Jamkrindo catat penjaminan kredit UMKM Rp6,5 triliun dalam program PEN

Kamis, 10 Juni 2021 | 12:11 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Jaminan Kredit Indonesia (Persero) atau Jamkrindo mencatat telah melakukan penjaminan kredit modal kerja untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam program pemulihan ekonomi nasional (PEN) sebesar Rp 6,52 triliun pada periode Januari-April 2021.

"Sampai April 2021, kami sudah menjamin pembiayaan atau kredit untuk program PEN kurang lebih Rp 6,5 triliun," ujar Kepala Divisi Manajemen Risiko dan Pemeringkatan UMKM, Konsultasi Manajemen (PUKM) Jamkrindo Ceriandri Widuri dalam konferensi pers virtual, Rabu (9/6/2021).

Menurut dia, capaian tersebut masih akan terus meningkat. Sebab, bila dibandingkan dengan realiasi tahun 2020, di mana Jamkrindo baru mulai menyalurkan penjaminan pada semester kedua, total penjaminan kredit untuk program PEN mencapai Rp 8 triliun.

"Ini Insyaallah masih dinamis dan kemungkinan pertumbuhannya akan bagus karena memang UMKM sangat membutuhkan dukungan pemerintah untuk restrukturisasi kredit," kata dia.

Restrukturisasi kredit bagi UMKM merupakan salah satu program pemerintah dalam PEN untuk menekan dampak pandemi Covid-19 terhadap UMKM yang mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban pembiayaannya. Sementara Jamkrindo sendiri akan memfasilitasi penjaminan kredit pada program PEN tersebut.

"Jadi ini (restrukturisasi kredit) silakan dimanfaatkan oleh teman-teman UMKM yang mengalami kesulitan terhadap penyelesaian kredit," ungkapnya.

Selain melakukan penjaminan untuk program PEN, Jamkrindo juga melakukan penjaminan untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang sepanjang Januari-April 2021 telah mencapai Rp 40,65 triliun.

Sebagai perusahaan penjaminan kredit yang merupakan anggota holding Indonesia Financial Group (IFG), Jamkrindo juga telah melakukan pemeringkatan atau skoring terhadap pelaku UMKM.

Skoring ini akan menunjukkan UMKM potensial yang layak kredit dan layak jamin kepada mitra penerima jaminan yaitu lembaga keuangan, baik bank maupun non-bank. Pelaku UMKM sendiri dapat mendaftar melalui aplikasi UMKM Layak.

Platform tersebut berfungsi membantu UMKM mendapatkan akses pelatihan, pembinaan, serta sebagai alat analisa kelayakan usaha UMKM yang sekaligus mempertemukan dengan lembaga keuangan penyalur kredit.

Ceriandri mengatakan, hingga Mei 2021 dari 16.000 UMKM yang mendaftar pemeringkatan, baru sekitar 2.000 UMKM yang sudah terskoring. Hal ini disebabkan masih banyak UMKM yang tak melengkapi data administrasi yang diperlukan.

"Banyak UMKM yang masuk ke sistem kita untuk mendaftar, tapi untuk pemeringkatan diperlukan data finansial maupun non-finansial. Jadi UMKM perlu input data-data ayang harus dipenuhi, tapi sebagian besar tidak mengisi secara lengkap, sehingga data skoring tidak bisa difinalkan," jelas dia. kbc10

Bagikan artikel ini: