Ekonom ungkap dampak inflasi jika tarif PPN dinaikkan

Rabu, 30 Juni 2021 | 15:28 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Rencana pemerintah menaikkan pajak pertambahan nilai (PPN) dinilai dapat memberi dampak pada pergerakan harga di dalam negeri.

Berdasarkan hitungan Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman, setiap kenaikan tarif PPN sebesar 1 persen, diperkirakan akan menghasilkan tambahan inflasi di kisaran 0,2 persen hingga 0,3 persen poin.

Sehingga, bila PPN dinaikkan dari 10 persen ke 12 persen, maka akan ada potensi pertambahan inflasi sebesar 0,4 persen hingga 0,6 persen poin.

"Namun, kenaikan PPN ini masih rencana dan jika dilakukan paling cepat tahun depan. Sehingga, kami prediksi di 2022 inflasi akan bergerak di kisaran 3,10 persen yoy, atau lebih tinggi dari perkiraan 2,28 persen yoy pada tahun ini," jelasnya seperti dikutip, Selasa (29/6/2021).

Pergerakan inflasi pada tahun depan sebenarnya mengalami penurunan tekanan. Hal ini didorong oleh kemungkinan harga komoditas yang cenderung melemah dipengaruhi arah kebijakan Federal Reserve.

"Di tahun depan The Fed diprediksi akan hawkish. Biasanya, harga komoditas cenderung melemah ketika terjadi tapering. Salah satu komoditasnya adalah emas," tambahnya.

Akan tetapi, ini bukan berarti inflasi di tahun depan akan bebas risiko. Selain dari kemungkinan peningkatan harga setelah ada kenaikan PPN, risiko inflasi datang dari imported inflation.

Imported inflation yang lebih besar diperkirakan terjadi kalau ada pelemahan nilai tukar rupiah seiring dengan normalisasi kebijakan moneter dari The Fed.

"Selain itu, jika herd immunity tercapai dan mobilitas masyarakat meningkat, juga akan ada potensi demand pull inflation," pungkas dia. kbc10

Bagikan artikel ini: