Sejumlah komoditas alami penurunan harga, Jatim deflasi 0,14 persen pada Juni 2021

Jum'at, 2 Juli 2021 | 08:00 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Laju Indeks Harga Konsumen (IHK) atau inflasi di wilayah Jawa Timur pada Juni 2021 tercatat mengalami deflasi 0,14 persen. Deflasi dipicu akibat adanya penurunan harga di sebagian besar komoditas yang dipantau pada tingkat konsumen selama bulan Juni 2021 di delapan kota IHK Jawa Timur.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 0,14 persen yaitu dari 105,77 pada bulan Mei 2021 menjadi 105,62 pada bulan Juni 2021. Tingkat inflasi tahun kalender Juni 2021 sebesar 0,89 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Juni 2021 terhadap Juni 2020) sebesar 1,19 persen.

"Dari sebelas kelompok pengeluaran, tiga kelompok mengalami deflasi dan delapan kelompok lainnya mengalami inflasi. Kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi tertinggi yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,84 persen, diikuti kelompok transportasi sebesar 0,47 persen dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,06 persen," tutur Kepala BPS Jatim Dadang Hardiwan saat jumpa pers virtual, Surabaya, Kamis (1/7/2021).

Ia menjelaskan, kelompok pengeluaran yang memberikan andil atau sumbangan deflasi yang cukup besar adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,20 persen dan kelompok transportasi sebesar 0,06 persen.

"Beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga pada Juni 2021 antara lain angkutan udara, daging ayam ras, cabai rawit, cabai merah, ikan mujair, tarif kereta api, melon, pepaya, bawang merah dan ayam hidup," tambahnya.

Sementara enam kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi yaitu kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,52 persen, diikuti kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,34 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,29 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,26 persen, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,16 persen, kelompok pendidikan sebesar 0,11 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,05 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,02 persen.

"Sumbangan inflasi tertinggi dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yaitu sebesar 0,04 persen, disusu kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,03 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,02 persen, serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, kelompok kesehatan dan kelompok pendidikan masing-masing sebesar 0,01 persen. Sedangkan kelompok yang memberikan andil inflasi/deflasi sangat kecil adalah kelompok pakaian dan alas kaki, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan, serta kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya," terangnya.

Deflasi terjadi pada hamper seluruh kota perhitungan IHK, ada tujuh kota mengalami deflasi dan satu kota mengalami inflasi. Kota yang mengalami deflasi tertinggi yaitu Sumenep sebesar 0,58 persen, kemudian diikuti Banyuwangi sebesar 0,30 persen, Madiun sebesar 0,21 persen, Surabaya dan Probolinggo sebesar 0,17 persen, serta Kediri dan Jember sebesar 0,10 persen. Sedangkan kota yang mengalami inflasi yaitu Malang sebesar 0,08 persen.

Jika dibandingkan tingkat inflasi Tahun Kalender (Januari - Juni 2021) di delapan kota IHK Jawa Timur, Surabaya merupakan kota dengan inflasi Tahun Kalender tertinggi yaitu mencapai 1,00 persen, sedangkan kota yang mengalami inflasi Tahun Kalender terendah adalah Malang sebesar 0,44 persen.kbc6

Bagikan artikel ini: