saat ini ada 54 kasus mutasi variants of concern di Indonesia, sebanyak 35 di antaranya berasal dari migrasi dari luar atau kasus impor.

"Sedangkan 19 di antaranya tidak ada kontak dengan Indonesia. Artinya, bahwa sudah ada penyebaran kontaminasi lokal untuk variant of concern yang terjadi secara mutasi. Jadi mutasi sudah terjadi di beberapa provinsi di Indonesia," imbuh Dante.

Lebih lanjut, Kemenkes juga meningkatkan upaya genomic surveillance secara nasional yang melibatkan 17 institusi. Antara lain LIPI, LBM Eijkman, BPPT, Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, dan Institut Teknologi Bandung.

Pelatihan Whole Genome Sequencing (WGS) bagi laboratorium anggota jejaring juga terus diperkuat. Kemudian mengintensifkan upaya tracing pada daerah-daerah dengan kasus variants of concern dan pada titik-titik kedatangan orang dari luar negeri.

"Pintu-pintu masuk negara untuk kedatangan luar negeri juga diidentifikasi secara tracing yang baik. Kemudian kerja sama dengan mitra luar negeri untuk mendapat beberapa variants of concern yang baru," tegasnya.

Dante berharap mutasi SARS-CoV-2 kategori variants of consequence belum dan tidak akan masuk ke Indonesia. Berbeda dengan variants of concern, mutasi variants of consequence dapat memengaruhi kinerja vaksin dan pengobatan yang selama ini ada.

"Jangan sampai kita mempunyai kasus variants of consequence. Oleh karena itu, kita terus berusaha melakukan kerja sama dengan mitra di luar negeri, dengan GISAID, WHO, dan US CDC untuk melihat kalau-kalau ditemukan variants of consequence," pungkas Dante.kbc11

Bagikan artikel ini: