Udang, primadona ekspor dan investasi perikanan Jatim

Kamis, 10 Juni 2021 | 21:53 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memasang target akslerasi produksi dan ekspor udang sebesar 250% di 2024.

Salah satu caranya ialah dengan mendorong investasi swasta, baik melalui pengembangan tambak secara intensifikasi dan ekstensifikasi, maupun dengan membangun industri pengolahan udang yang mampu menciptakan nilai tambah.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyebutkan pasar udang dunia US$ 24 miliar per tahun merupakan peluang yang sangat besar bagi Indonesia. Pasar udang yang menjanjikan serta sudah adanya teknologi untuk meningkatkan produksi, menjadi alasannya untuk mengembangkan komoditas perikanan tersebut.

Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Artati Widiarti mengatakan udang vaname termasuk jenis udang unggulan yang akan dijadikan prioritas dalam mencapai target produksi udang nasional. Terlebih komoditas ini sangat potensial dikembangkan untuk membangkitkan perekonomian.

Investasi pada udang vaname semakin mudah dengan tersedianya teknologi budi daya, dukungan infrastruktur dasar maupun pendukung, akses dan peluang pasar yang terbuka, keberpihakan regulasi serta adanya kemudahan akses pembiayaan yang lebih terjamin.

"Untuk itu Ditjen PDSPKP bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Pasuruan menggelar forum promosi investasi dengan tema pacu minat investasi pada usaha budi daya udang vaname serta pelatihan peningkatan kapasitas kelembagaan usaha hasil kelautan dan perikanan menuju korporasi usaha, di Pasuruan awal pekan ini," ujar Artati di Jakarta, Kamis,(10/6/2021).

Menurut Artati, usaha budi daya udang dapat dilakukan hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Selain itu, udang merupakan komoditas bernilai ekonomi tinggi dan mudah dipasarkan. Hal ini tercermin dari nilai ekspor komoditas perikanan tertinggi adalah udang.

"Produksi udang budi daya pada 2019 mencapai 517.397 ton.Dengan total nilai ekspor komoditas udang sebesar US$1,72 miliar," ujar Artati.

Khusus kinerja investasi kelautan dan perikanan nasional pada 2020, Provinsi Jawa Timur menempati peringkat pertama dengan realisasi investasi mencapai Rp 1,53 triliun. Adapun investasi komoditas udang di Jawa Timur mencapai Rp 140,1 miliar dan di Kabupaten Pasuruan realisasi investasi mencapai Rp 188,79 miliar. "Di Pasuruan 100% dikontribusikan oleh bidang usaha pengolahan," urai Artati.

Sementara Direktur Usaha dan Investasi Ditjen Catur Sarwanto menyebut udang menempati urutan pertama untuk komoditas ekspor di Provinsi Jawa Timur dengan volume ekspor sebesar 83,02 ton. Jumlah ini tumbuh 23,10% pada periode 2019-2020 dengan nilai ekspor mencapai US$755,62 juta atau 60,35% dari total nilai ekspor.

"Untuk mendorong investasi di sektor kelautan dan perikanan, KKP terus berupaya untuk mengundang calon investor untuk berinvestasi, antara lain melalui penyelenggaraan promosi dan forum investasi, serta pendampingan investor," jelas Catur seraya berharap forum yang akan digelar di Kabupaten Pasuruan dapat menarik minat para calon investor untuk menanamkan modalnya.

Di kesempatan sama Wakil Bupati Pasuruan Abdul Mujib Imron menuturkan wilayah yang dipimpinnya memiliki ketersediaan lahan usaha budi daya vaname seluas 4.996 hektare (ha) dengan lokasi potensial yang terletak di empat kecamatan yaitu Lekok, Rejoso, Kraton, dan Bangil. "Khusus kali ini, lahan yang siap digunakan seluas 190 ha dengan nilai total investasi sekitar Rp 543 miliar," tutur Mujib.kbc11

Bagikan artikel ini: