Covid-19 belum usai, flu unta ancam jadi pandemi baru

Kamis, 10 Juni 2021 | 11:59 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Tim peneliti internasional baru-baru ini menemukan fakta yang cukup merisaukan karena adanya ancaman pandemi yang disebabkan oleh sindrom pernapasan Timur Tengah atau Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV). Dalam laporan berjudul Proceedings of the National Academy of Sciences, tim peneliti itu menyimpulkan bahwa MERS-CoV atau yang akrab disebut flu unta tinggal menunggu satu mutasi lagi untuk menjadi ancaman pandemi.

Diketahui MERS-CoV pertama kali diketahui pada 2012 diTimur Tengah. Dari pengujian yang dilakukan didapatkan fakta bahwa virus tersebut sangat berbahaya. Sedikitnya 40 persen dari pasien yang mengalami sindrom pernapasan Timur Tengah meninggal dunia karena mengalami infeksi. Peneliti juga melihat bahwa infeksi mayoritas disebabkan oleh unta-unta Arab yang terinfeksi. Selain itu terdapat bukti bahwa unta-unta Arab itu telah terinfeksi oleh kelelawar.

Meski mengkhawatirkan, penyebaran MERS-CoV tidak mendapatkan perhatian khusus karena memang terlihat tidak bisa menyebar melalui interaksi manusia ke manusia. Sejak penyebaran pertama terjadi pada 2012, para peneliti telah menemukan bahwa hingga 80% unta-unta Arab yang telah diuji memiliki antibodi untuk MERS-CoV. Unta-unta Arab itu sendiri bukan unta-unta yang memang ada di kawasan Timur Tengah.Alih-alih 70 persen dari unta-unta itu didatangkan dari Afrika.

Hal ini mengarah pada fakta bahwa banyak orang Afrika yang justru tidak terinfeksi oleh MERS-CoV. Untuk mengetahuinya, para peneliti mengumpulkan sampel virus di berbagai tempat di Timur Tengah dan Afrika guna mencari variannya. Mereka mengelompokkan orang-orang dari Afrika dan Timur Tengah ke dalam kelompok taksonomi yang berbeda.

Selanjutnya, mereka membandingkan sampel secara genetik dalam sebuah laboratorium menggunakan sel paru-paru manusia. Mereka menemukan bahwa varian yang berasal dari kelompol taksonomi Arab mudah menular ke manusia, sedangkan varian yang dikumpulkan di Afrika tidak mudah menular.

Mereka juga menemukan adanya perbedaan antara varian-varian tersebut dikarenakan asam amino dalam protein S. Diketahui varian Afrika ternyata memiliki asam amino yang sama dan sangat mudah menginfeksi sel manusia. Hanya saja hal itu tidak terjadi karena unta-unta tersebut dijual secara satu arah ke wilayah Timur Tengah.

Hal inilah yang membuat virus MERS-CoV belum bermutasi untuk menginfeksi manusia adalah karena perdagangan dromedaris—hampir satu cara, dengan hewan yang diperdagangkan dari Afrika ke Timur Tengah. Resiko bisa trerjadi jika cara perdagangannya berlaku sebaliknya dimana unta atau hewa lain dari kawasan Timunr Tengah diperdagangkan ke Afrika. Hal ini yang diyakini dapat memicu pandemi yang mematikan. kbc10

Bagikan artikel ini: