India bebaskan BM anti dumping benang sintetis Indonesia

Jum'at, 25 Juni 2021 | 22:49 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah India memutuskan untuk membatalkan pengenaan Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) untuk produk Viscose Spun Yarn (VSY) atau benang sintetis. Keputusan tersebut tertuang dalam Office Memorandum F. No. 354/154/2020 yang diterbitkan pada 6 April 2021.

Keputusan ini memberikan kesempatan ekspor tekstil ke India makin terbuka luas. Dengan terbitnya putusan ini, rekomendasi keputusan akhir Directorate General Trade Remedies (DGTR) India yang terbit 30 Desember 2020 dinyatakan tidak diterapkan. Artinya, eksportir Indonesia tidak dikenakan BMAD sebesar USD0,25/kg hingga US$ 0,44 per kg.

"Pembatalan ini membuka peluang untuk meningkatkan ekspor VSY ke India semakin besar. Ini menjadi kabar gembira terutama bagi industri tekstil sebagai salah satu industri andalan Indonesia. Pembatalan ini juga merupakan faktor pendukung pemulihan ekonomi yang menjadi salah satu fokus pemerintah di kala pandemi," ujar Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi di Jakarta, Jumat (25/6/2021).

Plt Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Indrasari Wisnu Wardhana menjelaskan Indonesia merupakan salah satu pemain utama produk VSY di dunia. Ia bilang dengan pembatalan BMAD ini, Indonesia tidak akan kehilangan momentum untuk tetap mempertahankan dan bahkan meningkatkan ekspor produk VSY terutama ke India. "Ke depan, Pemerintah akan terus berkomitmen dalam mengatasi berbagai macam hambatan akses pasar produk ekspor Indonesia," tutur Wisnu.

Direktur Pengamanan Perdagangan Pradnyawati menjelaskan produk VSY sudah memiliki pasar yang cukup besar di India. Indonesia menjadi negara ekspor terbesar kedua ke India setelah Tiongkok. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja ekspor VSY Indonesia ke India mencapai nilai tertinggi pada 2019 sebesar USD49,3 juta. Nilai ekspor ini sempat turun menjadi USD32,6 juta pada 2020.

Sementara itu, periode Januari-April 2021, nilai ekspor VSY Indonesia ke India tercatat sebesar US$11,92 juta atau turun 0,72 persen dibandingkan periode yang sama pada 2020 yang sebesar US$12 juta.

"Pembatalan rekomendasi pengenaan BMAD ini jarang dilakukan oleh India. Untuk itu, kami sangat mengapresiasi keputusan Pemerintah India tersebut. Setelah adanya pembatalan ini, kami harapkan eksportir atau produsen produk VSY Indonesia akan mampu menggenjot ekspor ke India," pungkas Pradnyawati.kbc11

Bagikan artikel ini: