Pembiayaan multifinance tahun ini diprediksi turun 5 persen, ini alasannya

Rabu, 7 Juli 2021 | 11:41 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksi pembiayaan multifinance pada tahun 2021 ini bakal terkontraksi 1 persen hingga 5 persen. Pasalnya, mayoritas masyarakat membeli kendaraan bermotor secara tunai.

"Pembelian kendaraan bermotor tapi banyak tunai. Banyak milenial lebih suka beli kendaraan bermotor tunai," ungkap Wimboh dalam Webinar Mid Year Economic Outlook, Selasa (6/7/2021).

Data OJK menunjukkan realisasi piutang pembiayaan minus 13,6 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp362,71 triliun per Mei 2021. Sementara, angkanya juga turun tipis 0,54 persen secara bulanan (month to month/mtm) jika dibandingkan posisi April 2021 yang sebesar Rp364 triliun.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno mengatakan pembiayaan multifinance sulit tumbuh tahun ini. Pasalnya, penjualan mobil tahun ini diprediksi hanya 750 ribu unit atau lebih rendah dari posisi sebelum 2020.

"Piutang (pembiayaan) kami harap terus tumbuh bahkan seperti sebelum 2020. Tapi ini tidak akan terjadi karena penjualan mobil diprediksi hanya 750 ribu unit, sebelum 2020 sekitar 1 juta unit," kata Suwandi.

Dengan demikian, dia memperkirakan piutang multifinance minus tahun ini. Namun, Suwandi tak menyebut angka secara rinci.

"Jadi masih minus, kontraksi kalau melihat enam bulan pertama yang terjadi saat ini," kata Suwandi.

Sementara, dia menjelaskan program restrukturisasi pembiayaan multifinance terus berjalan. Berdasarkan data monitoring APPI, terdapat pengajuan restrukturisasi dari debitur sebanyak 5,75 juta kontrak dengan total outstanding pokok sebesar Rp180,92 triliun dan bunga Rp48,87 triliun.

Suwandi merinci kontrak yang permohonannya masih dalam proses sebanyak 261.185 kontrak dengan total outstanding sebesar Rp7,58 triliun dan bunga Rp1,83 triliun serta kontrak yang disetujui untuk restrukturisasi 5,13 juta kontrak dengan total outstanding pokok sebesar Rp164,42 triliun dan bunga Rp44,76 triliun.

Sementara, kontrak yang permohonannya tidak sesuai dengan kriteria sebanyak 352.897 kontrak dengan total outstanding pokok sebesar Rp8,91 triliun dan bunga sebesar Rp2,28 triliun. kbc10

Bagikan artikel ini: