Ekonomi syariah tumbuh merekah di tengah pandemi

Jum'at, 25 Juni 2021 | 13:42 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Selama pandemi ekonomi syariah Indonesia disebut berkinerja lebih baik dari Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional. Jika diwakili oleh sektor prioritas dalam Halal Value Chain (HCV), kinerja ekonomi syariah secara umum lebih baik dibandingkan tingkat kontraksi PDB nasional.

Deputi Direktur Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia (BI), Diana Yumanita menjelaskan, terdapat lima sektor utama HCV yang menurut bank sentral dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di sektor lainnya, antara lain pertanian, makanan dan minuman halal, pariwisata ramah muslim, fashion muslim dan energi baru dan terbarukan.

"Selama pandemi, pertumbuhan di lima sektor prioritas tersebut memang terkontraksi, tapi nilainya jauh lebih rendah dibandingkan kontraksi PDB nasional," ujar Diana dalam diskusi Mikro Forum Syariah, Kamis (24/6/2021).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan dua sektor prioritas HCV yaitu sektor pertanian, tumbuh sebesar 1,85 persen dan makanan halal 1,58 persen. Jika dibandingkan, sepanjang tahun 2020 PDB nasional tumbuh -2,07 persen, sedangkan pertumbuhan sektor HVC sebesar -1,72 persen.

Diana memaparkan, industri makanan dan minuman halal pangsanya cukup besar, mencapai 13 persen dari konsumsi makanan halal dunia. Indonesia hampir menguasai 13 persen produk halal dunia karena dengan menggunakan seleksi komoditas, hampir 95 persen ekspor makanan Indonesia masuk ke dalam kategori makanan halal.

"Sampai tahun ini masih cukup besar ekspor komoditas. Itu sudah halal karena belum banyak yang diolah, kecuali ada proses yang harus dilihat lagi, tetapi ini hampir bisa dikatakan semua halal," kata Diana.

Merujuk pada data ekspor komoditas makanan non haram pada tahun 2018 -2019, ditemukan bahwa beberapa mengalami peningkatan keunggulan komparatif. Komoditas kelapa sawit masih mendominasi eskpor produk halal dengan pangsa pasar sebesar 45 persen, disusul oleh komoditas udang beku sebesar 5,5 persen.

"Sertifikasi halal juga, selama periode Covid-19 permintaan terhadap sertifikasi halal tetap ada dan cencderung mengalami peingkatan," ujarnya.

Sementara modest fashion Indonesia masih bertengger di nomor 3 setelah UEA dan Turki, namun sektor ini diyakini dapat mendongkrak industri halal tanah air. Desainer, Founder Fashion Brands & Pembina Industri Kreatif, Amy Atmanto mengatakan, tren global dalam pengeluaran untuk modest fashion dunia tertinggi adalah di Turki dengan total belanja US$29 miliar, disusul UAE dengan pengeluaran US$23 miliar dan Indonesia dengan total pengeluaran US$21 miliar.

Sementara total world spending untuk pakaian Muslim pada 2018 bertumbuh 4,8 persen dari US$270 miliar menjadi US$283 miliar. Di tahun 2024 diperkirakan spending untuk Moslem dan clothing apparel akan tumbuh sebesar enam persen mencapai US$402 miliar.

"Saya menggunakan istilah modest fashion untuk mendorong mindset kita untuk dapat mengeksplorasi wilayah- wilayah kreatif beyond traditional moslem outfit. Dengan istilah ini kita tidak dibatasi oleh konsepsi umum tentang busana Muslim (gamis, abaya, kaftan)," ungkapnya.

Mengutip State of the Global Islamic Economic Report – Driving the Islamic economy revolution 4.0, Amy menuturkan, Indonesia merupakan pasar domestic nomor tiga terbesar dengan US$21 triliun. Selain itu, gaya desain Indonesia diterima di dunia.  Karena itu dia yakin industri halal termasuk didalamnya modish fashion, bisa menjadi pemantik ekonomi nasional.

"Kita mendominasi pencarian googling dengan keyword moslem fashion, hasilnya Indonesia 77 persen, 15 persen Malaysia, dan sisanya Inggris, India dan negara lain. Ini membuktikan Indonesia mendominasi fashion muslim," jelasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: